Manisnya Konsistensi: Perjalanan Silmi Luthfiyah Membangun Mix Eat Me & Noora Bakes
Sebuah perjalanan idaman kita semua, memiliki sebuah bisnis yang lahir di awal masa perkuliahan, lalu bertahan dan justru berkembang hingga sang pendiri lulus dan melangkah lebih jauh. Itulah yang dijalani Silmi Luthfiyah, alumni Program Studi Creativepreneurship BINUS (Binusian 2024).
Bagi Silmi, dunia bisnis dan bangku kuliah bukan dua hal yang terpisah. Mix Eat Me, brand dessert pertamanya, berdiri pada Juli 2020 — hampir bersamaan dengan awal perkuliahannya. Lima tahun kemudian, brand itu melahirkan “adik”-nya: Noora Bakes, yang berdiri pada September 2025.
Dua Brand, Dua Segmen Pasar
Mix Eat Me dan Noora Bakes sama-sama bergerak di industri Food & Beverage (F&B), khususnya kategori dessert. Namun keduanya sengaja dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar yang berbeda.
Mix Eat Me berfokus pada birthday cake dan kreasi kue premium untuk segmen menengah hingga menengah atas — mengedepankan desain yang menarik, kualitas bahan, dan inovasi produk yang mengikuti tren pasar. Sementara Noora Bakes hadir dengan ciri khas crunchy donuts untuk segmen menengah, menawarkan produk berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau agar dapat dinikmati berbagai kalangan pelanggan.
“Pengalaman mengembangkan Mix Eat Me selama beberapa tahun menjadi bekal berharga dalam membangun Noora Bakes,” ungkap Silmi. Keputusan membangun brand kedua bukan langkah spontan, melainkan hasil dari pemahaman pasar yang ia bangun secara bertahap.
Berawal dari Minat, Dibangun dengan Riset
Ketertarikan Silmi pada dunia kuliner — khususnya dessert — menjadi titik awal. Namun ia tidak berhenti di sana. Ia melihat tren industri dessert yang terus positif dari tahun ke tahun, terutama minat generasi muda di Kota Bandung, dan memutuskan untuk menekuninya secara lebih serius.
Target pasarnya jelas: perempuan remaja hingga dewasa yang tidak hanya mencari cita rasa yang baik, tetapi juga menghargai estetika, kualitas, dan pengalaman dari setiap produk. Dari sinilah proses bisnisnya berjalan — mulai dari riset tren, pengembangan resep, produksi, pemasaran, hingga pelayanan pelanggan — dengan fokus pada kebutuhan dan kepuasan konsumen.
Kini, kedua brand beroperasi di wilayah Bandung Timur dengan penjualan yang didominasi secara online, dan aktif hadir di berbagai event bazar serta pameran kuliner untuk membangun kedekatan langsung dengan pelanggan. Layanan menjangkau Kota Bandung dan sekitarnya, dengan beberapa produk yang memungkinkan dikirim ke luar kota dengan tetap menjaga ketahanan dan kualitasnya.
Membagi Waktu antara Skripsi dan Bisnis
Menjalankan bisnis sambil kuliah tentu tidak mudah. Tantangan terbesar Silmi adalah membagi waktu antara kegiatan akademik dan pengembangan usaha. Puncaknya terjadi di semester akhir, ketika ia harus membagi fokus antara penyusunan skripsi, perkuliahan, pengembangan bisnis, dan berbagai proyek Mix Eat Me yang berjalan dalam waktu bersamaan.
Namun, justru dari tekanan itulah pelajaran paling berharga muncul. “Saya belajar untuk menyusun prioritas, mengatur jadwal secara efektif, serta memaksimalkan setiap kesempatan yang ada,” kenangnya. Berkuliah sambil berbisnis bahkan memberi keuntungan tersendiri: ia dapat memperkenalkan Mix Eat Me kepada teman-teman maupun dosen, memperluas jaringan sekaligus eksposur brand-nya.
Diakui Lewat Kompetisi

Perjalanan Silmi juga diwarnai berbagai pencapaian. Ia meraih TOP 10Best Pitching di BINUS Bandung (November 2023) dan menyabet Juara 1 Business Case Competition by DANA (Desember 2023) — pengakuan bahwa kemampuannya bukan hanya soal menciptakan produk, tetapi juga menyusun dan mengomunikasikan strategi bisnis.
Yang Dibawa dari Creativepreneurship
Bagi Silmi, Creativepreneurship BINUS bukan sekadar tempat belajar teori. “Saya tidak hanya mempelajari teori bisnis di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menerapkannya secara langsung,” ujarnya.
Kemampuan seperti problem solving, leadership, decision making, komunikasi, hingga adaptasi terhadap perubahan pasar ia asah lewat berbagai proyek selama kuliah. Wawasan itu pula yang membantunya mengambil keputusan bisnis yang lebih terarah dalam mengembangkan Mix Eat Me dan Noora Bakes.
“BINUS tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan akademis, tetapi juga membentuk pola pikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi entrepreneur yang siap menghadapi tantangan dunia nyata,” tutupnya.
Kisah Silmi adalah pengingat bahwa membangun bisnis tidak harus menunggu “waktu yang tepat” setelah lulus. Kadang, ide terbaik justru tumbuh bersamaan dengan proses belajar itu sendiri — dan yang membuatnya bertahan adalah ketekunan, konsistensi, serta keberanian untuk terus berinovasi
Comments :