Selama bertahun-tahun, sistem informasi terutama dipahami sebagai alat pencatat transaksi, penghasil laporan, dan penyedia dashboard. Fungsinya penting, tetapi cenderung pasif: sistem menyajikan data, manusia yang harus menafsirkan dan bertindak. Kini pola itu mulai berubah. Dengan integrasi AI, sistem informasi bergerak menuju bentuk yang lebih aktif, yaitu sistem yang tidak hanya menampilkan informasi, tetapi juga membantu menafsirkan, merangkum, merekomendasikan, dan bahkan mengeksekusi bagian dari alur kerja. Inilah arah yang sering disebut sebagai decision intelligence.

OpenAI mencatat bahwa adopsi AI perusahaan meningkat pesat karena organisasi mulai memasukkan AI ke dalam repeatable, multi-step workflows lintas fungsi dan unit bisnis. Laporan mereka menyebut bahwa OpenAI kini melayani lebih dari 7 juta ChatGPT workplace seats, sementara kursi ChatGPT Enterprise meningkat sekitar 9 kali secara tahunan. Ini penting karena menunjukkan bahwa AI di perusahaan tidak lagi diposisikan hanya sebagai asisten percobaan, tetapi mulai menjadi bagian dari infrastruktur kerja sehari-hari.

Gambar 1. Ilustrasi transformasi sistem informasi dari dashboard tradisional menuju decision intelligence yang mendukung rekomendasi, otomatisasi alur kerja, dan insight prediktif.

Yang lebih menarik lagi, integrasi AI kini semakin terstruktur. OpenAI melaporkan bahwa pengguna mingguan Custom GPTs dan Projects naik sekitar 19 kali sepanjang tahun berjalan, dan sekitar 20% seluruh pesan Enterprise diproses melalui Custom GPT atau Project. Artinya, perusahaan tidak hanya memakai AI untuk bertanya sesekali, tetapi mulai mengemas pengetahuan institusi dan langkah-langkah kerja ke dalam asisten yang bisa dipakai berulang kali. Pada titik inilah sistem informasi berubah dari arsip digital menjadi mesin operasional yang lebih hidup.

Di sisi lain, laporan yang sama juga menunjukkan adanya kesenjangan adopsi yang besar. Frontier workers menggunakan tool data analysis 16 kali lebih banyak daripada pekerja median di fungsi analitik, dan pada pekerjaan coding selisih penggunaannya mencapai 17 kali. Ini menandakan bahwa manfaat AI tidak otomatis dirasakan merata; ia sangat bergantung pada desain sistem, budaya penggunaan, dan kualitas integrasi. Karena itu, vendor enterprise juga mengubah produk mereka. Microsoft menggambarkan Dynamics 365 sebagai rangkaian aplikasi cloud cerdas untuk ERP dan CRM, sementara Oracle menekankan AI agents yang tertanam langsung di proses dan transaksi bisnis harian.

Masa depan sistem informasi tampaknya tidak lagi berhenti pada visualisasi data. Sistem akan makin berperan sebagai partner operasional: mengumpulkan konteks, menyiapkan analisis, mengusulkan tindakan, menjalankan langkah standar, lalu menyerahkan kasus-kasus kompleks ke manusia. Namun justru karena perannya makin aktif, kebutuhan terhadap data berkualitas, governance, audit trail, dan akuntabilitas juga akan makin tinggi. Jadi, sistem informasi masa depan bukan sekadar lebih pintar. Ia harus lebih dapat dipercaya, lebih terhubung dengan proses bisnis, dan lebih jelas batas tanggung jawabnya.

 

 

Referensi