AI Membuat Banyak Orang Terlihat Pintar, Tapi Tidak Membuat Mereka Mengerti

Di era Generative AI, mendapatkan jawaban cerdas tidak lagi sulit. Cukup ketik satu pertanyaan, dan dalam hitungan detik kita memperoleh penjelasan yang tampak logis, terstruktur, bahkan akademis. Namun muncul pertanyaan penting: apakah kemudahan ini benar-benar meningkatkan pemahaman atau hanya menciptakan ilusi kecerdasan?
Fenomena ini semakin terlihat di dunia pendidikan dan kerja, ketika seseorang mampu menghasilkan tulisan atau solusi kompleks tanpa benar-benar memahami konsep di baliknya.
Ilusi Pintar di Era AI
Generative AI memungkinkan siapa pun menghasilkan esai, kode program, atau analisis data dengan cepat. Dampaknya, batas antara “tahu” dan “terlihat tahu” menjadi semakin kabur.
Sebuah studi tentang penggunaan AI di pendidikan menunjukkan bahwa teknologi ini membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan ancaman terhadap kemampuan kognitif dasar peserta didik jika digunakan tanpa kontrol.
Selain itu, penelitian terhadap mahasiswa menemukan bahwa kemudahan AI dalam menyelesaikan tugas meningkatkan risiko ketergantungan yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis.
Artinya, AI tidak selalu membuat seseorang lebih pintar — terkadang hanya membuat pekerjaan terlihat lebih pintar.
Ketika Otak Bekerja Lebih Sedikit
Dampak AI terhadap kemampuan berpikir dan belajar
Penelitian MIT menunjukkan bahwa pengguna AI memiliki aktivitas otak paling rendah dibandingkan mereka yang menulis tanpa bantuan alat digital. Mereka juga cenderung menyalin output AI dan menghasilkan tulisan yang kurang orisinal.
Survei terhadap lebih dari 1.000 dosen bahkan menemukan bahwa 90% percaya AI menurunkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, dan 95% khawatir mahasiswa menjadi terlalu bergantung pada teknologi.
Dalam eksperimen lain, jawaban ujian yang sepenuhnya dibuat oleh AI berhasil memperoleh nilai di atas rata-rata dan hampir tidak terdeteksi oleh penguji, memicu kekhawatiran tentang integritas akademik.
Semua ini menunjukkan satu hal: AI bisa meningkatkan performa, tetapi tidak selalu meningkatkan kompetensi.
Overreliance: Saat Manusia Berhenti Berpikir
Penelitian tentang ketergantungan AI di pendidikan tinggi menjelaskan bahwa overreliance terjadi ketika pengguna menerima rekomendasi AI tanpa evaluasi kritis, yang berujung pada solusi yang keliru dan melemahkan proses belajar.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan Generative AI dapat menyebabkan penurunan critical thinking dalam pekerjaan berbasis pengetahuan, meskipun intervensi tertentu dapat membantu memicu kembali pemikiran reflektif.
Dengan kata lain, masalahnya bukan pada AI – melainkan pada bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya.
AI Sebagai “Cognitive Shortcut”
Dalam konteks pembelajaran, AI juga berperan dalam mengelola beban kognitif karena membantu menangani kompleksitas informasi. Namun, jika tidak diseimbangkan dengan proses berpikir aktif, hal ini justru dapat menjadi hambatan bagi pemahaman mendalam.
Inilah paradoks terbesar teknologi modern:
Semakin mudah sesuatu dilakukan, semakin kecil kemungkinan kita benar-benar memahaminya.
Pintar vs Mengerti: Dua Hal yang Berbeda
Terlihat pintar berarti mampu menghasilkan jawaban yang benar.
Mengerti berarti mampu menjelaskan, mengkritisi, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi baru.
AI unggul pada level pertama – tetapi level kedua tetap membutuhkan manusia.
Tanpa proses berpikir, kita berisiko mengalami:
- penurunan rasa ingin tahu
- melemahnya kemampuan problem solving
- berkurangnya kreativitas
- ketergantungan pada mesin
Dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan generasi yang cepat menjawab tetapi lambat memahami.
Referensi
- https://time.com/7295195/ai-chatgpt-google-learning-school/
- https://www.forbes.com/sites/avivalegatt/2026/01/27/90-of-faculty-say-ai-is-weakening-student-learning-how-higher-ed-can-reverse-it/
- https://www.theguardian.com/education/article/2024/jun/26/researchers-fool-university-markers-with-ai-generated-exam-papers
Comments :