Gengsi Profesi Memisahkan Fakultas, Sejarah Lahirnya Kedokteran Gigi Modern
Jika melihat kondisi sekarang, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) tampak seperti dua dunia yang benar-benar berbeda. Padahal, pemisahan itu berawal dari sejarah panjang yang melibatkan perubahan status profesi, perkembangan ilmu pengetahuan, dan persaingan untuk mendapatkan pengakuan. Istilah “gengsi” sering digunakan untuk menggambarkan konflik tersebut, meski secara historis yang terjadi lebih tepat disebut sebagai perebutan legitimasi dan kewenangan antara dua bidang yang sama-sama berkembang.
Pada Abad Pertengahan di Eropa, dokter bukanlah orang yang biasa melakukan tindakan bedah atau mencabut gigi. Pekerjaan seperti mencabut gigi, mengobati luka, hingga amputasi sederhana justru dilakukan oleh barber-surgeon, yaitu tukang cukur yang sekaligus merangkap sebagai praktisi bedah. Sementara itu, dokter lulusan universitas lebih banyak mempelajari teori, filsafat alam, dan pengobatan berdasarkan ajaran klasik. Perbedaan ini menciptakan hierarki sosial, di mana pekerjaan manual seperti mencabut gigi dianggap memiliki status lebih rendah dibandingkan praktik kedokteran akademik.
Memasuki abad ke-18, keadaan mulai berubah ketika ilmuwan Prancis Pierre Fauchard memperkenalkan pendekatan ilmiah terhadap perawatan gigi melalui bukunya Le Chirurgien Dentiste (1728). Ia mengembangkan teknik, alat, dan pemahaman anatomi yang menjadikan kedokteran gigi lebih dari sekadar pekerjaan mencabut gigi. Sejak saat itu, praktik kedokteran gigi mulai memiliki dasar ilmu yang kuat dan berkembang menjadi bidang yang membutuhkan pendidikan khusus.
Perubahan ini tidak berlangsung tanpa gesekan. Pada abad ke-19, ketika sekolah kedokteran gigi mulai bermunculan, muncul perdebatan mengenai apakah dokter gigi harus berada di bawah kendali dunia kedokteran atau berdiri sebagai profesi mandiri. Banyak dokter gigi memperjuangkan pendidikan, organisasi, dan lisensi tersendiri agar keahlian mereka diakui setara sebagai profesi kesehatan. Konflik inilah yang kemudian sering diringkas sebagai persoalan “gengsi”, padahal di baliknya terdapat persoalan status akademik, kewenangan praktik, dan identitas profesi.
Warisan sejarah tersebut masih terlihat hingga sekarang. Di banyak negara, termasuk Indonesia, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi memiliki kurikulum, rumah sakit pendidikan, serta izin praktik yang berbeda. Meski keduanya sama-sama mempelajari anatomi, fisiologi, dan dasar ilmu kesehatan pada tahap awal, jalur pendidikannya kemudian berkembang sesuai kebutuhan masing-masing profesi. Dengan demikian, pemisahan FK dan FKG bukan sekadar hasil perbedaan materi kuliah, tetapi juga hasil perjalanan sejarah panjang dari profesi yang pernah dipandang sebelah mata hingga akhirnya memperoleh pengakuan sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri.
Referensi
Weinberger, B. W. (1940). Did Dentistry Evolve from the Barbers, Blacksmiths or from Medicine? Bulletin of the History of Medicine. (Dikutip dalam halaman Pierre Fauchard Academy.)
Leake, D. (1961). Pierre Fauchard (1678–1761)—Father of Dentistry. New England Journal of Medicine, 264(22), 1150–1151.
Santos-Leite, É. G., dkk. (2024). Pierre Fauchard’s Contribution to Oral Medicine and Oral and Maxillofacial Pathology: An Historical Essay. Journal of the History of Dentistry.
Image Source
AI Generated
Comments :