Oleh: Brainnisa Ramadhani Nur Nisrina 

Di rentang usia 6 hingga 12 tahun, anak-anak memasuki tahap krusial dalam perkembangan emosional dan sosial, di mana mereka membangun rasa identitas, mengasah kemandirian, serta memperluas kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Pada periode ini, kamar tidur bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ruang istirahat/ruang tidur: melainkan menjadi suatu ekosistem laboratorium personal untuk mendukung kemandirian, eksplorasi, regulasi emosi, dan hubungan sosial yang terus berkembang. Kendati demikian, praktik desain interior anak sering kali terjebak pada pertimbangan estetika semata, tanpa integrasi prinsip–prinsip psikososial yang mendasari dinamika tumbuh kembang mereka. Dengan pendekatan zonasi fungsional, pemilihan material dan warna yang mendukung suasana hati, serta pelibatan anak dalam proses desain, kamar tidur dapat dirancang sebagai ekosistem holistik yang memfasilitasi perkembangan emosional, kognitif, dan sosial anak. Artikel ini akan menguraikan kerangka konseptual dan praktik terbaik bagi perancang interior dan orang tua untuk menciptakan ruang tidur yang mendukung pertumbuhan anak usia 6–12 tahun secara optimal. Desain kamar tidur yang bijak dapat memberdayakan mereka dengan kemandirian, rutinitas, dan ruang aman untuk regulasi emosi. 

Oleh karena itu, penting bagi desainer interior dan orang tua untuk memahami bahwa setiap elemen dalam kamar tidur memiliki peran psikologis yang signifikan. Mulai dari tata letak furnitur, jenis pencahayaan, hingga aksesibilitas penyimpanan, semuanya dapat mempengaruhi perilaku dan kesejahteraan anak sehari-hari. Ruang yang dirancang dengan memperhatikan skala anak memungkinkan mereka merasa dihargai dan memiliki kontrol terhadap lingkungannya. Selain itu, desain yang adaptif dan fleksibel memberi ruang bagi anak untuk bertumbuh sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Dengan memahami dinamika ini, kita tidak hanya menciptakan ruang yang indah secara visual, tetapi juga bermakna secara emosional dan edukatif  

Perkembangan Anak usia -12 Tahun: Perspektif Psikososial: Pendekatan desain kamar tidur anak perlu mempertimbangkan zonasi fungsional agar mampu memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan anak secara komprehensif. Zonasi ini membantu menciptakan struktur ruang yang jelas, sehingga anak dapat dengan mudah memahami fungsi dari setiap area di dalam kamarnya. Ketika ruang tertata berdasarkan aktivitas, anak akan lebih mudah mengatur rutinitas harian seperti belajar, bermain, dan beristirahat. Tiga zona utama yang direkomendasikan dalam desain kamar anak adalah zona belajar, zona bermain dan ekspresi diri, serta zona istirahat dan regulasi emosi. Zona belajar berfungsi sebagai area fokus yang mendorong konsentrasi dan tanggung jawab akademik, dengan pencahayaan yang memadai dan perabot yang ergonomis. Zona bermain dan ekspresi diri menyediakan ruang bebas untuk anak menyalurkan kreativitas dan mengeksplorasi minat pribadi, seperti seni, membaca, atau merakit mainan. Sementara itu, zona istirahat menjadi tempat yang tenang dan nyaman untuk relaksasi, yang penting dalam membantu anak menenangkan diri setelah aktivitas padat. Ketiga zona ini saling melengkapi dan sebaiknya dirancang dengan fleksibilitas agar dapat menyesuaikan perubahan kebutuhan seiring bertambahnya usia anak. Dengan menerapkan zonasi secara tepat, kamar tidur anak dapat menjadi ruang yang fungsional, inspiratif, dan mendukung perkembangan psikososialnya secara berkelanjutan.  

Pembagian Zona Penting Dalam Mendesain Kamar Anak: Desain kamar tidur anak perlu mengutamakan zonasi fungsional untuk mendukung perkembangan psikososial secara menyeluruh. Tiga zona utama yang direkomendasikan adalah zona belajar, zona bermain dan ekspresi diri, serta zona istirahat dan regulasi emosi. Masing-masing zona memiliki fungsi spesifik yang saling melengkapi—mendorong konsentrasi, menyalurkan kreativitas, serta membantu anak menenangkan diri. Dengan zonasi yang tepat, kamar tidur menjadi ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mendukung kemandirian dan kesejahteraan emosional anak: 

  • Zona Belajar dan Fokus: Ruang ini berfungsi untuk mendukung kegiatan akademik dan kognitif, seperti membaca, menulis, dan mengerjakan tugas. Idealnya, zona ini memiliki pencahayaan yang baik, meja ergonomis, serta sistem penyimpanan terbuka agar anak dapat mengatur alat belajar secara mandiri. 

Gambar 1. Zona Belajar dan Fokus. (Sumber: Pinterest, 2025) 

  • Zona Ekspresi dan Kreativitas: Anak usia 6–12 mulai menunjukkan preferensi terhadap identitas dan minat pribadi. Sediakan area untuk menggambar, membuat kerajinan tangan, atau menampilkan koleksi pribadi. Penggunaan papan tempel, rak terbuka, atau dinding display dapat membantu anak merasa bahwa ruang mereka mencerminkan siapa diri mereka.  

Gambar 2. Zona Ekspresi dan Kreativitas. (Sumber: Pinterest, 2025) 

  • Zona Istirahat dan Regulasi Emosi: Kamar juga harus menyediakan sudut yang tenang untuk istirahat, refleksi, dan menenangkan diri. Elemen seperti bantal empuk, karpet lembut, pencahayaan hangat, serta area baca yang nyaman dapat menjadi sarana efektif untuk membantu anak mengelola emosinya.  

Gambar 3. Zona Istirahat dan Regulasi Emosi. (Sumber: Pinterest, 2025) 

Pemilihan material dan warna kamar anak perlu mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan stimulasi sensorik yang sesuai. Warna netral dengan aksen ceria menstimulasi kreativitas tanpa mengganggu visual. Material ramah anak dan furnitur berskala kecil mendorong kemandirian. Sistem penyimpanan yang mudah dijangkau mengajarkan tanggung jawab terhadap lingkungan sendiri. Melibatkan anak dalam memilih elemen desain seperti warna, motif, atau tata letak tidak hanya mendukung ekspresi diri, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap ruang pribadinya. 

Kamar tidur bukan sekadar tempat beristirahat bagi anak usia 6–12 tahun. Ia merupakan ruang personal yang, jika dirancang secara sadar dan terstruktur, dapat menjadi wahana penting dalam mendukung perkembangan emosional, sosial, dan kognitif. Melalui pendekatan zonasi, pemilihan elemen interior yang empatik, serta pelibatan anak dalam proses desain, kamar tidur menjadi media pembelajaran hidup yang konkret. Bagi mahasiswa desain interior dan pembaca umum, merancang ruang anak berarti merancang masa depan—satu ruang kecil yang membawa dampak besar dalam perjalanan tumbuh kembang seorang manusia. 

Sumber referensi:  

Habibah, Nurul (2025): 4 Aspek Penting Tumbuh Kembang Anak Usia 6-12 Tahun. Data diperoleh dari situs: https://www.altaglobalschool.com/blog/aspek-penting-tumbuh-kembang-anak-usia-6-12-tahun. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025. 

Collaborative for Health & Environemnt (2025): Psychosocial Environment. Data diperoleh dari situs: https://www.healthandenvironment.org/resources/environmental-hazards/other-environmental-hazards/psychosocial-environment. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025. 

Florencia, G (2019): Begini Cara Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Periode Emas. Data diperoleh dari situs: https://www.halodoc.com/artikel/begini-cara-optimalkan-tumbuh-kembang-anak-di-periode-emas. Diakses pada tanggal 1 Juli 2025.