SIAPA YANG BICARA ATAU APA YANG DIKATAKAN?

Oleh DEBORA JESSICA DESIDERIA TANYA (Agustus 2026)

Salah satu hal yang membuat saya tidak sepenuhnya menaruh hati pada moral adalah kemampuannya meraup dukungan massa dengan berganti-ganti topeng. Dalam sebuah perkumpulan diskusi, saya mengamati keluhan kawan-kawan di tengah asap cerutu yang melambung dan gerutu yang mengudara, tentang betapa moralis dan sadisnya netizen ketika menggeruduk skandal seseorang, apalagi jika seorang intelektual yang jadi pelakunya. Sebagai permisalan,

“Demotivasi adalah tentang kemampuan kita untuk menolak segala harapan-harapan yang dibuatkan oleh orang lain. Orang lain itu seringkali bicara dengan mudahnya, tanpa mempertimbangkan kenyataan yang kita punya.”

“Halah… Ngomongin moral, kamu aja kesandung skandal dan kena cancel”.

“Iyalah kamu ngomong gitu, orang kamu jadi bagian orang yang kena cancel”

Pemikirannya yang dahulu dielu-elukan karena kebajikannya yang manis, kini diasingkan dan diabadikan sebagai tahanan moral untuk seterusnya. Dan itu tentu atas nama moral. Ada benarnya juga filosofi dari Moksha Patam (kini kita mengenalnya sebagai ular tangga), bahwa puncak yang seringkali dipandang telah mendekatkan seseorang pada keberhasilan spiritual, justru menjadi titik paling rawan yang ditandai dengan keberadaan ular panjang yang mengawasinya dan bersiap menurunkan siapa saja ke langkah dasar lagi.

Dalam tataran kebiasaan pun penyatuan antara kewajiban moral dan sikap seseorang lumrah ditemui, dan pemikiran sehebat dan seindah apapun dapat mudah gugur oleh isu tak sedap yang berujung skandal. Lantas, haruskah kebenaran suatu gagasan bergantung pada kebajikan moral orang yang mengemukakannya? Pada kenyataannya, sangat mungkin bagi seseorang seperti kaum intelektual sekalipun menghasilkan argumen yang valid meski memiliki kepribadian yang secara moral problematis. Apa salahnya? Mengapa pada orang yang secara moral sangat baik tetapi argumennya lemah tidak mendapat penilaian sebanding? Jika moral-lah yang lebih kita kejar pada diri seseorang, sebenarnya tidak perlu jauh-jauh, bukankah pada diri kita sendiri moral itu sudah ada?

Nah, lantas apa yang janggal dari sebuah pernyataan seperti, “Halah… Ngomongin moral, kamu aja kesandung skandal dan kena cancel” ?

Pernyataan tersebut tidaklah menilai substansinya, melainkan menilai kepribadian penuturnya. Ini merupakan argumentum ad hominem (abusive), suatu argumen yang diarahkan untuk menyerang pribadi dengan menunjukkan kelemahan atau kejelekan lawan bicaranya.

Mengingat cukup lumrahnya ini ditemukan di sekitar kita, maka besar kemungkinan kebiasaan semacam ini tidak lahir dari ruang hampa. Yang paling terasa adalah pengaruh budaya, wadah di mana perbuatan alamiah dan jasmaniah, hingga kelakuan agresif sekalipun memeroleh legitimasinya untuk diterima. Di Indonesia sendiri, banyak dari kita yang sejak kecil ditanamkan paham untuk mempertanggungjawabkan secara moral apa yang keluar dari mulut kita. Figur-figur yang dijadikan teladan untuk ini ada pada guru, rohaniwan, pejabat, semua dari mereka diharapkan “walk the talk”. Akibatnya, manakala ada jarak penerapan antara tutur dan laku, kita kehilangan legitimasi atas apa yang kita tuturkan. “Kalau hidupmu saja berantakan, kenapa aku harus dengerin kamu sih?”.

Indonesia juga tidak begitu familiar dengan tradisi analitik yang memperdebatkan apakah suatu proposisi itu benar. Di banyak budaya Asia, dan Indonesia salah satunya, otoritas pembicara ikut menjadi bagian dari penilaian terhadap isi pembicaraannya. Pengaruh agama harus diakui menyumbang derajat tertentu kerancuan berpikir dalam konteks argumentum ad hominem (abusive). Sekalipun agama memberikan kontrol terhadap moral lewat ajaran mengasihi dengan mengampuni kesalahan orang lain, namun seringkali pengampunan itu harus berbenturan keras dengan ketajaman untuk meraba perbuatan orang lain apakah termasuk dosa atau bukan. Coba renungkan, kita lebih sering diasah kepekaannya untuk menyeleksi perilaku sebagai dosa atau menganalisis perilaku dengan lensa saling mengasihi? Terus terang saja, menurut saya pribadi, diskursus pemikiran yang harus terhenti karena mempersoalkan moral tokohnya akan terasa kering dan nyaris tak menyumbang sesuatu yang lebih berarti daripada sebatas pameran “cuci tangan”.

Louis Althusser, filsuf Marxis yang melalui pemikirannya menjelaskan bagaimana ideologi membentuk kesadaran dan tindakan manusia, justru terjerumus dalam tragedi ketika ia mencekik istrinya hingga tewas pada 1980 saat mengalami gangguan mental yang berat. Karena kondisi kejiwaannya, ia dinyatakan tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana. Gilles Deleuze, yang mengusung jurisprudence untuk membayangkan hukum sebagai ruang yang terbuka bagi perbedaan dan keberagaman kemungkinan dapat hidup, justru menutup kemungkinan bagi hidupnya sendiri ketika penyakit yang dideritanya tak lagi tertanggungkan, hingga ia memutuskan untuk bunuh diri. Meski begitu nama mereka tetap mewarnai diskursus, bahkan hingga hari ini pemikirannya masih menemukan relevansinya.

Jika boleh memberikan pendapat, barangkali kebiasaan argumentum ad hominem, setidaknya untuk konteks Indonesia, sedikit-banyak dipengaruhi oleh bagaimana pendidikan itu diwariskan melalui figur. Ini berlainan dengan tradisi akademik yang mewariskan pendidikan melalui teks dan argumentasi. Tentu ini masih terbuka tuk diperdebatkan dan kenyataannya jauh lebih kompleks.

Bagaimana dengan pernyataan, “Iyalah kamu ngomong gitu, orang kamu jadi bagian orang yang kena cancel” ?

Mungkin saja ia tak benar-benar mengenal siapa yang sedang ia komentari itu. Bahkan dalam taraf minimal seperti berkenalan pun mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.

Terhadap fenomena ini, saya terkadang berpikir [dan mengevaluasi diri], mengapa terhadap diri sendiri, kita menuntut pengenalan sebelum menyayangi (memahami) seseorang, tetapi terhadap orang lain tidak menuntut pengenalan sebelum menghakiminya? Atau mengapa pada diri sendiri, kita menuntut orang lain dengan keyakinan “tak kenal maka tak sayang”, tetapi terhadap diri orang lain seringkali keyakinan yang diberlakukan justru “sok kenal, sok dekat”?

Kita enggan mengenal orang asing, tetapi tidak enggan menyimpulkan siapa dirinya. Kebiasaan tersebut tampak pula dalam praktik argumentum ad hominem circumstantial. Alih-alih menguji alasan atau kebenaran yang diajukan seseorang, perhatian lebih dahulu diarahkan pada dugaan mengenai motif, afiliasi, atau kepentingannya. Pendapat tidak lagi dinilai berdasarkan kekuatan argumennya, melainkan berdasarkan dugaan mengenai siapa diuntungkan oleh argumen tersebut.

Bersikap kritis terhadap potensi konflik kepentingan, terlebih dalam tradisi akademik memang penting, tetapi cara penyampaiannya jangan sampai menyerempet pada tuduhan tak berdasar. Misalnya, terhadap argumen tadi, kita dapat mengatakan, “Tapi, bukankah seseorang dapat mengemukakan pandangan yang tepat meskipun ia tidak mengetahui seluruh keadaan kita? Toh, seorang dokter yang baru bertemu pasien belum tentu tahu seluruh hidup pasien, tetapi ia bisa memberi nasihat yang tepat, misalnya, menyuruh kita untuk jangan terlalu stres memikirkan pendapat orang lain, ya… meskipun orang yang PDKT juga bisa mengatakannya”. (***)

Referensi

Maulana, S. Kumpulan Kalimat Demotivasi: Panduan Menjalani Hidup Biasa-biasa Saja. Buruan & Co, 2021.

Peursen, C.A. van, Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius, 1988.

Sidharta, B.A., Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah, Bandung: Reflika Aditama, 2008.

Tanya, J. “Ada yang Indah dari Ular Tangga”, Medium, 2026, https://medium.com/@officiajessica19/ada-yang-indah-dari-ular-tangga-6012f2a69bbd


... ... ...