“Awalnya cuma lewat di FYP. Lama-lama jadi hafal selebrasinya, tahu klubnya, bahkan ikut nonton pertandingannya.”

Belakangan ini, nama Erling Haaland semakin sering muncul di media sosial. Menariknya, bukan hanya di akun yang membahas sepak bola, tetapi juga di FYP pengguna yang sebelumnya tidak pernah mencari konten olahraga.

Mulai dari ekspresinya yang datar setelah mencetak gol, selebrasi meditasi yang ikonik, wawancara dengan jawaban-jawaban spontan, hingga momen-momen lucunya bersama rekan setim, semuanya menjadi bahan konten yang terus berputar di TikTok, Instagram Reels, hingga X.

Akibatnya, banyak orang yang awalnya tidak tertarik dengan sepak bola justru mulai penasaran dengan sosok Haaland.

Dari Potongan Video Menjadi Rasa Penasaran

Dulu, untuk mengenal seorang pemain sepak bola, seseorang harus menonton pertandingan selama 90 menit.

Sekarang, cukup dengan video berdurasi 15 hingga 30 detik.

Algoritma media sosial membuat momen-momen paling menarik dari seorang atlet lebih mudah ditemukan. Penonton tidak harus memahami aturan offside atau statistik pertandingan. Mereka cukup menikmati sisi menghibur dari seorang pemain.

Lama-kelamaan, rasa penasaran itu berkembang.

“Dia main di klub apa?”

“Besok tanding lawan siapa?”

“Emang dia sebagus itu?”

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah banyak orang akhirnya mulai mengikuti pertandingan sepak bola.

Dari Haaland kita jadi tau bahwa atlet modern tidak hanya dikenal karena prestasinya.

Kepribadian juga menjadi daya tarik.

Video-video yang viral sering kali bukan golnya, melainkan tingkah lakunya. Misalnya saat ia bercanda dengan rekan setim, memberikan jawaban singkat yang mengundang tawa, atau bereaksi dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Sisi inilah yang membuat Haaland terasa lebih dekat dengan publik.

Bahkan orang yang tidak mengikuti Liga Inggris tetap mengenalnya karena sering muncul di media sosial.

Media Sosial Mengubah Cara Orang Menikmati Olahraga

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah cara orang mengenal dunia olahraga.

Banyak penggemar baru tidak datang karena menonton pertandingan secara utuh, tetapi karena terlebih dahulu mengenal para pemain melalui konten-konten singkat yang viral.

Setelah merasa terhubung dengan sosok atlet tersebut, barulah mereka tertarik mengikuti pertandingan, memahami aturan permainan, hingga mendukung klub atau tim tertentu.

Dengan kata lain, FYP kini menjadi “pintu masuk” bagi banyak orang untuk mengenal olahraga.

Erling Haaland membuktikan bahwa di era digital, seorang atlet tidak hanya bermain untuk penonton di stadion.

Mereka juga hadir di layar ponsel jutaan orang melalui potongan-potongan konten yang menghibur.