Memilih material merupakan bagian penting dari proses desain interior. Namun, pertimbangan material saat ini semakin berkembang. Designer tidak hanya bertanya, “Material apa yang paling bagus?”, tetapi juga, “Apakah material ini tepat, sehat, tahan lama, dan bertanggung jawab?” 

Material interior berkaitan dengan banyak aspek: estetika, durability, maintenance, keamanan, indoor air quality, hingga environmental impact. American Society of Interior Designers (ASID) dalam 2026 Trends Outlook menyoroti sustainability, technology, wellness, adaptive living, dan perubahan kondisi industri sebagai faktor yang membentuk praktik desain interior pada 2026 (ASID, 2026). 

Salah satu contoh adalah VOC (Volatile Organic Compounds) yang dapat ditemukan pada berbagai produk interior seperti cat, adhesive, coating, dan material tertentu. Karena itu, pemilihan produk dengan emisi rendah menjadi salah satu perhatian dalam desain bangunan berkelanjutan. 

Di dunia kerja, designer tidak hanya membuat moodboard. Designer perlu memahami technical data sheet, ukuran dan spesifikasi, metode pemasangan, durability, maintenance, sertifikasi, dan informasi sustainability. 

Insight untuk mahasiswa 

Mulailah membuat material library pribadi. Jangan hanya menyimpan foto. Catat Material → Supplier → Karakteristik → Aplikasi → Kelebihan → Keterbatasan → Maintenance. Dengan begitu, mahasiswa memiliki database yang dapat membantu mengambil keputusan desain di proyek berikutnya. Material yang baik bukan selalu material yang paling mahal atau paling menarik, tetapi material yang paling tepat untuk kebutuhan ruang dan penggunanya. 

Referensi 

  • American Society of Interior Designers. (2026). 2026 ASID Trends Outlook Report. Washington, DC: ASID. https://www.asid.org/resources/resources/view/resource-center/393  
  • U.S. Green Building Council. (2026). LEED v5 Reference Guide for Interior Design and Construction. Washington, DC: USGBC. https://www.usgbc.org/