Dukungan infrastruktur, penguatan produk lokal, pelestarian budaya, keselamatan wisata, transformasi digital, dan ekonomi sirkular dirangkai dalam satu program pemberdayaan masyarakat selama tiga hari.

Masyarakat, peserta, dan tim pelaksana dalam rangkaian kegiatan pemberdayaan di Desa Sibandang.
Desa Sibandang di Tapanuli Utara memiliki kekuatan yang saling melengkapi: lanskap Danau Toba, budaya lokal yang hidup, serta hasil pertanian dan usaha masyarakat. Potensi tersebut memerlukan akses yang memadai, kapasitas pengelolaan destinasi, dan peluang ekonomi yang benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, BINUS University dan Kementerian Pariwisata berkolaborasi dalam program pemberdayaan masyarakat Desa Sibandang pada 5–7 Juli 2026. Program ini memadukan pengembangan ekowisata berkelanjutan, hilirisasi produk lokal, transformasi digital, dan penerapan ekonomi sirkular. Kegiatan dilaksanakan di Kantor Desa Sibandang dan dilengkapi agenda lapangan di Bukit Natisuk.
Sebelum pelatihan dimulai, BINUS University telah memberikan dukungan dana untuk pembangunan akses jalan dan pegangan menuju Bukit Natisuk. Dukungan tersebut membantu meningkatkan aksesibilitas kawasan sekaligus memperkuat kesiapan salah satu daya tarik wisata Desa Sibandang.

Pembangunan akses menuju Bukit Natisuk sebagai bagian dari dukungan awal BINUS University.
Pada 6 Juli 2026, peserta dan dosen mengunjungi Bukit Natisuk dalam agenda peresmian akses tersebut. Peresmian ini menandai kesinambungan antara pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas masyarakat. Akses yang lebih aman dan mudah dijangkau menjadi langkah awal agar potensi kawasan dapat dikelola sebagai bagian dari pengalaman wisata Desa Sibandang.
Rangkaian kegiatan dibuka pada Minggu, 5 Juli 2026, oleh Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kementerian Pariwisata, Ika Kusuma Permana Sari. Sejak hari pertama, pelatihan diarahkan pada keterampilan yang dapat diterapkan masyarakat dalam mengelola sumber daya lokal secara produktif dan berkelanjutan.

Peserta mengikuti pembukaan dan pelatihan di Kantor Desa Sibandang.
Chef Trias Septyoari Putranto, SST.Par., M.M., CHE, memandu praktik pengolahan mango candy dan cokelat kopi. Pelatihan ini memperlihatkan peluang untuk mengolah komoditas lokal menjadi produk yang lebih tahan simpan, memiliki nilai jual lebih tinggi, dan dapat dikembangkan sebagai oleh-oleh khas Desa Sibandang.

Praktik pengolahan produk pangan lokal.
Peserta juga mengikuti praktik pembuatan briket biomassa yang disampaikan oleh Ir. Tota Pirdo Kasih, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. Materi tersebut memperkenalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi alternatif sekaligus membuka pembahasan mengenai pengelolaan sumber daya dan residu secara lebih bertanggung jawab.

Pengenalan pembuatan briket biomassa.
Pada hari kedua, masyarakat mengikuti simulasi penyambutan wisatawan melalui prosesi ulosi. Simulasi ini menempatkan budaya lokal bukan sekadar sebagai atraksi, tetapi sebagai dasar untuk membangun pengalaman wisata yang khas, hangat, dan menghormati identitas masyarakat.
Kesiapan destinasi juga diperkuat melalui pelatihan pendampingan wisatawan, visitor safety, dan identifikasi titik rawan oleh Dr. Ir. Oki Setyandito, S.T., M.Eng., IPM, APEC Eng., ASEAN Eng. Materi ini membantu peserta memahami bahwa kualitas destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam dan keramahan pelayanan, tetapi juga oleh kemampuan memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung.
Irwansyah, S.Kom., M.Ds., memberikan pelatihan inovasi kemasan berbasis potensi alam dan budaya. Peserta mempelajari peran kemasan dalam melindungi produk, menyampaikan identitas lokal, dan meningkatkan daya tarik produk di hadapan wisatawan maupun konsumen yang lebih luas.

Pelatihan inovasi kemasan untuk memperkuat identitas dan daya saing produk masyarakat.
Transformasi digital diperkenalkan melalui pelatihan branding UMKM menggunakan Google Maps oleh Ericky Benna Perolihin Manurung, S.Kom., M.Kom. Kehadiran digital yang tertata membantu lokasi usaha, produk, dan layanan masyarakat lebih mudah ditemukan oleh wisatawan dan calon konsumen.
Promosi destinasi juga diperkuat melalui Tourism Photo Challenge dan materi “Saatnya Menjadi Vlogger” yang disampaikan oleh Dr. Dimas Yudistira Nugraha, S.S., M.M. Masyarakat didorong untuk mendokumentasikan lanskap, budaya, produk lokal, dan aktivitas wisata melalui konten visual yang informatif serta mudah dibagikan di media digital.

Agenda lapangan di Bukit Natisuk menghubungkan dukungan infrastruktur dengan pengembangan pengalaman wisata.
Hari ketiga berfokus pada penguatan ekonomi sirkular dan kelembagaan masyarakat. Prof. Retno Dewanti, S.Si., M.M., Ph.D., memfasilitasi workshop ekonomi sirkular melalui pengembangan Kandang Ayam Koperasi Merah Putih. Peserta diajak memahami model kegiatan ekonomi yang mengoptimalkan sumber daya, mengurangi pemborosan, dan memperluas manfaat bagi komunitas lokal.
Penguatan kelembagaan dilanjutkan melalui pelatihan digitalisasi koperasi oleh Dr. Maryani, S.Kom., MMSI., CDMS, CBDMP. Digitalisasi diharapkan membantu koperasi meningkatkan pencatatan, koordinasi, dan pelayanan sehingga dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih efektif.
Rangkaian program ditutup dengan Focus Group Discussion untuk menyusun rencana implementasi. Forum ini mempertemukan peserta dan narasumber untuk menentukan langkah tindak lanjut dari berbagai pelatihan yang telah diberikan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan pada penerapan yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa pengembangan desa wisata membutuhkan kerja yang saling terhubung. Infrastruktur membantu membuka akses; pelatihan produk dan kemasan memperkuat peluang usaha; budaya dan keselamatan membentuk kualitas pengalaman wisata; sedangkan promosi digital, koperasi, dan ekonomi sirkular mendukung keberlanjutan pengelolaan destinasi.
Melalui sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Desa Sibandang diharapkan semakin siap mengembangkan ekowisata yang bertumpu pada alam dan budaya, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
