shared by: Lusiana Devi (2802545705)
Creativepreneurship Binus University 

Burnout dan stres adalah masalah yang semakin meningkat di dunia kerja. Menurut Susan David, pendiri Harvard/McLean Institute of Coaching dan penulis Emotional Agility, burnout berbeda dari stres biasa, burnout dapat membuat Anda merasa “benar-benar kehabisan energi”. Sebagai seorang manajer atau pemimpin, Anda bertanggung jawab untuk mendukung tim Anda dalam menghadapi burnout. Namun, ini bisa menjadi tantangan besar, terutama ketika Anda sendiri merasa tertekan dan kelelahan. Dalam situasi seperti ini, penting untuk mengelola stres Anda sendiri terlebih dahulu, agar bisa memberikan dukungan yang efektif kepada tim.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk membantu tim Anda menghadapi burnout, bahkan ketika Anda juga sedang tertekan.

Jadikan Kesehatan Anda Sebagai Prioritas Utama. Sebelum Anda dapat membantu orang lain, Anda perlu memastikan kesehatan fisik dan mental Anda terlebih dahulu. Jika Anda tidak merawat diri sendiri, bagaimana Anda bisa merawat tim Anda? Makan dengan sehat, berolahraga secara teratur, tidur yang cukup, dan mencari waktu untuk relaksasi adalah langkah-langkah penting yang perlu Anda lakukan. Mengatur waktu untuk meditasi atau berbicara dengan seseorang yang bisa Anda percaya (sebaiknya bukan atasan Anda) juga sangat membantu. Bagikan pengalaman Anda dengan tim, sehingga mereka tahu bahwa Anda juga sedang berusaha mengelola stres, dan mereka bisa mencontoh cara Anda merawat diri.

Tangani Masalah Stres Secara Bersama-sama. Meskipun Anda belum sepenuhnya berhasil mengatasi stres, penting untuk menunjukkan kepada tim bahwa Anda memperhatikan masalah ini. Anda bisa mengajak tim untuk bersama-sama melakukan aktivitas yang bisa meredakan stres, seperti belajar meditasi bersama atau berbagi cara-cara mengelola stres yang efektif. Buat stres sebagai suatu tujuan tim untuk menjaga stres tetap terkendali dengan cara memastikan bahwa setiap anggota merasa mereka melakukannya dengan sukarela untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini. Rasa kemauan dari diri sendiri dapat membantu mengurangi gejala burnout.

Tunjukkan Empati. Burnout sering kali dianggap sebagai kegagalan pribadi, padahal sebenarnya banyak faktor eksternal yang mempengaruhi keadaan ini. Cobalah untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri atau anggota tim. Sebagai pemimpin, tunjukkan empati dengan mengakui bahwa semua orang sedang berusaha sebaik mungkin dengan sumber daya yang ada. Dalam masa-masa yang penuh tekanan seperti proyek besar dengan risiko tinggi, beri dorongan positif kepada tim, misalnya dengan mengatakan, “Kita bersama-sama menghadapi ini, dan saya tahu kita bisa melakukannya.”

Berikan Teladan yang Baik. Sebagai seorang pemimpin, perilaku Anda akan dicontoh oleh tim. Jika Anda terus-menerus bekerja tanpa henti, ini akan memberi pesan yang salah. Berikan contoh yang baik dengan memastikan Anda juga mengatur waktu untuk istirahat sebagai prioritas sebagai bentuk perhatian kepada kesejahteraan diri. Dorong tim untuk beristirahat secara teratur dan memastikan mereka tidak terjebak dalam rutinitas kerja tanpa henti. Selain itu, penting juga untuk menjaga batasan antara pekerjaan dan waktu pribadi. Misalnya, hindari mengirim email di luar jam kerja yang bisa mengganggu waktu istirahat anggota tim.

Fokus pada Tujuan dan Makna Pekerjaan. Seringkali burnout muncul karena adanya perasaan bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak sejalan dengan nilai-nilai pribadi. Anda merasa stres dan lelah, namun Anda terus bekerja dan bekerja, sambil melupakan apa yang membuat Anda tertarik pada karir dan organisasi yang anda jalani sejak awal. Sebagai pemimpin, Anda harus mengingatkan tim tentang mengapa pekerjaan mereka penting. Ciptakan rasa tujuan bersama di dalam tim dengan menjelaskan bagaimana kontribusi mereka mendukung misi organisasi dan kepentingan pelanggan. Ketika tim merasa memiliki tujuan yang jelas, mereka akan merasa lebih terhubung dan termotivasi untuk terus bekerja, meskipun dalam situasi yang penuh tekanan.

Dukung Tim Anda. Jika Anda melihat bahwa tim sedang bekerja dengan beban yang terlalu berat, Anda harus menjadi pembela bagi mereka. Jangan ragu untuk berbicara dengan atasan tentang dampak stres terhadap tim. Jelaskan bahwa tim Anda sudah berkomitmen penuh, namun kelelahan mulai mempengaruhi kinerja mereka, Jelaskan juga dampak yang akan terjadi jika terjadi kesalahan dan penurunan kualitas akibat kelelahan. Usulkan perubahan, seperti penundaan tenggat waktu atau pengurangan beban tugas. Berbicaralah dengan jujur mengenai apa yang diperlukan untuk menjaga moral tim dan kinerja yang lebih baik ke depannya, penting bagi pemimpin untuk membela karyawan mereka.

Jadilah Sumber Optimisme. Ketika situasi sangat sibuk dan penuh tekanan, peran Anda sebagai pemimpin sangat penting dalam menciptakan suasana positif. Tunjukkan optimisme kepada tim, bahkan di tengah tantangan besar. Sebagai contoh, ucapkan terima kasih kepada anggota tim yang telah berusaha keras, atau rayakan pencapaian mereka, meskipun kecil. Katakan, “Saya melihat Anda melakukan X. Terima kasih. Saya menghargainya.’. Dengan memupuk rasa kebersamaan dan dukungan sosial, tim Anda akan merasa lebih dihargai dan memiliki semangat untuk terus bekerja.

Prinsip-Prinsip Utama yang Harus Diingat

Lakukan:

  • Dorong tim Anda untuk mengambil istirahat secara teratur dan memanfaatkan kesempatan untuk memulihkan diri.
  • Dukung tim Anda dengan bahasa yang menginspirasi. Pesan Anda harus berbunyi, “Kita bersama-sama menghadapi ini.”
  • Dukung tim Anda. Jika beban kerja terlalu berat, tanyakan kepada atasan apakah tenggat waktu bisa dipindahkan atau tugas dialihkan.

Tidak Boleh Dilakukan:

  • Mengabaikan kesehatan dan kesejahteraan Anda. Rawat diri Anda dengan baik dan bagikan strategi pengelolaan stres Anda dengan tim.
  • Anggap burnout sebagai kegagalan pribadi. Sadari, baik secara pribadi maupun publik, bahwa orang-orang sudah melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang mereka miliki.
  • Terjebak dalam sikap negatif. Sebagai pemimpin, penting untuk tetap optimis dan menunjukkan rasa terima kasih kepada tim.

Studi Kasus: Jaga Kesehatan Diri dan Fokus pada Tujuan Besar Organisasi

Magdalena Mook, CEO dari International Coach Federation (ICF) organisasi nirlaba di Lexington, Kentucky, yang berfokus pada pengembangan tempat kerja mengatakan bahwa saat ia mulai merasakan tanda-tanda burnout, ia mengingatkan dirinya bahwa dirinya “sedang diawasi dan diperhatikan” oleh karyawan-karyawannya.

Magdalena menghadapi momen penuh tekanan menjelang konferensi tahunan organisasinya. Acara yang melibatkan peserta global itu memerlukan perencanaan rumit dan jam kerja panjang, hingga emosi tim pun mulai memuncak. Sebagai pemimpin, Magdalena sadar bahwa sikap dan energinya berpengaruh besar terhadap tim. Untuk menjaga stabilitas emosionalnya, ia rutin berolahraga setiap hari. Aktivitas fisik tersebut membantunya menjernihkan pikiran dan tetap reflektif dalam mengambil keputusan.

Ia juga berusaha mengalihkan fokus tim dari tekanan tugas harian ke tujuan besar organisasi. Magdalena secara konsisten mengingatkan timnya bahwa mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. “Visi kami adalah menjadikan coaching sebagai bagian penting dari masyarakat,” katanya. Mengingat misi tersebut membuat beban kerja terasa lebih bermakna dan layak diperjuangkan.

Setelah acara selesai, Magdalena mengambil waktu untuk merayakan keberhasilan timnya. Ia mengakui dan mengapresiasi kerja keras mereka. “Kami bersantai sejenak dan bersulang untuk keberhasilan kami dengan segelas sampanye,” katanya. “Mengucapkan terima kasih punya dampak besar.”

References

Knight, R. (2019). How to Help Your Team with Burnout When You’re Burned Out Yourself. Harvard Business Review.

From: https://www.shrm.org/topics-tools/news/employee-relations/how-to-help-team-burnout-youre-burned, https://hbr.org/2019/03/how-to-help-your-team-with-burnout-when-youre-burned-out-yourself  Retrieved on May 4, 2025, 11.30 PM