Dosen dan Mahasiswa BINUS Malang Rancang Furnitur Multifungsi untuk Edukasi di Museum Musik Indonesia

Malang – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Desain Interior, School of Design Universitas Bina Nusantara Malang merancang furnitur multifungsi untuk mendukung aktivitas edukasi di Museum Musik Indonesia (MMI), Kota Malang. Program ini menjadi bagian dari Hibah Internal Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025 yang fokus memperkuat fungsi museum sebagai ruang belajar interaktif sekaligus pusat pelestarian budaya.
MMI dikenal sebagai museum musik dengan karakter unik. Sekitar 90 persen koleksinya berasal dari sumbangan masyarakat. Saat ini, MMI menyimpan lebih dari 50.000 koleksi, mulai dari kaset pita, piringan hitam, CD dan VCD, literatur musik, memorabilia artis dan musisi, hingga alat musik tradisional dan modern.
Namun, keterbatasan ruang dan fasilitas display membuat sejumlah alat musik tradisional belum bisa ditampilkan secara optimal. Beberapa koleksi, termasuk alat musik Siter, sering dipindahkan untuk kebutuhan edukasi siswa TK dan SD. Kondisi ini menuntut fasilitas yang aman, fleksibel, dan mudah digunakan agar koleksi tetap terjaga.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim yang dipimpin Tiara Ika Widia Primadani menggunakan pendekatan design thinking untuk merancang furnitur multifungsi. Desain ini bersifat portabel, ergonomis, dan aman. Furnitur tidak hanya berfungsi sebagai media display, tetapi juga mendukung kegiatan edukasi secara langsung.
Furnitur tersebut dilengkapi roda dengan sistem pengunci sehingga mudah dipindahkan sesuai kebutuhan ruang. Tersedia juga ruang penyimpanan peralatan musik. Panel informasi edukatif dan QR code turut ditambahkan untuk menghubungkan pengunjung dengan materi audiovisual. Dengan fitur ini, pengunjung dapat mengakses penjelasan tentang Siter secara lebih interaktif.
Tiara menjelaskan bahwa proyek ini dirancang sebagai solusi jangka panjang bagi museum. Ia menyebut desain ini diharapkan mampu menjadi jembatan edukasi agar generasi muda lebih mengenal alat musik tradisional, khususnya Siter yang merupakan bagian dari gamelan Jawa.
Fleksibilitas menjadi pertimbangan utama dalam proses perancangan. MMI beberapa kali berpindah lokasi dan memiliki ruang terbatas. Karena itu, tim memastikan furnitur tetap fungsional saat museum melakukan penataan ulang atau menggelar program edukasi.
Proses perancangan dilakukan melalui observasi langsung di museum, diskusi dengan pengelola, pembuatan prototipe skala 1:1, hingga uji coba penggunaan di lokasi. Saat ini, furnitur tersebut telah resmi digunakan sebagai fasilitas edukasi dan hiburan di MMI.
Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin 11 tentang kota dan komunitas berkelanjutan. Melalui desain berbasis kebutuhan nyata, kolaborasi perguruan tinggi dan museum ini diharapkan dapat menjadi model bagi museum lain di Indonesia dalam mengembangkan fasilitas edukatif yang relevan dan berkelanjutan.
sumber : https://malang.indozone.id/news/2486643335/dosen-dan-mahasiswa-binus-malang-rancang-furnitur-multifungsi-untuk-edukasi-di-museum-musik-indonesia#goog_rewarded
Comments :