User Generated Content atau UGC secara sederhana adalah konten yang dibuat dan disebarkan oleh pengguna melalui media sosial. Pada awalnya, UGC dipahami sebagai bentuk partisipasi publik dan kreativitas digital. Namun, dalam beberapa waktu ini, sejumlah konten justru memicu kemarahan netizen Indonesia karena dianggap tidak etis, manipulatif, atau sengaja memancing emosi publik.

Source: Freepik

Fenomena ini sering terjadi ketika sebuah brand atau kreator membuat konten yang menyinggung isu sensitif, memanfaatkan keresahan sosial, atau menggunakan strategi pemasaran yang terlalu eksplisit. Misalnya, beberapa waktu lalu sebuah brand fashion lokal menjadi sorotan karena membuat konten yang menyinggung standar kecantikan dengan pendekatan yang dinilai merendahkan kelompok tertentu. Alih alih dianggap kreatif, konten tersebut justru menuai kritik karena dianggap tidak sensitif terhadap realitas sosial.

Contoh lain yang kerap muncul adalah ketika brand membuat konten yang seolah-olah personal dan relatable, tetapi kemudian publik menyadari bahwa konten tersebut hanyalah strategi pemasaran terselubung. Ketika netizen merasa “ditipu” atau dimanipulasi secara emosional, respons yang muncul sering kali berupa komentar sinis seperti “ujung ujungnya marketing.” Reaksi ini menunjukkan adanya kecurigaan publik terhadap motif komersial di balik konten yang terlihat autentik.

 

Mengapa UGC Bisa Memicu Kemarahan?

  1. Pelanggaran Ekspektasi Audiens

Dalam teori Expectancy Violations, Burgoon menjelaskan bahwa individu memiliki ekspektasi tertentu terhadap perilaku komunikasi. Ketika ekspektasi tersebut dilanggar, respons emosional yang muncul cenderung negatif. Dalam konteks UGC, audiens mengharapkan kejujuran dan sensitivitas. Ketika konten dianggap manipulatif atau tidak empatik, pelanggaran ekspektasi tersebut memicu kemarahan kolektif (Burgoon, 1993).

  1. Persepsi Manipulasi dan Hilangnya Keaslian

UGC sering dipandang autentik karena berasal dari pengguna biasa. Namun, ketika konten ternyata merupakan bagian dari strategi pemasaran tersembunyi, tingkat kepercayaan publik dapat menurun drastis. Penelitian Lou dan Yuan (2019) menunjukkan bahwa persepsi keaslian sangat memengaruhi kepercayaan dan sikap audiens terhadap konten digital. Ketika keaslian dipertanyakan, respons negatif lebih mudah muncul.

  1. Dinamika Cancel Culture dan Digital Shaming

Media sosial memungkinkan reaksi publik menyebar secara cepat dan masif. Konsep cancel culture menjelaskan bagaimana individu atau brand dapat “dibatalkan” secara kolektif akibat satu konten yang dianggap bermasalah. Menurut Ng (2020), cancel culture di ruang digital sering kali menjadi bentuk kontrol sosial yang lahir dari kemarahan kolektif dan solidaritas daring.

  1. Algoritma dan Polarisasi Emosi

Algoritma media sosial cenderung mendorong konten dengan tingkat interaksi tinggi. Konten yang memicu emosi kuat, termasuk kemarahan, sering kali mendapatkan engagement lebih besar. Hal ini mempercepat penyebaran kontroversi dan memperluas dampaknya. Fenomena ini sejalan dengan temuan bahwa emosi moral seperti kemarahan memiliki kecenderungan viral yang lebih tinggi dibandingkan emosi netral (Brady et al., 2017).

Source: https://fair-indonesia.com/ugc-marketing-vs-influencer-marketing/

Dampak terhadap Ruang Publik Digital

Fenomena kemarahan terhadap UGC menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang publik digital tempat opini individu dapat berubah menjadi tekanan kolektif. Konsep public sphere dari Habermas menekankan bahwa ruang publik idealnya menjadi tempat diskusi rasional. Namun dalam praktiknya, diskursus digital sering kali dipenuhi emosi dan polarisasi (Habermas, 1989).

Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan meningkatnya kesadaran publik terhadap etika komunikasi digital. Netizen tidak lagi menjadi audiens pasif. Mereka aktif mengkritik, mengevaluasi, dan bahkan memberi sanksi sosial terhadap konten yang dianggap melanggar norma.

 

Kesimpulan

UGC memiliki peran penting dalam membentuk dinamika komunikasi digital. Namun, ketika konten dinilai manipulatif, tidak sensitif, atau terlalu komersial, reaksi netizen dapat berubah menjadi kemarahan kolektif. Fenomena ini memperlihatkan bahwa di era digital, keaslian dan etika komunikasi menjadi kunci utama dalam membangun kepercayaan publik. Tanpa keduanya, konten yang dimaksudkan untuk menarik perhatian justru dapat berbalik menjadi krisis reputasi.

 

 

 

Referensi

Brady, W. J., Wills, J. A., Jost, J. T., Tucker, J. A., & Van Bavel, J. J. (2017). Emotion shapes the diffusion of moralized content in social networks. Proceedings of the National Academy of Sciences, 114(28), 7313–7318. https://doi.org/10.1073/pnas.1618923114

Burgoon, J. K. (1993). Interpersonal expectations, expectancy violations, and emotional communication. Journal of Language and Social Psychology, 12(1–2), 30–48.

Habermas, J. (1989). The structural transformation of the public sphere. MIT Press.

Lou, C., & Yuan, S. (2019). Influencer marketing: How message value and credibility affect consumer trust and purchase intention. Journal of Interactive Advertising, 19(1), 58–73.

Ng, E. (2020). No grand pronouncements here: Reflections on cancel culture and digital media participation. Television & New Media, 21(6), 621–627.