Pertumbuhan konsumsi masyarakat yang terus meningkat berjalan beriringan dengan bertambahnya volume sampah plastik rumah tangga. Sebagai salah satu jenis limbah yang sulit terurai, plastik menimbulkan berbagai persoalan lingkungan, mulai dari pencemaran tanah dan sungai, penyumbatan saluran drainase yang berkontribusi terhadap banjir, hingga penurunan kualitas lingkungan perkotaan.

Di sisi lain, sampah plastik yang berhasil dikumpulkan masyarakat umumnya masih memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah. Sebagian besar limbah tersebut hanya dijual kepada Bank Sampah atau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan harga sekitar Rp2.000 per kilogram. Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi dari limbah plastik sebenarnya masih sangat besar untuk dikembangkan. Tantangannya bukan hanya bagaimana mengurangi jumlah sampah, tetapi bagaimana mengubah sampah menjadi sumber daya yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Persoalan sekaligus peluang tersebut menjadi perhatian di Klampok Kasri RW 02, Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Masyarakat Klampok Kasri telah memiliki budaya memilah dan mengumpulkan sampah plastik secara rutin. Namun, aktivitas tersebut masih banyak berhenti pada tahap pengumpulan dan penjualan bahan mentah sehingga belum memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Padahal, Klampok Kasri memiliki modal sosial yang kuat. Keterlibatan aktif Bapak RW, Ibu-Ibu PKK, Ketua UMKM, para tetua kampung, serta warga yang berprofesi sebagai wirausaha menjadi fondasi penting untuk membangun kegiatan ekonomi berbasis masyarakat. Potensi tersebut membuka peluang bagi Klampok Kasri untuk berkembang menjadi wilayah yang tidak hanya peduli terhadap lingkungan, tetapi juga mampu mengembangkan ekonomi kreatif dan ekonomi sirkular.

Klampok Kasri juga memiliki sejumlah keunggulan strategis. Wilayah ini berada di pusat Kota Malang, telah memiliki sistem pengumpulan sampah plastik, memiliki ruang penyimpanan alat produksi, serta mendapatkan pengakuan sebagai Program Kampung Iklim (PROKLIM) Tingkat Utama. Selain itu, agenda tahunan “Klampok Kasri Jaman Biyen” berpotensi menjadi media promosi sekaligus ruang untuk menguji penerimaan pasar terhadap produk lokal yang dihasilkan masyarakat.

Dari Limbah Menjadi Peluang Ekonomi

Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui Edu Eco-Furniture Village, salah satu program unggulan BINUS Untuk Negeri 2026 yang mengintegrasikan konsep circular economy, community empowerment, dan experiential learning.

Program ini memiliki gagasan sederhana namun berdampak: mengubah limbah plastik rumah tangga menjadi produk eco-furniture yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, seperti meja, kursi, panel dekoratif, dan berbagai produk interior lainnya. Melalui pemanfaatan teknologi yang sederhana dan dapat dipelajari masyarakat, limbah plastik tidak lagi berhenti sebagai bahan mentah yang dijual dengan harga rendah, tetapi diolah menjadi material dan produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Transformasi tersebut menjadi penting karena pertumbuhan ekonomi masyarakat tidak hanya dapat didorong melalui peningkatan jumlah produksi, tetapi juga melalui peningkatan nilai tambah dari sumber daya yang telah dimiliki. Dalam konteks Klampok Kasri, sumber daya tersebut salah satunya adalah limbah plastik yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Dengan demikian, Edu Eco-Furniture Village tidak hanya berbicara mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi—mulai dari mengumpulkan bahan baku, mengolah material, menghasilkan produk, membangun merek, memasarkan, hingga menjangkau konsumen.

Living Laboratory untuk Masyarakat dan Mahasiswa

Lebih dari sekadar program lingkungan, Edu Eco-Furniture Village dirancang sebagai sebuah living laboratory yang mempertemukan masyarakat, mahasiswa, dosen, pemerintah, dan mitra industri dalam satu ekosistem kolaboratif.

Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk tidak hanya menerapkan ilmu yang dipelajari di kelas, tetapi juga menghadapi persoalan nyata dan menghasilkan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Pada saat yang sama, masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan.

Kekuatan program terletak pada kolaborasi berbagai disiplin ilmu. Entrepreneur Business Creation berperan dalam menyusun Business Model Canvas (BMC), membangun struktur organisasi kelompok usaha, mengembangkan strategi digital marketing, menentukan pricing strategy, serta merancang model bisnis yang berkelanjutan.

Desain Interior berfokus pada aspek teknis dan kreatif produksi, mulai dari pelatihan penggunaan mesin, pengolahan limbah plastik menjadi eco-sheet, eksplorasi material, hingga perancangan dan produksi eco-furniture yang memperhatikan estetika, ergonomi, dan fungsi.

Sementara itu, Desain Komunikasi Visual (DKV) mengembangkan identitas visual program melalui pembuatan logo sebagai bagian dari upaya memperkuat citra wilayah binaan.

Bidang Psikologi berperan dalam membangun emotional engagement melalui storytelling, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai fungsi dan estetika, tetapi juga memiliki cerita dan nilai emosional yang dapat dikomunikasikan kepada konsumen.

Public Relations mendukung pengembangan branding kawasan, pelatihan public speaking masyarakat, serta penguatan komunikasi dengan media, pemerintah, maupun calon mitra.

Keseluruhan ekosistem tersebut dikoordinasikan oleh Teach For Indonesia (TFI) sebagai lead organizer yang memastikan keterpaduan kontribusi setiap disiplin ilmu dan menjaga agar seluruh kegiatan tetap berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.

Enam Tahap Workshop Membangun Kapasitas Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat dilakukan secara bertahap melalui enam rangkaian workshop yang dirancang untuk membangun kemampuan dari sisi bisnis, produksi, pemasaran, hingga komunikasi.

Program dimulai melalui Workshop 1: Inspirational Program & Business Model Canvas pada 7 Februari 2026. Tahap ini menjadi fondasi awal untuk memperkenalkan arah pengembangan program sekaligus menyusun model bisnis melalui Business Model Canvas.

Selanjutnya, Workshop 2: Inspirational Program #2 & Pembentukan Struktur Internal dilaksanakan pada 14 Februari 2026. Selain memberikan penguatan inspirasi, workshop ini membangun struktur internal yang menjadi dasar bagi pengembangan kelompok usaha masyarakat.

Memasuki tahap produksi, Workshop 3: Penggunaan Mesin dan Pembuatan Eco-Sheet dilaksanakan pada 25 April 2026. Masyarakat mulai mendapatkan keterampilan dalam menggunakan mesin produksi dan mengolah limbah plastik menjadi eco-sheet sebagai material dasar eco-furniture.

Tahap berikutnya dilanjutkan melalui Workshop 4: Pembuatan Produk, Finance & Digital Marketing pada 2 Mei 2026. Pada tahap ini, proses produksi mulai diintegrasikan dengan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan dan strategi pemasaran digital.

Kemudian, Workshop 5: Pembuatan Logo, Branding, Quality Control Product, dan Pricelist pada 23 Mei 2026 memperkuat identitas produk sekaligus memperkenalkan aspek kualitas dan penentuan harga sebagai bagian penting dalam membangun produk yang memiliki daya saing.

Rangkaian pendampingan dilanjutkan dengan Workshop 6: Public Speaking pada 6 Juni 2026. Pelatihan ini membekali masyarakat dengan kemampuan untuk memperkenalkan produk, menyampaikan cerita di balik produk, serta berkomunikasi dengan konsumen dan calon mitra.

Rangkaian workshop tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada kemampuan membuat produk. Masyarakat juga dipersiapkan untuk memahami bagaimana produk tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan usaha yang berkelanjutan.

KARUPA: Identitas Karya dari Klampok Kasri

Salah satu hasil dari proses pendampingan tersebut adalah hadirnya KARUPA (Karya Aksi Rupa Ulang Plastik) by Klampok Kasri.

KARUPA merepresentasikan gagasan utama Edu Eco-Furniture Village: bahwa limbah plastik dapat mengalami transformasi dari sesuatu yang bernilai rendah menjadi karya yang memiliki fungsi, estetika, identitas, dan nilai ekonomi.

Melalui Activating Event BINUS Untuk Negeri, TFI menginisiasi ruang showcasing untuk memperkenalkan hasil pendampingan dan produk KARUPA kepada masyarakat, calon konsumen, pemerintah, media, serta mitra industri. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang edukasi publik, penguatan branding, perluasan jejaring, dan pembukaan akses pasar bagi keberlanjutan program.

Dengan hadirnya KARUPA, proses pengolahan sampah memperoleh dimensi baru. Limbah plastik bukan hanya dikumpulkan untuk kemudian dijual, tetapi diolah menjadi produk yang dapat dipasarkan. Di sinilah nilai ekonomi baru mulai dibangun.

Mendorong SDG 8: Decent Work and Economic Growth

Pengembangan Edu Eco-Furniture Village secara langsung diarahkan untuk mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 8: Decent Work and Economic Growth, yaitu pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta peningkatan kesempatan kerja dan kegiatan produktif.

Dalam konteks Klampok Kasri, SDG 8 diwujudkan melalui upaya membangun kapasitas ekonomi masyarakat dari tingkat paling dasar. Masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai pengumpul sampah, tetapi didorong untuk menjadi bagian dari proses penciptaan nilai ekonomi.

Peningkatan kapasitas produksi, pengembangan kelompok pengrajin, pengelolaan keuangan, penentuan harga, branding, digital marketing, public speaking, hingga pengembangan akses pasar merupakan rangkaian yang saling terhubung untuk membangun ekosistem usaha masyarakat.

Dengan pendekatan tersebut, nilai ekonomi yang sebelumnya hanya sekitar Rp2.000 per kilogram ketika plastik dijual sebagai bahan mentah memiliki peluang untuk berkembang melalui proses pengolahan menjadi material dan produk akhir. Artinya, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari bertambahnya volume transaksi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang telah tersedia di lingkungan mereka.

Program ini juga berpotensi membuka ruang bagi terbentuknya kegiatan usaha dan pekerjaan produktif baru. Kelompok masyarakat dapat terlibat dalam berbagai tahapan rantai nilai, mulai dari pengumpulan bahan baku, pemilahan, pengolahan, produksi, quality control, desain, pemasaran, hingga penjualan.

Dengan demikian, Edu Eco-Furniture Village menempatkan pertumbuhan ekonomi lokal sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga lingkungan. Sampah plastik menjadi bahan baku, keterampilan masyarakat menjadi modal produksi, dan kreativitas menjadi penggerak nilai ekonomi.

Membangun Rantai Nilai yang Berkelanjutan

Untuk mencapai keberlanjutan, program tidak hanya berfokus pada kemampuan menghasilkan eco-furniture. Yang dibangun adalah rantai nilai yang utuh, mulai dari pengumpulan bahan baku, proses produksi, pengembangan identitas merek, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.

Dengan rantai nilai tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya menjual limbah plastik sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan produk kreatif bernilai ekonomi lebih tinggi dan memperoleh manfaat yang lebih besar dari proses tersebut.

Visi jangka panjang Edu Eco-Furniture Village adalah menjadikan Klampok Kasri sebagai lokasi percontohan Eco-Furniture Village yang dikenal sebagai wilayah binaan BINUS dalam memberdayakan masyarakat serta mendorong keberlanjutan lingkungan.

Visi tersebut diwujudkan melalui pembentukan kelompok pengrajin sebagai motor penggerak program, penghimpunan limbah plastik sebagai bahan baku utama, pengolahan limbah menjadi material furnitur, produksi eco-furniture secara kolaboratif dan berkelanjutan, pembangunan branding dan pemasaran wilayah, serta pengembangan sistem penjualan yang mampu memperluas jangkauan pasar.

Pada akhirnya, Edu Eco-Furniture Village diharapkan mampu menghasilkan lebih dari sekadar produk eco-furniture. Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan keberlanjutan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi lokal.

Bagi masyarakat Klampok Kasri, program ini membuka peluang untuk mengubah persoalan sampah menjadi sumber daya dan sumber penghasilan baru. Bagi mahasiswa, program menjadi ruang untuk menerapkan ilmu secara nyata melalui experiential learning. Sementara bagi BINUS University, Edu Eco-Furniture Village menjadi implementasi nyata Tridharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi lintas disiplin, inovasi sosial, pemberdayaan masyarakat, serta kontribusi terhadap SDG 8: Decent Work and Economic Growth.

Dari sampah menjadi material, dari material menjadi karya, dan dari karya menjadi peluang ekonomi. Edu Eco-Furniture Village hadir untuk membuktikan bahwa keberlanjutan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat berjalan bersama.