Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan modern. Melalui platform digital, seseorang dapat berkomunikasi dengan teman, berbagi pengalaman, dan mengikuti perkembangan dunia tanpa dibatasi jarak. Kehadiran media sosial juga memberikan ruang bagi penggunanya untuk mengekspresikan diri dan menemukan komunitas dengan minat yang sama. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mengenai apakah media sosial benar-benar meningkatkan kebahagiaan atau justru membuat seseorang semakin mudah merasa tidak puas dengan kehidupannya sendiri.

Salah satu faktor yang memengaruhi kesejahteraan pengguna adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Foto liburan, pencapaian akademik, penampilan, dan gaya hidup yang ditampilkan di internet sering kali memperlihatkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Ketika terus-menerus melihat unggahan semacam ini, pengguna dapat merasa bahwa hidupnya kurang menarik atau dirinya tertinggal dibandingkan orang lain. Padahal, konten yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan secara utuh. Akibatnya, standar kebahagiaan dapat terbentuk berdasarkan gambaran ideal yang sulit dicapai dalam kehidupan nyata.

Meskipun demikian, media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif. Platform digital dapat membantu seseorang mempertahankan hubungan jarak jauh, memperoleh dukungan emosional, serta menemukan kelompok yang memahami pengalaman atau kesulitannya. Bagi individu yang merasa kesepian di lingkungan sekitarnya, interaksi daring dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan sosial baru. Dampaknya sangat bergantung pada cara seseorang menggunakan media sosial, jenis konten yang dikonsumsi, dan kualitas interaksi yang terbentuk. Berkomunikasi secara bermakna dengan orang lain tentu berbeda dengan sekadar menggulir layar selama berjam-jam tanpa tujuan yang jelas.

Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah perlu mendapat perhatian. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menemukan bahwa proporsi remaja dengan pola penggunaan media sosial bermasalah di 44 negara dan wilayah meningkat dari 7% pada 2018 menjadi 11% pada 2022. Pola ini ditandai dengan kesulitan mengendalikan penggunaan media sosial hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti bahwa semua penggunaan media sosial berbahaya, sebab dampaknya berbeda-beda bergantung pada kebiasaan dan kondisi setiap individu.

Pada akhirnya, kebahagiaan tidak dapat diukur hanya dari jumlah pengikut, tanda suka, atau komentar yang diterima di internet. Penggunaan media sosial yang lebih sehat dapat dimulai dengan membatasi waktu layar, memilih konten yang memberikan manfaat, dan berhenti mengikuti akun yang memicu perasaan rendah diri. Menjaga hubungan di dunia nyata serta menyediakan waktu untuk beristirahat tanpa gawai juga penting untuk mempertahankan keseimbangan hidup. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperoleh kebahagiaan dan koneksi sosial, tetapi sebaiknya tidak dijadikan tolok ukur utama untuk menilai harga diri maupun kualitas kehidupan seseorang.

Referensi

1. World Health Organization (WHO). (2024). Teens, Screens and Mental Health. https://www.who.int/europe/news/item/25-09-2024-teens–screens-and-mental-health

2. Pew Research Center. (2025). Teens, Social Media and Mental Health. https://www.pewresearch.org/internet/2025/04/22/teens-social-media-and-mental-health/

3. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (2024). Social Media and Adolescent Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK603435/

4. Sala, A., Porcaro, L., & Gómez, E. (2024). Social Media Use and Adolescents’ Mental Health and Well-Being: An Umbrella Review. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2024.100404

Image source: AI generated