Ekspansi industri, urbanisasi, dan peningkatan daya beli masyarakat memang mendorong perputaran ekonomi, namun pada saat yang sama, pola konsumsi yang semakin intensif juga memicu lonjakan penggunaan sumber daya alam dan produksi limbah dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan kelas menengah yang terus tumbuh, aktivitas konsumsi menjadi mesin utama ekonomi nasional.

Setiap produk yang dibeli, setiap kemasan yang dibuka, dan setiap barang yang diganti dengan versi terbaru, pada akhirnya meninggalkan jejak material yang tidak kecil, hal ini ditandai dengan setiap kenaikan konsumsi hampir selalu diikuti oleh peningkatan limbah. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat Indonesia menghasilkan lebih dari 68 juta ton sampah per tahun, angka yang mencerminkan beban ekologis yang masif.

Ironisnya, sebagian besar sampah itu masih berakhir di tempat pembuangan akhir, bukan kembali ke siklus produksi melalui daur ulang atau pemanfaatan ulang. Pola take–make–use- dispose masih menjadi arus utama dalam sistem ekonomi kita. Model take–make–use- dispose memang pernah mendorong pertumbuhan cepat, tetapi kini menunjukkan batasnya. Ketika limbah terus meningkat dan biaya distribusi tetap tinggi, pertanyaannya sederhana: sampai kapan model ini bisa dipertahankan?

Melihat realitas tersebut, konsep circular economy atau ekonomi sirkular menawarkan jalan baru yang lebih sistemik dan berorientasi jangka panjang.  Selaras dengan dokumen perencanaan pembangunan negara, strategi ekonomi sirkular tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 sebagai bagian dari transformasi menuju Green Economy dan ekonomi rendah karbon.

Sebagai negara dengan populasi besar, pertumbuhan kelas menengah yang cepat, serta tekanan terhadap infrastruktur pengelolaan limbah, Indonesia tidak memiliki banyak ruang untuk mempertahankan model ekonomi linear. Alih-alih berhenti pada tahap pembuangan, ekonomi sirkular mendorong agar material terus berputar dalam suatu sistem tertutup melalui perbaikan, penggunaan ulang, rekondisi, dan daur ulang. Dalam kerangka ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus disingkirkan, melainkan sebagai sumber daya sekunder yang memiliki nilai ekonomi baru.

Implikasinya tidak berhenti pada aspek produksi, tetapi merambah hingga transformasi fundamental rantai pasok. Dalam pendekatan ekonomi sirkular, rantai pasok tidak berhenti ketika produk berpindah tangan kepada konsumen. Justru pada titik itulah siklus baru dimulai. Sistem distribusi diperluas untuk mencakup mekanisme pengembalian, perbaikan, pembaruan, hingga pemrosesan ulang material. Konsep ini dikenal sebagai reverse logistics, yaitu alur balik yang memastikan produk dan komponen tidak berakhir sebagai limbah, melainkan kembali masuk ke dalam siklus nilai. Reverse logistics memungkinkan perusahaan menarik kembali produk bekas untuk diperbaiki, diperbarui, atau didaur ulang Rouhani (2025).

Namun transformasi menuju ekonomi sirkular tidak cukup hanya berhenti pada desain ulang rantai pasok. Jika supply chain adalah tulang punggung operasional, maka service management adalah jantung yang menjaga keberlanjutan hubungan dengan pelanggan. Dalam model sirkular, layanan bukan lagi pelengkap setelah penjualan, melainkan inti dari proposisi nilai perusahaan.

Konsep product-as-a-service mulai mendapatkan perhatian sebagai paradigma baru. Alih-alih menjual produk secara penuh dan memindahkan seluruh tanggung jawab kepada konsumen, perusahaan menyediakan fungsi sebagai layanan. Pelanggan membayar berdasarkan tingkat penggunaan, bukan kepemilikan, perubahan ini menggeser insentif bisnis secara mendasar: perusahaan tidak lagi terdorong untuk menjual sebanyak mungkin unit baru, melainkan memastikan produk yang ada lebih tahan lama, mudah diperbaiki, dan efisien dalam penggunaan sumber daya dan mendorong ekonomi sikular (Vishkaei 2025).

Sejumlah praktik di Indonesia menunjukkan arah perubahan ini mulai terbentuk, sebagai contoh; AQUA melalui program “Bijak Berplastik” mendorong peningkatan pengumpulan dan daur ulang botol PET agar kembali ke siklus produksi. Sementara itu, Unilever Indonesia menguji coba sistem refill dan kemasan guna ulang untuk mengurangi limbah plastik sekali pakai. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa ekonomi sirkular bukan lagi konsep teoretis, melainkan mulai diintegrasikan dalam strategi operasional dan layanan.

Bagi Indonesia, transisi menuju ekonomi sirkular bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi nasional. Dengan biaya logistik yang masih tinggi dan timbunan sampah yang terus meningkat, perubahan model bisnis menjadi semakin mendesak. Sudah saatnya dunia usaha Indonesia bergerak dari model linear (take–make–use- dispose) menuju circular (make-use-collect-recycle). Perubahan ini bukan sekadar demi membangun citra hijau, tetapi untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak lagi berjalan dengan mengorbankan sumber daya masa depan. Ekonomi yang kuat bukan hanya yang tumbuh cepat, melainkan yang mampu tumbuh secara berkelanjutan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Maleki Vishkaei, B. (2025). Optimal ordering for Product-as-a-Service models with circular economy practices. International Journal of Production Research, 63(11), 4066–4085. https://doi.org/10.1080/00207543.2024.2434949

Rouhani, S., Wardley, L. J., & Amin, S. H. (2025). A Comprehensive Survey into Reverse Logistics and Closed-Loop Supply Chain Aspects to Provide Analyses and Insights for Implementation. Journal of Cleaner Production, 144743.

https://www.cnbcindonesia.com/news/20240625131019-4-549127/ri-hasilkan-697-juta-ton-sampah-per-tahun-ini-datanya

https://perpustakaan.bappenas.go.id/elibrary/file_upload/koleksi/dokumenbappenas/konten/Dokumen%202025/Konten/%7BDigital%7D%20Ringkasan%20RPJMN%20Tahun%202025-2029.pdf

https://www.thejakartapost.com/life/2020/03/07/unilever-indonesia-provides-refill-station-in-bintaro.html?utm_source=chatgpt.com

https://www.sehataqua.co.id/blog/danone-aqua-dan-alfamart-luncurkan-reverse-vending-machine/?utm_source=chatgpt.com