Kalian juga ngerasa 2016 tuh ‘lebih enak’ dibanding sekarang?

Pertanyaan ini mungkin sering muncul di berbagai platform media sosial belakangan ini. Menariknya, bukan hanya satu atau dua orang yang merasakannya banyak dari Gen Z mulai kembali mengangkat tren, estetika, dan momen yang populer di era 2016. Fenomena ini tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi juga membuka peluang baru dalam dunia komunikasi kreatif.

 

Memahami Nostalgia dalam Perspektif Komunikasi

Nostalgia merupakan perasaan rindu terhadap masa lalu yang umumnya berkaitan dengan pengalaman emosional yang menyenangkan. Dalam konteks komunikasi, nostalgia memiliki peran penting dalam membangun kedekatan antara pesan yang disampaikan dengan audiens.

Menurut penelitian dalam bidang pemasaran, nostalgia dapat meningkatkan brand affinity, kepercayaan, hingga keputusan pembelian, terutama pada audiens Gen Z yang sangat aktif secara digital. Selain itu, nostalgia marketing juga terbukti mampu menciptakan keterikatan emosional yang kuat antara brand dan konsumen (ResearchGate).

Bagi Gen Z, tahun 2016 sering dianggap sebagai fase awal dalam mengeksplorasi dunia digital masa di mana media sosial terasa lebih sederhana, spontan, dan tidak terlalu terkurasi. Hal ini menjadikan era tersebut memiliki nilai emosional yang kuat.

 

Tren Ikonik Era 2016 yang Kembali Viral

Kembalinya tren 2016 tidak lepas dari berbagai elemen khas yang dulu sempat populer dan kini dihidupkan kembali oleh Gen Z, di antaranya:

  1. Filter Anjing Snapchat (Dog Filter)

Filter anjing di Snapchat menjadi salah satu simbol awal penggunaan augmented reality dalam media sosial. Pengalaman visual yang playful dan spontan ini kini kembali diadaptasi oleh kreator sebagai bentuk nostalgia digital.

  1. Era ly

Sebelum TikTok berkembang pesat, Musical.ly menjadi platform utama untuk konten lipsync dan dance. Format sederhana ini kini kembali diminati karena dianggap lebih autentik dan relatable.

  1. Tren Lipsync dan Dance Challenge

Konten lipsync dan dance sederhana menjadi identitas media sosial 2016. Pola ini terus berkembang dan bahkan menjadi fondasi utama konten di platform modern saat ini.

  1. Aesthetic & Tone Foto 2016

Gaya edit foto dengan tone hangat, grainy, overexposed, serta filter khas seperti VSCO kembali populer. Visual yang tidak terlalu “sempurna” ini justru memberikan kesan lebih jujur dan dekat dengan audiens.

Mengapa Era 2016 Kembali Relevan?

Beberapa faktor yang mendorong fenomena ini antara lain:

  1. Kejenuhan terhadap Dunia Digital

Gen Z yang hidup di era digital yang serba cepat mulai mengalami “digital fatigue”. Bahkan, tren terbaru menunjukkan adanya kecenderungan Gen Z untuk kembali ke pengalaman yang lebih sederhana dan analog sebagai bentuk pelarian dari overload teknologi.

  1. Siklus Tren Kreatif

Dalam industri kreatif, tren bersifat siklikal. Apa yang pernah populer memiliki kemungkinan untuk kembali, terutama jika dikemas dengan pendekatan baru.

  1. Kebutuhan akan Autentisitas

Gen Z semakin menghargai konten yang terasa genuine. Estetika 2016 yang lebih raw dianggap lebih autentik dibandingkan konten yang terlalu polished.

Selain itu, studi menunjukkan bahwa sekitar 72% Gen Z memiliki preferensi terhadap elemen nostalgia dalam branding, yang menunjukkan kuatnya daya tarik tren ini (Lex Localis).

 

Strategi Brand dalam Memanfaatkan Nostalgia

Fenomena ini dapat dimanfaatkan oleh brand sebagai strategi komunikasi yang efektif, antara lain:

  1. Mengadaptasi Elemen Visual Klasik

Menggunakan kembali tone warna, filter, atau gaya visual khas 2016 dapat menciptakan rasa familiar secara instan.

  1. Kampanye Throwback

Mengangkat kembali tren seperti lipsync atau dance challenge sederhana dapat meningkatkan engagement karena sifatnya yang relatable.

  1. Storytelling Emosional

Konten yang mengangkat pengalaman masa lalu audiens terbukti lebih engaging karena melibatkan emosi.

  1. Kolaborasi dengan Kreator

Menggandeng kreator yang memahami tren lama dapat membantu menciptakan konten yang lebih autentik.

Penelitian juga menunjukkan bahwa nostalgia dapat meningkatkan purchase intention dan willingness to pay, menjadikannya strategi yang tidak hanya emosional tetapi juga berdampak secara bisnis (Taylor & Francis Online).

 

Relevansi bagi Mahasiswa Creative Communication

Bagi mahasiswa Creative Communication, fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana tren dapat diolah menjadi strategi komunikasi yang efektif. Tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami insight di baliknya.

Kemampuan untuk menggabungkan kreativitas, data, dan pemahaman audiens merupakan kompetensi penting yang dikembangkan dalam program Creative Communication di BINUS University.

Kembalinya tren era 2016 menunjukkan bahwa masa lalu memiliki peran penting dalam strategi komunikasi modern. Dari filter Snapchat hingga tren lipsync dan aesthetic foto, semuanya menjadi bagian dari memori kolektif yang kini dihidupkan kembali.

Dengan pendekatan yang tepat, nostalgia tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga strategi komunikasi yang efektif untuk membangun koneksi emosional, meningkatkan engagement, dan mendorong keputusan konsumen di era digital.