Belajar dari Proses: Membangun MartialPath sebagai Solusi Belajar Bela Diri di Tengah Kesibukan
By : Vania Oriana Tanoton | NIM 2702209483
Dosen : Irene Teresa Rebecca Hutabarat, S.MB., M.M.
Selama menjalani mata kuliah Entrepreneurship, saya dan kelompok menyadari bahwa banyak orang mengalami kesulitan untuk mempelajari bela diri karena keterbatasan waktu, lokasi, dan jadwal yang padat. Dari pemikiran tersebut, lahirlah ide MartialPath, sebuah aplikasi pembelajaran bela diri secara online yang dirancang untuk membantu pengguna tetap bisa belajar di tengah kesibukan mereka.
Target utama kami adalah mahasiswa dan pekerja, karena merekalah yang paling sering kesulitan meluangkan waktu untuk mengikuti kelas bela diri secara langsung. Untuk menjangkau target pasar tersebut, kami memanfaatkan berbagai platform media sosial yang sering mereka gunakan, seperti X, TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Melalui media tersebut, kami memperkenalkan konsep aplikasi serta mengajak calon pengguna untuk mencoba prototipe yang kami kembangkan.
Dalam proses validasi, kami menggunakan metode survei dan uji coba langsung. Calon pengguna dapat mencoba prototipe aplikasi dan memberikan masukan secara langsung. Dari hasil tersebut, kami mendapatkan banyak insight berharga. Sebagian besar responden menyatakan bahwa ide aplikasi ini menarik dan relevan dengan kebutuhan mereka. Tampilan antarmuka dinilai cukup rapi dan mudah dipahami, namun beberapa fitur masih perlu dikembangkan lebih lanjut—seperti halaman training yang dirasa belum optimal dan fitur pembelian perlengkapan bela diri yang masih kurang praktis. Selain itu, beberapa responden juga menyarankan perbaikan pada pemilihan warna agar tampilan aplikasi lebih nyaman dilihat.
Salah satu tantangan terbesar yang kami hadapi adalah keterbatasan pengetahuan kami di bidang bela diri. Hal ini membuat proses pengumpulan data dan penyesuaian fitur menjadi lebih menantang. Namun, dari situ saya belajar bahwa membangun produk bukan hanya tentang ide, tetapi juga tentang kerendahan hati untuk belajar dari pihak yang lebih berpengalaman dan dari pengguna secara langsung.
Melalui seluruh proses ini, saya semakin memahami pentingnya mendengarkan sudut pandang orang lain. Feedback dari pengguna membantu kami melihat aplikasi bukan hanya dari sudut pandang pengembang, tetapi dari sudut pandang orang yang benar-benar akan menggunakannya. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa membangun sebuah produk bukan sekadar tentang teknologi, melainkan tentang empati, keterbukaan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Perjalanan mengembangkan MartialPath menjadi pengalaman yang sangat berharga, dan saya percaya bahwa setiap masukan yang kami terima akan menjadi fondasi penting untuk pengembangan yang lebih baik ke depannya.
Comments :