Ketika AI Menyapa Indonesia: Antara Sinyal Lemah dan Janji Canggih
Di sebuah negeri yang sedang sibuk mengejar transformasi digital, hadir sebuah makhluk baru yang digadang-gadang akan menyelesaikan segalanya: kecerdasan buatan—atau, dalam bahasa yang lebih keren, Artificial Intelligence (AI).
Tak seperti makhluk gaib zaman dulu yang muncul dari gunung atau lautan, AI biasanya muncul dari konferensi, webinar, atau headline media. Ia tak butuh dupa atau sesajen, cukup koneksi Wi-Fi, server, dan kata-kata seperti “ekosistem”, “talenta digital”, serta “industri 4.0”. Lengkap sudah mantra teknologi masa kini.
Indonesia menyambut AI seperti menyambut tamu kehormatan: dengan karpet merah, investasi miliaran dolar, dan janji yang begitu wangi—hingga kadang kita lupa menanyakan: “Maaf, colokannya di mana?”
Catatan: Gambar ini digenerasi oleh ChatGPT dengan pengawasan dan supervisi manusia
Mesin Canggih, Kabel Kusut
AI disebut-sebut akan membantu petani, nelayan, UMKM, bahkan pejabat. Tapi bagaimana caranya, jika beberapa desa saja masih mengandalkan sinyal dari ujung pohon nangka? Atau sekolah-sekolah yang hanya punya satu komputer Windows XP warisan BOS tahun 2010?
Mungkin AI-nya bisa membantu… tapi kita yang malah butuh update driver.
Semua Ingin Canggih, Asal Tidak Ribet
Ironisnya, kita sering berharap AI menyelesaikan masalah yang seharusnya bisa dibereskan oleh:
- pengarsipan yang rapi,
- data yang terbuka,
- atau keputusan yang konsisten.
Namun, lebih mudah menyalahkan teknologi yang belum datang daripada membenahi kebijakan yang sudah ada.
Jadilah kita membangun “pusat kecerdasan buatan” di kota-kota besar, sementara jaringan internet di luar kota masih lebih labil daripada mood pengendara motor di jam macet.
Lalu, AI Akan Dibawa ke Mana?
Jangan salah: AI bukan masalahnya. Bahkan, potensinya luar biasa. Tapi ia bukan juru selamat. Ia bukan tukang sulap. Ia hanya alat—dan alat yang baik hanya berguna di tangan yang tahu cara memakainya.
Kalau tidak, kita hanya akan melihat robot menari di panggung konferensi, sementara spreadsheet data pendidikan masih diisi manual pakai pulpen karena “sistemnya sedang down”.
Catatan (dari manusia biasa, bukan AI)
Kalau memang kita ingin AI ikut menyelesaikan masalah bangsa, mulailah dari hal sederhana:
- Ajarkan logika dan literasi digital sejak dini.
- Bangun infrastruktur digital dari pinggiran, bukan dari tengah saja.
- Dan paling penting: jangan jadikan teknologi sebagai kambing hitam saat yang dibutuhkan adalah kemauan untuk belajar dan mendengar.
Karena kecerdasan buatan mungkin sudah ada.
Tapi kecerdasan alami—itulah yang perlu terus kita latih.
Referensi
- CNN Indonesia, 12.548 Desa Tak Tersentuh Internet, Apa Usaha Kominfo? URL: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20221028151207-192-866640/12548-desa-tak-tersentuh-internet-apa-usaha-kominfo.
- World Bank, The Digital Economy in Southeast Asia, URL: https://documents1.worldbank.org/curated/en/328941558708267736/pdf/the-digital-economy-in-southeast-asia-strengthening-the-foundations-for-future-growth.pdf
Comments :