Oleh: Brainnisa Ramadhani Nur Nisrina

Perkembangan dunia desain interior saat ini semakin erat kaitannya dengan inovasi teknologi, termasuk dalam ruang edukasi dan rekreasi seperti museum. Jika pada masa lalu museum hanya dipandang sebagai tempat penyimpanan koleksi benda bersejarah atau karya seni, kini paradigma tersebut mulai bergeser. Museum modern dituntut bukan hanya untuk menyajikan informasi, melainkan juga menghadirkan pengalaman yang mampu membuat pengunjung merasa terlibat secara langsung. Salah satu pendekatan yang menjawab tantangan ini adalah konsep immersive museum atau museum imersif. Museum imersif dirancang dengan memanfaatkan teknologi seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), Mixed Reality (MR), hingga projection mapping. Teknologi ini memungkinkan pengunjung masuk ke dalam suasana tertentu, berinteraksi dengan objek yang semula hanya bisa dilihat secara pasif, bahkan merasakan atmosfer yang menyerupai kondisi nyata. Misalnya, dalam sebuah museum sejarah, pengunjung tidak hanya membaca teks tentang peradaban kuno, tetapi juga bisa berjalan di antara bangunan virtual, mendengarkan suara pasar tradisional masa lalu, atau bahkan mencoba simulasi aktivitas sehari-hari masyarakatnya.

Dari sisi pendidikan, pendekatan imersif ini membawa nilai tambah yang sangat signifikan. Pembelajaran tidak lagi bersifat satu arah, tetapi berubah menjadi pengalaman multisensori yang lebih mudah dipahami. Konsep ini mendukung berbagai gaya belajar, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dapat merasakan manfaatnya karena mereka belajar dengan cara yang lebih kontekstual, interaktif, dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pendidikan modern yang menekankan pada experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman (Pine & Gilmore, 2019).

Gambar 1. Penerapan immersive pada konsep museum masa kini. (Sumber: Google, 2025)

Contoh nyata keberhasilan museum imersif dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. TeamLab Borderless di Tokyo memanfaatkan proyeksi digital untuk menciptakan ruang seni yang selalu berubah sesuai interaksi pengunjung. The Louvre di Paris mengintegrasikan augmented reality untuk memperkaya tur sejarah seni klasik. Sementara itu, National Museum of Singapore menggunakan projection mapping untuk menghadirkan kembali kisah sejarah dengan cara yang hidup dan menyentuh. Semua contoh tersebut membuktikan bahwa teknologi imersif bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan bagi museum masa kini untuk tetap relevan dan menarik minat generasi muda.

Namun, museum imersif juga memiliki tantangan tersendiri, mulai dari kebutuhan biaya tinggi, pemeliharaan peralatan yang berkelanjutan, hingga kesiapan sumber daya manusia dalam mengoperasikan teknologi. Meski demikian, peluang yang ditawarkan jauh lebih besar, terutama dalam meningkatkan daya tarik wisata budaya, memperluas akses edukasi, serta memperkuat identitas museum sebagai ruang publik yang inklusif dan inovatif. Pada akhirnya, museum imersif bukan hanya tentang menampilkan teknologi canggih, tetapi tentang bagaimana desain interior, narasi sejarah, dan pengalaman pengunjung menyatu dalam satu kesatuan. Konsep ini mampu membawa museum keluar dari kesan kaku dan formal menjadi ruang yang hidup, interaktif, serta menginspirasi. Dengan demikian, museum tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan masa lalu, melainkan juga jendela untuk membangun masa depan pendidikan dan kebudayaan yang lebih kreatif.

Sumber referensi:

National Museum of Singapore. (2025). Official Website. Retrieved from https://www.nhb.gov.sg/nationalmuseum. Diakses pada tanggal 22 September 2025.

TeamLab Borderless. (2025). Official Website. Retrieved from https://www.teamlab.art/. Diakses pada tanggal 22 September 2025.

The Louvre Museum. (2025). Augmented Reality Experience. Retrieved from https://www.louvre.fr. Diakses pada tanggal 22 September 2025.