Gambar 1. Kode di layar komputer (sumber: unsplash.com)

Mayoritas developer di tahun 2025 hidup dalam sebuah paradoks: mereka sangat produktif dan masif menggunakan AI, namun di saat yang sama, mereka semakin skeptis terhadap hasil kerjanya. Data dari Stack Overflow Developer Survey 2025 melukiskan fenomena menarik: alih-alih tenggelam dalam euforia “Vibe Coding” (tren ngoding santai bermodalkan prompt) para developer justru berubah menjadi kurator yang ketat.

Mereka adalah generasi “willing but reluctant”: mau menggunakan AI demi kecepatan, namun enggan menyerahkan kemudi sepenuhnya pada mesin. Realitanya, semakin canggih AI, semakin mahal harga sebuah pemahaman fundamental.

 

Realita “Vibe Coding” vs. Tanggung Jawab Engineering

Gambar 2. Hasil survei terkait pengguaan AI (sumber: stackoverflow.com)

Istilah Vibe Coding sering digambarkan sebagai sesi pemrograman yang santai: buka editor, ketik prompt, biarkan AI bekerja, dan terima hasilnya selama “terlihat benar” (vibe-nya oke). Namun, survei 2025 menampar tren ini dengan data keras. Sebanyak total 84% developer mengaku berencana dan menggunakan AI tools, dan 47% menggunakannya setiap hari. AI sudah ada di setiap sesi coding. Namun, alih-alih membuat pekerjaan menjadi santai, kehadiran AI justru mengubah sesi coding menjadi rangkaian verifikasi dan debugging yang intens. Faktanya, 72% developer secara tegas menyatakan Vibe Coding bukan bagian dari alur kerja mereka.

Gambar 3. Hasil survei terkait vibe coding (sumber: stackoverflow.com)

 

Krisis Kepercayaan: Mengapa Fundamental Kembali Menjadi Raja?

Gambar 4. Hasil survei terkait kepercayaan terhadap AI (sumber: stackoverflow.com)

Mengapa resistensi ini terjadi? Karena trust (kepercayaan) terhadap akurasi AI berada di titik rendah, di mana tingkat kepercayaan tinggi (highly trust) hanya berada di angka 3.1%.

Developer mengeluhkan pola yang sama: AI sering memberikan jawaban yang “hampir benar” (nearly correct). Di sinilah letak jebakannya. Memperbaiki kode yang “hampir benar” sering kali jauh lebih sulit daripada menulis dari nol. Untuk bisa membedakan antara kode yang jenius dengan kode yang buggy, seorang developer harus memiliki fundamental yang kokoh.

  • Anda tidak bisa mengoreksi logic error dari AI jika Anda sendiri tidak memahami algoritma dasarnya.
  • Jika AI salah mengatur manajemen memori, hanya developer yang paham low-level concept yang bisa menyadarinya.
  • Jika AI menyarankan library yang usang atau tidak aman, hanya developer yang paham ekosistem yang bisa menolaknya.

Inilah sebabnya mengapa developer profesional di 2025 menjadi sangat skeptis. Mereka tahu bahwa di balik kenyamanan prompting, ada risiko teknis yang harus dimitigasi dengan pengetahuan mendalam. Pada akhirnya, tren 2025 memperlihatkan wajah baru developer: The Skeptical Architect. Mereka menggunakan AI sebagai mesin autocomplete super cepat untuk tugas repetitif, namun ketika masuk ke ranah arsitektur, keamanan, dan logika bisnis, mereka kembali ke mode manual. Situs seperti Stack Overflow dan dokumentasi resmi tetap menjadi sumber kebenaran. Ketika AI memberikan solusi yang meragukan, developer tidak mengandalkan feeling. Mereka melakukan validasi silang (cross-referencing). Vibe coding mungkin asik untuk hobi, tapi untuk profesional, fundamental is the only way to survive.

 

 

Referensi:

  • https://survey.stackoverflow.co/2025/