Di Desa Wisata Bendosari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, sapi menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Peternakan yang berkembang membuka peluang bagi desa untuk mengenalkan wisata edukasi, mulai dari pemerahan susu hingga pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas. Di balik potensi tersebut, ada tantangan yang perlu dijawab: bagaimana menjelaskan proses pengolahan limbah menjadi energi agar mudah dipahami oleh setiap pengunjung? Pengelola selama ini memberikan penjelasan secara langsung di lokasi instalasi biogas. Namun, pengunjung membutuhkan media pendukung yang dapat membantu mereka melihat dan memahami proses tersebut dengan lebih jelas.

Edukasi biogas di Desa Wisata Bendosari memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pengelolaan limbah organik dan pemanfaatan energi terbarukan. Kotoran ternak yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan masalah lingkungan, sedangkan pengolahan yang tepat dapat menghasilkan biogas sebagai sumber energi alternatif serta residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pengetahuan ini dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk melihat limbah dari sudut pandang yang berbeda. Bagi desa wisata, pemahaman yang lebih baik juga membantu pengunjung mengenal hubungan antara aktivitas peternakan, teknologi tepat guna, dan upaya menjaga lingkungan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Bina Nusantara melalui skema hibah internal BPL–TTG (Binus Peduli Lingkungan–Teknologi Tepat Guna) mengembangkan program Pengembangan Media Edukasi Biogas untuk Mendukung Lingkungan Berkelanjutan di Desa Wisata Bendosari, Kabupaten Malang. Kegiatan ini berlangsung sepanjang Januari–Desember 2025, dengan observasi dan wawancara lapangan pada 28 Mei 2025. Dipimpin oleh Safitri Aprillia Putri, S.Sn., M.Ds., bersama anggota Cahyaning Umul Chasanah Nursyifani, S.T., M.Ds.; Jevon Jeremy, S.Ds., M.Sn.; Dian Pratiwi Willyarti, S.Ds., M.Ds.; dan Windaningsih, S.Sos., M.I.Kom., tim berkolaborasi dengan Adidaya Initiative, pemerintah desa, pengelola wisata, serta kelompok ternak. Prosesnya diawali dengan pengamatan instalasi biogas, wawancara untuk menggali kebutuhan mitra, dan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD). Masukan dari lapangan kemudian menjadi dasar pengembangan media edukasi cetak dan digital yang dirancang agar informasi teknis dapat disampaikan secara lebih menarik dan mudah dipahami.

Hasil program berupa sejumlah media pembelajaran yang dapat mendampingi penjelasan langsung di lokasi wisata. Luaran yang dihasilkan mencakup video animasi edukatif, brosur, flyer, poster informasi, poster infografis, X-banner, serta Bio-Cycle AR Diorama, yaitu alat peraga berbasis augmented reality (AR) yang menggambarkan tahapan pengolahan limbah sapi menjadi biogas. Pada 11 Agustus 2025, tim bersama mitra dan peserta dari perangkat desa serta warga melakukan diskusi, uji coba, dan evaluasi rancangan media. Selanjutnya, pada 17 Oktober 2025, tim menyerahkan hasil akhir sekaligus memberikan pelatihan dan pembekalan kepada mitra mengenai pengelolaan media edukasi. Rangkaian ini menghasilkan perangkat edukasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan proses pengumpulan limbah, fermentasi di dalam digester, penampungan gas, hingga pemanfaatannya. Laporan akhir mencatat bahwa produk purwarupa telah selesai dibuat. Meski demikian, laporan belum mencantumkan angka kuantitatif mengenai peningkatan pemahaman pengunjung atau perubahan perilaku masyarakat, sehingga dampak tersebut masih perlu dievaluasi lebih lanjut.
Keberadaan media edukasi memberikan peluang bagi Desa Wisata Bendosari untuk mengembangkan pengalaman belajar yang lebih informatif bagi masyarakat maupun wisatawan. Agar manfaatnya bertahan, Adidaya Initiative dan pengelola desa diharapkan dapat terus menggunakan, merawat, serta memperbarui media sesuai kebutuhan di lapangan. Media tersebut juga berpotensi mendukung kegiatan kunjungan sekolah, pembelajaran mahasiswa, dan pengembangan paket wisata berbasis lingkungan. Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, pengetahuan tentang energi terbarukan dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagi Community Empowerment BINUS, keberlanjutan upaya seperti ini terletak pada kemampuan masyarakat dan mitra untuk meneruskan manfaat program secara mandiri, sehingga potensi lokal dapat terus berkembang seiring tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan.
... ... ...