Di ruang layanan kesehatan, setiap detik berarti. Tenaga medis harus bergerak cepat, memantau kondisi pasien, sekaligus menjaga keamanan diri dan lingkungan sekitar. Namun dalam praktiknya, proses pemeriksaan tanda vital masih sering bergantung pada kontak langsung dan alat manual. Situasi ini tidak selalu efisien, terutama ketika jumlah pasien meningkat dan waktu pemeriksaan terbatas.

Kondisi tersebut bukan sekadar soal kenyamanan kerja, tetapi juga kualitas pelayanan. Kontak berulang meningkatkan risiko penularan penyakit, sementara proses pengukuran manual memakan waktu dan energi tenaga kesehatan. Di sisi lain, kebutuhan akan pemantauan kondisi pasien secara cepat dan konsisten semakin penting dalam sistem pelayanan modern. Tanpa dukungan teknologi, tenaga kesehatan harus terus menyeimbangkan antara kecepatan, akurasi, dan keamanan kerja.
Melihat kebutuhan tersebut, tim dosen BINUS melalui program Hibah PkM HIP 2025 menjalankan program pengembangan perangkat contactless vital sign monitoring sebagai solusi pemantauan kesehatan tanpa sentuhan fisik. Program ini dipimpin oleh Dr. Syauqi Abdurrahman Abrori, S.T., M.T. (Automotive Robotics Engineering BASE) bersama Dr. Eng. Ir. Zener Sukra Lie, S.T., M.T. (S1 – SISTEM KOMPUTER) , Elioenai Sitepu, S.T., M.Sc., Ph.D. (Master of Industrial Engineering), Ir. Yosica Mariana, ST., M.T (Product Design Engineering BASE) dan Feri Setiawan, S.Kom, M.Eng., Ph.D. (Computer Science BINUS University International), serta melibatkan mahasiswa Jeffrey, Darren Christian, dan Eduardo Ernesto Sugito. Pendekatan yang digunakan tidak hanya merancang teknologi, tetapi juga mengujinya dalam konteks layanan nyata, memahami alur kerja tenaga medis, dan menyesuaikan perangkat agar praktis digunakan di lingkungan klinis.
![]() |
![]() |
Pengembangan ini menghasilkan prototipe alat pemantau tanda vital yang mampu membaca kondisi pasien tanpa kontak langsung, sekaligus mengurangi beban kerja pengukuran berulang. Dalam prosesnya ditemukan beberapa tantangan seperti sensitivitas terhadap pencahayaan dan gerakan pasien, yang kemudian menjadi dasar penyempurnaan sistem agar lebih stabil dan ergonomis. Artinya, teknologi tidak hanya dibuat di laboratorium, tetapi disesuaikan dengan kondisi nyata lapangan.

Upaya ini menunjukkan bahwa inovasi kesehatan bukan hanya tentang kecanggihan alat, tetapi tentang relevansi terhadap kebutuhan pengguna. Ketika teknologi dirancang bersama pemahaman terhadap praktik kerja tenaga medis, hasilnya bukan sekadar perangkat baru, melainkan sistem pendukung layanan yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. Kolaborasi akademisi dan mitra layanan kesehatan pun menjadi jembatan agar teknologi benar-benar hadir sebagai solusi, bukan sekadar konsep.
... ... ...