Di era media sosial, tren datang dan pergi dengan sangat cepat. Salah satu fenomena terbaru yang sedang ramai diperbincangkan adalah velocity trend, terutama di TikTok dan Instagram Reels. Velocity trend merujuk pada video pendek dengan pengaturan kecepatan tertentu dengan mempercepat atau memperlambat bagian video yang membuat konten terlihat lebih dinamis, menarik, dan cepat menyebar. Fenomena ini bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga mencerminkan pola baru komunikasi digital yang semakin visual dan partisipatif (DetikJateng, 2025; Kompas.com, 2025).

 

I.   Apa Itu Velocity Trend?

Velocity trend adalah teknik editing video yang membuat visual bergerak lebih cepat atau lambat sesuai efek yang diinginkan. Pengguna biasanya memanfaatkan teknik ini untuk:

  • Membuat video dance atau challenge menjadi lebih dramatis.
  • Menonjolkan momen tertentu dalam video sehingga lebih “klik-able”.
  • Menarik perhatian audiens dalam waktu singkat.

Keunggulan tren ini adalah kemampuannya menyebar dengan cepat. Algoritma platform sosial menampilkan konten tersebut kepada pengguna yang memiliki minat serupa, sehingga tren dapat viral dalam hitungan jam (Jurnalis TV, 2025).

 

II.   Velocity Trend dan Diffusion of Innovations

Penyebaran cepat velocity trend dapat dianalisis melalui teori Diffusion of Innovations karya Everett M. Rogers. Teori ini menjelaskan bagaimana inovasi atau ide tersebar di masyarakat melalui berbagai tahapan: dari inovator, early adopter, hingga mayoritas.

Dalam konteks media sosial, tren tidak hanya dipengaruhi oleh influencer besar, tetapi juga diperkuat algoritma platform yang menampilkan konten kepada audiens yang relevan. Konten yang mudah ditiru dan menarik memiliki peluang lebih besar untuk diadopsi secara luas, sehingga tren velocity menjadi fenomena viral yang cepat tersebar (Azizah & Fajri, 2025).

 

III. Audiens Aktif dan Uses and Gratifications Theory

Velocity trend juga sejalan dengan Uses and Gratifications Theory, yang menyatakan bahwa audiens bersifat aktif dalam memilih media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti hiburan, informasi, interaksi sosial, atau ekspresi diri (Jayanti & Prasetyo, 2025).

Pengguna TikTok atau Instagram tidak hanya menonton video, tetapi juga aktif membuat konten sendiri, menyesuaikan teknik velocity untuk:

  • Mengekspresikan kreativitas.
  • Meningkatkan interaksi sosial melalui komentar dan share.
  • Memperkuat identitas digital.

Dengan kata lain, velocity trend memungkinkan audiens berpartisipasi secara aktif dalam budaya digital, bukan sekadar menjadi konsumen pasif.

 

 

Sumber: https://www.freepik.com/free-vector/person-addicted-social-media_6591659.htm#from_element=cross_selling__vector

IV.   Agenda Setting dan Tren Viral

Fenomena velocity trend juga dapat dianalisis melalui teori agenda setting, yang menjelaskan bagaimana media memengaruhi apa yang dianggap penting oleh publik.

Media sosial modern menggunakan algoritma untuk menyoroti konten populer, sehingga tren velocity sering menjadi pusat perhatian audiens. Hal ini memicu diskusi dan interaksi di kalangan pengguna, yang kemudian memperkuat posisi tren tersebut dalam perhatian publik (Efridah & Nirmala, 2025).

 

V.   Dampak Velocity Trend terhadap Komunikasi Digital

Velocity trend membawa perubahan signifikan pada komunikasi di era digital:

  • Bahasa visual dominan: Komunikasi lebih banyak menggunakan video dan visual bergerak daripada teks panjang.
  • Partisipasi audiens meningkat: Pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga ikut membuat konten.
  • Persepsi publik cepat terbentuk: Tren viral membentuk opini dan norma sosial dengan cepat.

Penelitian menunjukkan bahwa tren velocity dapat memengaruhi motivasi pengguna dalam membuat konten, baik dari aspek internal (kepuasan diri) maupun eksternal (interaksi sosial) (Azizah & Fajri, 2025; Jayanti & Prasetyo, 2025).

 

VI.   Kesimpulan

Velocity trend bukan sekadar efek visual atau hiburan sementara. Fenomena ini mencerminkan dinamika komunikasi modern yang bersifat:

  • Cepat dan viral
  • Partisipatif dan interaktif
  • Berbasis visual

Dengan memahami tren ini melalui teori komunikasi seperti Diffusion of Innovations, Uses and Gratifications, dan Agenda Setting, kita bisa melihat bagaimana tren viral di media sosial mencerminkan cara baru manusia berkomunikasi dan berinteraksi di dunia digital.

 

 

Referensi: