FABRIKASI pada Konstruksi Budaya Tradisi 

Kebudayaan dikonstruksi secara interoperabilitas oleh unsur-unsur pembentuk kebudayaan yang memiliki kemungkinan untuk saling beririsan satu sama lain, seperti yang telah dijelaskan di bagian satu. Namun proses pembentukan kebudayaan global pada saat ini telah mengarah pada proses ‘fabrikasi’, bukan ‘manufaktur’. Berbagai unsur pembentuk kebudayaan telah hadir dengan eksistensinya masing-masing secara beragam. Kelompok sosial ‘tinggal mencomot’ dan mengkonstruksi dari yang telah ada sehingga terbentuk kebudayaan yang sesuai. Tidak ada yang baru. Artinya tidak ada lagi invensi. Yang baru adalah sistem, bukan unsur pembentuknya. Gabungan dari unsur pembentuk yang berbeda-beda akan membentuk (racikan) budaya ‘baru’ (inovasi). Namun hal ini tidak berhenti sampai disini, dia masih terus bergerak dinamis dan konversasional.  

 Gbr 1. Fabrikasi Budaya  

Hasil konstruksi dari unsur-unsur pembentuk kebudayaan ini berkembang seiring waktu melalui berbagai kombinasi antar unsurnya dengan kemungkinan yang tak berbatas, sehingga kebaruan terus terjadi walaupun ‘bahan baku’nya, sebenarnya masih itu-itu juga. Susunan kombinasi ini berdasarkan pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari kebudayaan sebelumnya, sementara perspektif relasionalitas dibutuhkan untuk memahami pengalaman tersebut agar dapat menjadi knowledgeKnowledge tersebut digunakan oleh para aktor budaya untuk berinteraksi satu sama lain. Selain knowledgepower  juga memiliki peranan penting dalam proses interaksi ini. Power dapat memegang kendali dalam pembentukan suatu budaya tradisi. Tradisi itu sendiri merupakan produk hasil keputusan manusia – dalam hal ini manusia yang memiliki power – sehingga tradisi selalu bernuansa politis. 

Gbr 2. Relasi antara actor, knowledge dan power  

PELESTARIAN BUDAYA TRADISI- Jalan untuk Menemukembalikan Pemaknaan Nilai 

Kebudayaan sebagai alat berpikir, juga alat refleksivitas kritis untuk memosisikan diri saat berhadapan dengan pola pikir, telah mengalami berbagai transformasi seiring ruang, waktu, dan aktor. Kebudayaan baiknya dipahami dari perspektif relasional alih-alih defensif, karena gerakannya yang dinamis, cair, dan interaktif. Prioritas nilai-nilainya pun dapat berubah bersamaan dengan konteks. Terdapat dua aspek utama dalam pencarian nilai pada pelestarian budaya tradisi, yaitu (1) eksistensial dan (2) esensial. Nilai eksistensial diperoleh dari eksistensi budaya tradisi pada suatu ruang dalam kurun waktu tertentu. Sementara pada pencarian nilai esensial waktu seolah-olah tidak ada karena yang dicari hanyalah inti. Nilai-nilai tersebut diupayakan agar dapat dipahami baik secara eksistensial maupun esensial melalui pelestarian budaya tradisi yang mengusung pemaknaan otentisitas dan signifikansi budaya. Otentisitas yang dimaksud disini adalah ketika kita mampu memahami nilai-nilai yang terkandung pada tradisi masa lampau, lalu merekonstruksinya dengan tambahan bekal knowledge dan pengalaman yang didapat ketika mengalami proses adaptasi dan evolusi, sehingga pada akhirnya menghasilkan suatu bentuk baru yang lebih kompleks dan mendalam, serta sesuai dengan semangat jaman. Jadi, justru terdapat peningkatan value yang terjadi dari nilai-nilai yang sudah ada, dan lebih kontekstual. Hal ini dapat menggiring kita untuk menemukembalikan wisdom, atau bahasa spiritualnya ‘mendapatkan pencerahan/hidayah’. Pelestarian budaya mampu mensituasikan agar pada kompleksitas kebudayaan yang terjadi, tidak membuat suatu budaya tradisi sampai kehilangan core-nya, yang menurut istilah Heidegger ‘tercerabut dari realitas’, alias kehilangan eksistensi – mengalami kepunahan. Sementara signifikansi budaya adalah konsep untuk mengidentifikasi dan menilai pentingnya suatu objek budaya dengan menggunakan kriteria nilai etika, estetika, kesejarahan, keilmuan dan nilai sosial di masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang (Trisnawati Yudhistira et al., 2023). 

Model Pelestarian Budaya Tradisi 

Pada pelestarian budaya tradisi, terdapat dua model utama, yaitu (1) model budaya tradisi dengan sistem tertutup dan (2) model budaya tradisi dengan sistem terbuka. Seperti pada gambar berikut ini.

 Gbr 3. Budaya Tradisi dengan Sistem Tertutup 

Ketika budaya tradisi memiliki semacam ‘pakem’ yang berlaku, ia akan bergerak melingkar pada bidang planar yang sama dimulai dari Q1 (Quadran 1) dan melintas pada Q2, Q3 dan Q4, sebagai tahapan dimensi pengalaman (lihat Gbr 3.), untuk akhirnya kembali pada titik awal, dalam hal ini berarti kembali ke ajaran awal (tradisional). Proses seperti ini yang cenderung memberikan batas-batas dan tertutup terhadap semangat jaman. Berbentuk 2 dimensi karena tidak ada faktor waktu dan tidak memerlukan kesepakatan karena tidak mengalami perubahan makna dan nilai-nilai yang berlaku. Model ini yang berlaku pada beberapa kampung adat tradisional di Indonesia yang menutup diri dari dunia luar, baik karena kondisi geografis maupun prinsip kepercayaan.   

 Gbr . Budaya Tradisi dengan Sistem Terbuka  

Budaya tradisi memiliki proses perkembangan yang selalu bergerak dinamis dan terbuka, namun tetap bergerak melingkari core dalam rangka mempertahankan nilai nilai luhur yang embeded dengannya (lihat Gbr 4.). Pada perjalanan ‘kembali’ ke titik ‘awal’ dia akan berhadapan dengan pilihan: bergerak pada bidang planar yang sama untuk kemudian menemukan nilai-nilai lama (tradisional), atau bergerak spiral terbuka ke atas menuju bidang planar lain yang lebih luas dan menemukembalikan esensi dari nilai-nilai luhur yang pernah ada dengan pemaknaan yang lebih mendalam dan kompleks. Adapun core yang dikelilingi merupakan kesepakatan yang kontekstual seiring waktu. Sementara bidang planar mewakili ‘slice of time’ yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu objek budaya tradisiInilah yang dinamakan pelestarian budaya dengan nilai otentisitas budaya tradisi yang kontekstual. 

 Kedua model diatas baik yang terbuka maupun yang tertutup pada dasarnya sama-sama memiliki semangat pelestarian budaya tradisi namun berbeda cara. Keduanya berusaha mempertahankan nilai-nilai yang dianggap luhur oleh kelompok budayanya masing-masing. Tantangan era post-tradisi akan membuat model pertama semakin sulit untuk bertahan dan rentan akan kepunahan. Model yang kedua diharapkan mampu bergerak sinergi dengan segala kompleksitas jaman dan sanggup menolak berbagai bentuk distorsi serta menyingkap kesadaran-kesadaran palsu yang mengancam keberlangsungan budaya tradisi sehingga tujuan pelestarian akan tercapai. 

Daftar Pustaka 

Trisnawati Yudhistira, D., Wirawan, Y., Yudhistira, A. W., Putranto, W., Prasyanti, A., Gatot S, Y., and Hendroyono, H. (2023): Cerita Tentang Placemaking (W. Putranto and A. Prasyanti, Eds.), M Bloc Academy, Jakarta.