Bio-Based Materials: Masa Depan Material Interior?
Bagaimana jika material interior tidak hanya berasal dari kayu, metal, plastik, atau batu, tetapi juga dari serat tanaman, limbah pertanian, mycelium, dan sumber biologis lainnya? Inilah yang menjadi perhatian dalam perkembangan bio-based materials.
Penelitian Tyagi dan Jain (2026) melakukan systematic literature review terhadap 104 publikasi peer-reviewed dari 2000–2025 dan menunjukkan pertumbuhan riset bio-based serta regenerative materials dalam konteks interior design, terutama setelah 2017.
Material yang banyak dibahas mencakup mycelium, bacterial cellulose, algae, bamboo, mud, straw, dan hemp. Namun, bio-based tidak otomatis berarti sustainable. Designer tetap perlu mempertimbangkan bagaimana material tersebut diproduksi, seberapa tahan lama, bagaimana perawatannya, serta apa yang terjadi setelah masa pakainya berakhir.
Indonesia memiliki peluang besar dalam eksplorasi material lokal berbasis alam dan pertanian. Bambu, rotan, serat alam, dan berbagai limbah biomassa dapat menjadi titik awal eksperimen material untuk produk dan elemen interior.
Insight untuk mahasiswa
Jangan hanya bertanya, “Material ini bisa dipakai untuk apa?” Cobalah bertanya, “Karakter material ini bisa menghasilkan pengalaman ruang seperti apa?” Eksplorasi dapat dimulai dari Material → Experiment → Prototype → Application. Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna material, tetapi mulai menjadi material explorer.
Referensi
- Tyagi, P., & Jain, C. (2026). Bio-based and regenerative materials in interior design: A systematic literature review and bibliometric analysis. Journal of Engineering and Applied Science, 73, 126. https://doi.org/10.1186/s44147-026-00970-3
Comments :