When Closeness Feels Scary: Attachment Issue di Balik Gaya Hubungan Anak Muda

Pernah nggak sih kamu merasa makin dekat dengan seseorang justru bikin kamu gelisah? Mungkin kamu takut kehilangan, takut ditinggalkan, atau malah merasa sesak ketika hubungan terasa terlalu intens. Di media sosial, istilah attachment issue sering muncul sebagai semacam “diagnosis populer” setiap kali seseorang sulit membuka diri atau terlalu bergantung pada pasangan. Namun di balik istilah yang viral itu, sebenarnya ada teori psikologi yang sudah lama dibahas, yaitu attachment theory atau teori keterikatan.
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh John Bowlby pada tahun 1950-an. Ia berpendapat bahwa hubungan awal antara anak dan pengasuh utamanya berperan besar dalam membentuk cara individu memahami kelekatan dan rasa aman di masa depan. Mary Ainsworth kemudian memperdalam teori ini melalui eksperimennya yang dikenal dengan Strange Situation. Dari sana muncul tiga gaya keterikatan utama: secure (aman), anxious (cemas), dan avoidant (menghindar). Individu dengan secure attachment cenderung merasa nyaman dalam hubungan yang dekat dan mampu menyeimbangkan kedekatan dengan kemandirian. Sebaliknya, individu dengan anxious attachment sering merasa takut ditinggalkan, mudah gelisah jika tidak mendapat kepastian, dan sering mencari validasi terus-menerus. Sementara itu, mereka yang memiliki avoidant attachment biasanya kesulitan mengekspresikan emosi, menjaga jarak dalam hubungan, dan merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional. Dalam versi modernnya, peneliti menambahkan gaya keempat, yaitu disorganized attachment, yang ditandai dengan campuran rasa takut dan keinginan untuk dekat secara bersamaan.
Kalau kita lihat dari konteks anak muda zaman sekarang, konsep ini sangat relevan. Banyak orang di generasi ini tumbuh di lingkungan yang penuh perubahan, ekspektasi tinggi, dan paparan media sosial yang hampir tanpa henti. Faktor-faktor tersebut dapat memperkuat pola keterikatan tertentu, terutama pada hubungan romantis atau pertemanan yang intens. Misalnya, seseorang dengan anxious attachment mungkin akan merasa cemas jika pasangannya lama membalas pesan, terlalu memikirkan makna di balik chat yang singkat, atau terus mencari tanda-tanda cinta lewat stories dan likes. Sebaliknya, individu dengan avoidant attachment sering kali justru menutup diri ketika hubungan mulai terasa serius, berkata “aku butuh waktu sendiri,” atau tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan. Kedua pola ini tampak bertolak belakang, tetapi sesungguhnya berasal dari kebutuhan yang sama: keinginan untuk merasa aman dalam hubungan.
Di era digital, fenomena ini semakin terlihat jelas. Kedekatan di dunia maya bisa terasa semu. Kita bisa tahu banyak tentang seseorang tanpa benar-benar mengenalnya secara emosional. Survei dari Pew Research Center pada tahun 2023 menemukan bahwa lebih dari 60% anak muda mengaku bahwa hubungan romantis di era digital rentan terhadap miskomunikasi dan overthinking. Istilah seperti ghosting, breadcrumbing, atau love bombing pun kini akrab di telinga kita, menunjukkan betapa rumitnya pola hubungan modern yang dipengaruhi oleh teknologi dan kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Media sosial bisa menjadi ruang untuk validasi diri, tetapi juga memperkuat rasa tidak aman, terutama bagi mereka dengan pola keterikatan cemas atau menghindar.
Untuk memahami dan mengatasi attachment issue, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah menyadari pola hubungan kita sendiri. Banyak orang baru menyadari gaya keterikatannya setelah refleksi mendalam atau melalui sesi konseling psikologis. Mengenali bagaimana kita bereaksi terhadap kedekatan dan jarak dalam hubungan bisa menjadi titik awal perubahan. Misalnya, ketika kita merasa panik saat seseorang menjauh, itu bisa menjadi sinyal bahwa kita memiliki kecenderungan anxious attachment. Sebaliknya, jika kita sering menghindari keterbukaan emosional atau merasa tidak nyaman saat seseorang terlalu peduli, bisa jadi kita memiliki kecenderungan avoidant attachment.
Selain mengenali pola, penting juga untuk belajar membangun komunikasi yang terbuka dan sehat. Menyampaikan kebutuhan emosional tanpa menyalahkan pasangan dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih aman. Kita juga perlu belajar memberi ruang yang sehat bahwa kedekatan tidak selalu berarti kehilangan kebebasan, dan jarak tidak selalu berarti penolakan. Dalam beberapa kasus, terapi psikologis dapat membantu seseorang memahami akar dari pola keterikatan yang terbentuk sejak masa kecil, serta membantu membangun pola yang lebih aman. Seperti yang dikatakan Bowlby, “What cannot be communicated to the mother cannot be communicated to the self.” Pola keterikatan yang sehat memang tidak terbentuk dalam semalam, tetapi bisa dipelajari dengan kesadaran, waktu, dan keinginan untuk berubah.
Pada akhirnya, di balik istilah “attachment issue” yang sering kita temui di media sosial, tersimpan dinamika psikologis yang kompleks. Anak muda zaman sekarang bukan tidak mampu mencintai, tetapi sering kali takut mencintai dengan tenang. Mereka haus akan koneksi, namun juga cemas akan kehilangan. Memahami gaya keterikatan bukan tentang memberi label pada diri sendiri, melainkan tentang memahami bagaimana masa lalu membentuk cara kita menjalin hubungan hari ini. Dengan kesadaran dan refleksi, kita bisa belajar menciptakan hubungan yang lebih sehat baik dengan orang lain, maupun dengan diri sendiri.
Referensi:
- Bowlby, J. (1969). Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.
- Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
- Pew Research Center. (2023). How Young Adults Navigate Relationships in the Digital Era.
Comments :