Apa arti menjadi BINUSIAN bagi seorang mahasiswa Desain Interior?

Ketika mendengar kata BINUSIAN, kita mungkin langsung teringat pada berbagai pengalaman: mengerjakan project studio, melakukan asistensi, bekerja dalam kelompok, mengikuti enrichment, mengikuti competition, hingga mempersiapkan diri memasuki dunia profesional. Namun, di balik semua pengalaman tersebut, ada sesuatu yang menjadi dasar bagaimana kita belajar, bekerja, dan berkembang sebagai BINUSIAN: SPIRIT.

SPIRIT merupakan nilai BINUS yang terdiri dari Striving for Excellence, Perseverance, Integrity, Respect, dan Innovation. Tetapi, apakah SPIRIT hanya sekadar lima kata yang perlu kita hafalkan? Tentu tidak. Menurut Blanchard & Stoner (2003), value merupakan keyakinan mendalam mengenai kualitas yang diharapkan seseorang. Value menjadi pedoman dalam menentukan apa yang benar, penting, dan mendasar, sekaligus menjadi standar dalam memilih tindakan dan berperilaku.

Dengan kata lain, value bukan hanya sesuatu yang kita tahu, tetapi sesuatu yang kita hidupi. Bagi mahasiswa Desain Interior, SPIRIT bahkan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemukannya dalam proses mendesain, menghadapi revisi, bekerja dalam tim, mempresentasikan ide, hingga menyelesaikan masalah dalam sebuah project. Mari kita lihat bagaimana SPIRIT dapat diterapkan dalam perjalanan kita menjadi seorang Interior Designer.

1. Striving for Excellence

“Kalau bisa lebih baik, kenapa berhenti di cukup?”

Dalam dunia desain, kita sering berada pada situasi ketika sebuah pekerjaan sebenarnya sudah selesai, tetapi masih bisa dikembangkan. Denah sudah jadi, tetapi mungkin masih bisa dibuat lebih efektif. Konsep sudah ada, tetapi mungkin belum sepenuhnya menjawab kebutuhan user. Rendering sudah bagus, tetapi mungkin masih bisa dikembangkan. Presentation board sudah selesai, tetapi mungkin belum mampu menyampaikan ide dengan jelas. Di sinilah Striving for Excellence berperan. Striving for Excellence berarti memiliki kemauan untuk memberikan yang terbaik dan terus melakukan perbaikan.

Sebagai mahasiswa Desain Interior, excellence bukan berarti kita harus selalu menghasilkan karya yang sempurna. Excellence berarti kita tidak berhenti pada hasil yang “cukup” ketika masih ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Hal ini dapat terlihat dari hal-hal sederhana:

  • Mau memperbaiki desain setelah mendapatkan feedback.
  • Mencari alternatif solusi ketika desain belum optimal.
  • Terus meningkatkan kemampuan software dan teknologi.
  • Memperhatikan detail desain.
  • Memikirkan kebutuhan dan pengalaman user.
  • Belajar dari kesalahan dan pengalaman sebelumnya.

Coba ubah pertanyaan dari:

“Apakah tugas saya sudah selesai?”

menjadi:

“Apakah ini sudah menjadi versi terbaik yang bisa saya hasilkan saat ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita melihat proses belajar dan berkarya.

2. Perseverance

“Revisi bukan akhir dari desain. Revisi adalah bagian dari desain.”

Kalau ada satu kata yang sangat familiar bagi mahasiswa Desain Interior, mungkin jawabannya adalah:

REVISI.

Denah direvisi.
Konsep direvisi.
3D direvisi.
Material direvisi.
Presentation board direvisi.

Terkadang, setelah satu revisi selesai, muncul revisi berikutnya. Namun, justru di situlah Perseverance diuji. Perseverance berarti ketekunan, ketangguhan, disiplin, fokus, dan kemampuan untuk tetap berusaha ketika menghadapi kendala. Dalam dunia profesional, seorang interior designer tidak selalu mendapatkan respon positif pada percobaan pertama. Client bisa meminta perubahan. Budget dapat berubah. Material yang direncanakan mungkin tidak tersedia. Site condition dapat berbeda dengan asumsi awal. Deadline dapat berubah. Semua kondisi tersebut membutuhkan kemampuan untuk tidak mudah menyerah dan terus mencari solusi. Karena itu, ketika mengalami kebuntuan dalam project, jangan langsung melihatnya sebagai kegagalan.

Coba lihat prosesnya:

Problem → Feedback → Revision → Learning → Improvement → Better Design

Revisi bukan berarti kita gagal.

Revisi adalah bagian dari proses untuk menjadi designer yang lebih baik.

3. Integrity

“Tetap melakukan yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”

Dalam kehidupan akademik, dosen mungkin tidak selalu melihat seluruh proses yang kita jalani. Namun, integritas tidak bergantung pada ada atau tidaknya seseorang yang mengawasi. Integrity berarti tetap jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan. Dalam Desain Interior, integritas dapat diterapkan melalui hal-hal sederhana:

  • Mengerjakan tugas dengan jujur.
  • Mencantumkan sumber referensi.
  • Menghargai karya orang lain.
  • Menggunakan AI dan teknologi secara bertanggung jawab.
  • Tidak melakukan plagiarisme.
  • Jujur terhadap data dan proses penelitian.
  • Mengakui kesalahan ketika terjadi.
  • Menyelesaikan tanggung jawab dalam teamwork.

Mengapa hal ini penting? Karena ketika masuk ke dunia profesional, seorang designer tidak hanya menjual kemampuan desain. Designer juga menjual kepercayaan. Client mempercayakan project kepada kita. Perusahaan mempercayakan pekerjaan kepada kita. Team mempercayakan tanggung jawab kepada kita. Karena itu, kemampuan desain yang baik harus berjalan bersama dengan karakter yang dapat dipercaya.

4. Respect

“Desain yang baik dimulai dari kemampuan menghargai manusia.”

Pada akhirnya, Interior Design adalah tentang manusia dan pengalaman mereka di dalam ruang. Kita mendesain untuk user. Artinya, kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan, kebiasaan, latar belakang, kemampuan, dan perspektif yang berbeda. Respect berarti menghargai orang lain, pekerjaan orang lain, perbedaan, dan kontribusi setiap individu. Dalam kehidupan mahasiswa, respect dapat dimulai dari hal-hal sederhana seperti mendengarkan ide teman, menghargai pendapat yang berbeda, tidak meremehkan hasil karya orang lain, menghargai kontribusi setiap anggota kelompok, memberikan credit kepada orang yang berkontribusi, tidak mendominasi diskusi. Seorang designer juga perlu menyadari bahwa desain yang kita sukai belum tentu menjadi desain yang paling sesuai untuk user.

Karena itu, ketika menemukan pendekatan yang berbeda, jangan langsung berpikir:

“Desain saya lebih bagus.”

Cobalah bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari perspektif ini?”

Kemampuan untuk menghargai perspektif orang lain akan membantu kita menjadi designer yang lebih empatik dan mampu menciptakan desain yang lebih meaningful.

5. Innovation

“Think different, but know why.”

Innovation sering dianggap sebagai sesuatu yang harus selalu baru, futuristik, dan spektakuler. Padahal dalam desain, innovation tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Innovation dapat berarti menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah yang sudah ada. Misalnya:

  • Menggunakan teknologi untuk meningkatkan user experience.
  • Mengembangkan solusi material yang lebih sustainable.
  • Memanfaatkan AI untuk mendukung proses eksplorasi.
  • Menciptakan furniture yang lebih fleksibel.
  • Mengadaptasi bangunan lama menjadi fungsi baru.
  • Menggabungkan budaya lokal dengan pendekatan kontemporer.
  • Mengembangkan desain yang lebih inklusif.

Namun, ada satu hal penting adalah Innovation harus memiliki purpose. Jangan membuat sesuatu berbeda hanya karena ingin terlihat berbeda. Tanyakan dahulu tentang masalah apa yang ingin saya selesaikan? Siapa yang akan mendapatkan manfaat? Mengapa solusi ini lebih baik? Dengan begitu, innovation tidak hanya menghasilkan sesuatu yang “keren”, tetapi juga menghasilkan solusi yang relevan dan memberikan impact.

6. Teamwork

Meskipun Teamwork bukan bagian dari lima huruf dalam SPIRIT, teamwork merupakan salah satu cara penting bagaimana value tersebut diwujudkan dalam sebuah project. Dalam sebuah project interior, kita tidak bekerja sendirian. Ada designer, architect, engineer, contractor, vendor, specialist, client, dan berbagai pihak lainnya. Begitu juga dalam kehidupan perkuliahan. Dalam group project, teamwork berarti:

Collaboration + Communication + Shared Goals + Mutual Support

Bukan hanya:

“Yang penting bagian saya selesai.”

Tetapi:

“Bagaimana agar project kita berhasil bersama?”

Setiap anggota tim memiliki kekuatan yang berbeda. Ada yang kuat dalam concept development. Ada yang kuat dalam technical drawing. Ada yang kuat dalam 3D modeling. Ada yang kuat dalam rendering. Ada yang kuat dalam presentation. Ada yang kuat dalam communication dan project management. Perbedaan tersebut bukan kelemahan. Justru perbedaan adalah kekuatan sebuah tim. Ketika setiap orang saling melengkapi, sebuah project dapat menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemampuan satu individu.

SPIRIT dalam Satu Project Interior

Jika kita lihat lebih dekat, sebuah project desain sebenarnya sudah menggambarkan perjalanan SPIRIT.

IDEA

STRIVING FOR EXCELLENCE
Mencari solusi terbaik

PERSEVERANCE
Menghadapi kendala dan revisi

INTEGRITY
Bekerja secara jujur dan bertanggung jawab

RESPECT
Memahami user dan menghargai team

INNOVATION
Menghasilkan solusi yang relevan dan meaningful

TEAMWORK
Mewujudkannya bersama

DESIGN THAT CREATES IMPACT

Dengan demikian, SPIRIT sebenarnya bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan kita sebagai mahasiswa. SPIRIT hadir dalam setiap proses kita belajar dan mendesain. Ketika kita mengulang gambar karena ingin hasil yang lebih baik, kita sedang menerapkan Excellence. Ketika kita tetap mengerjakan project meskipun mengalami kebuntuan, kita sedang menerapkan Perseverance. Ketika kita jujur terhadap proses dan sumber karya, kita sedang menerapkan Integrity. Ketika kita menghargai user, teman, dosen, dan seluruh anggota tim, kita sedang menerapkan Respect. Ketika kita menemukan solusi baru terhadap sebuah masalah, kita sedang menerapkan Innovation. Dan ketika kita bekerja bersama untuk mencapai tujuan, kita sedang membangun Teamwork.

So, What Kind of BINUSIAN Designer Will You Become?

Pada akhirnya, menjadi BINUSIAN bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap dan berkarya. Ketika lulus nanti, dunia profesional tidak hanya akan melihat seberapa bagus portfolio kita. Mereka juga akan melihat apakah kita dapat dipercaya? Apakah kita mampu bekerja dalam tim? Apakah kita mampu menghadapi masalah? Apakah kita mau mendengarkan? Apakah kita mampu menghasilkan solusi? Dan yang paling penting adalah “What value do you bring?” Software dapat dipelajari. Skill dapat dilatih. Portfolio dapat dibangun. Namun, value membentuk siapa kita sebagai seorang profesional. Karena itu, mari kita tidak hanya belajar how to design, tetapi juga belajar how to become a designer with values.

Don’t Just Design Spaces. Design with SPIRIT.

Strive for Excellence.
Persevere.
Act with Integrity.
Respect Others.
Innovate.
Grow Together.

Because great designers create beautiful spaces, but great BINUSIAN designers create meaningful impact.