Malang – Pendidikan inklusif tidak berhenti pada penerimaan siswa berkebutuhan khusus di dalam kelas. Sekolah juga perlu menyiapkan dukungan yang sesuai dengan cara belajar mereka. Tanpa fasilitas pendukung, proses belajar kerap tidak berjalan optimal.

Di sejumlah sekolah non formal, komitmen terhadap inklusi sudah terlihat. Namun keterbatasan sarana masih menjadi kendala. Siswa dengan autisme, ADHD, Down syndrome, dan gangguan emosi sering kesulitan berkonsentrasi. Kebisingan, cahaya terlalu terang, serta situasi sosial yang tidak terstruktur memicu distraksi. Kondisi ini membuat emosi meningkat dan pembelajaran terganggu.

Permasalahan tersebut ditemukan dalam riset pengabdian yang dilakukan dosen Program Studi Desain Interior BINUS Malang, Brainnisa Ramadhani Nur Nisrina. Penelitian berlangsung di PKBM Ki Hadjar Dewantara. Guru di sekolah tersebut telah mendampingi siswa secara individual. Namun tanpa alat bantu regulasi emosi, pendekatan belajar belum sepenuhnya efektif.

Sebagai solusi, tim mengembangkan kabinet sensori yang ditempatkan di dalam kelas. Ukurannya ringkas dan mudah dipindahkan. Kabinet ini memuat panel sentuh, elemen visual berupa warna dan cahaya kontras lembut, alat audio sederhana, serta kartu gambar untuk membantu komunikasi.

Dosen Program Studi Desain Interior BINUS Malang Memaparkan Materi (Bhekti Setyowibowo / INDOZONE)

Hasil observasi menunjukkan perubahan perilaku selama pembelajaran. Dalam sesi 30 menit, gangguan seperti gelisah berlebihan dan distraksi menurun saat siswa menggunakan permainan sentuh dan visual terkontrol. Aktivitas memutar objek, menekan tekstur tertentu, dan melihat cahaya kontras membantu siswa menenangkan diri sebelum kembali fokus pada materi.

Model kabinet sensori dinilai lebih realistis bagi sekolah non formal. Sekolah tidak perlu membangun ruang terapi khusus yang memerlukan biaya besar. Kabinet dapat langsung digunakan di kelas tanpa renovasi. Desainnya juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing masing siswa.

Prototipe kabinet sensori telah diperkenalkan ke beberapa sekolah non formal di Kota Malang dan Kabupaten Malang. Diskusi bersama guru dan pengelola sekolah memunculkan kesadaran bahwa fasilitas regulasi emosi bukan lagi pelengkap. Fasilitas ini menjadi kebutuhan dalam penerapan pendidikan inklusif.

Ke depan, pelatihan guru dan dukungan anggaran menjadi langkah penting agar lebih banyak sekolah mengadopsi model serupa. Inklusi tidak hanya soal akses pendidikan. Sekolah juga perlu memastikan setiap anak merasa tenang, aman, dan siap belajar di dalam kelas.

Sumber : https://malang.indozone.id/news/2486640871/desain-interior-binus-malang-hadirkan-kabinet-sensori-untuk-dukung-siswa-abk