Menenun Inklusivitas Melalui Seni: Kisah Tab Space di Ekraf Design Festival 2025

Dunia desain seringkali dipandang hanya sebatas estetika visual, namun bagi Imaniar R. Waridha, S.Ds., M.Ds., desain adalah jembatan empati yang menghubungkan berbagai spektrum manusia. Sebagai dosen Desain Komunikasi Visual di Binus University Bandung, Imaniar melaksanakan misi mendalam dalam kegiatan pengabdian masyarakatnya yang bertajuk Art Merchandising of Supported Studio. Melalui wadah bernama Tab Space, sebuah studio desain pendukung bagi seniman neurodivergen di Bandung, ia membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Di sini, seni bukan sekadar ekspresi diri, melainkan instrumen pemberdayaan yang memberikan ruang bagi individu dengan kebutuhan khusus untuk berkarya secara profesional dan mandiri.

Puncak dari perjalanan inspiratif ini terangkum dalam perhelatan Ekraf Design Festival 2025 yang berlangsung meriah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 3 Desember 2025. Bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional, Imaniar hadir sebagai pembicara dalam sesi Design Speaks Identity, Memory, and Shared Experience. Di hadapan sekitar 40 peserta, ia berbagi kisah tentang bagaimana produk merchandise dapat menjadi media narasi visual yang kuat. Kehadirannya di festival strategis ini bukan sekadar presentasi teknis, melainkan sebuah pernyataan bahwa ekosistem ekonomi kreatif Indonesia harus menjadi tempat yang inklusif bagi semua talenta, termasuk para seniman neurodivergen.

Melalui pendekatan art merchandising, Tab Space mentransformasi karya seni murni menjadi produk komersial yang aksesibel bagi masyarakat luas. Proses ini dilakukan melalui kolaborasi yang setara antara desainer neurotipikal dan seniman neurodivergen, di mana identitas dan memori kolektif dituangkan ke dalam bentuk fisik yang fungsional. Praktik ini tidak hanya mendukung keberlanjutan studio secara ekonomi, tetapi juga menjadi batu loncatan bagi para seniman untuk terlibat dalam proyek yang lebih besar, mulai dari pameran hingga kolaborasi dengan merek ternama. Inilah wujud nyata bagaimana desain dapat menghidupkan kembali narasi budaya sekaligus menciptakan nilai bersama dalam masyarakat.

Dampak dari kegiatan ini pun selaras dengan komitmen global, mendukung berbagai poin dalam Sustainable Development Goals, mulai dari Pendidikan Berkualitas, SDG 4, hingga Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 8. Dengan fokus pada pengurangan kesenjangan, SDG 10, dan kemitraan untuk mencapai tujuan, SDG 17, inisiatif ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan seperti BINUS University memiliki peran krusial dalam menciptakan perubahan sosial yang nyata. Keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari angka, melainkan dari senyum dan rasa percaya diri para seniman yang kini karyanya dihargai dan diakui oleh publik secara luas.

Kisah Tab Space mengingatkan kita bahwa setiap goresan tangan memiliki cerita, dan setiap cerita layak untuk didengar. Mari kita terus mendukung ekosistem kreatif yang inklusif agar lebih banyak lagi potensi tersembunyi yang dapat bersinar dan menginspirasi dunia. BINUS University akan terus berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat melalui inovasi dan kasih sayang, karena setiap kontribusi sekecil apa pun adalah langkah menuju masa depan yang lebih setara.-

... ... ...