Faktor Sosial
Aktivitas konsumsi kolaboratif dapat memperkuat kohesi sosial (Glind, 2013). Beberapa manfaat sosial yang diperoleh dari aktivitas sharing antara lain ketika budaya partisipasi dapat menciptakan suatu kegembiraan, apresiasi atau penghargaan, kepuasan serta kepercayaan diri (Glind, 2013). Sharing dimotivasi oleh sifat alturisme yang mengacu kepada tendensi untuk membantu orang lain atau dengan kata lain kemurahan hati untuk diri sendiri dan orang lain (Schiel, 2015: 32). Terlebih, konsumsi kolaboratif dapat memicu peningkatan kesejahteraan sosial (Ertz, Durif, & Arcand, 2016: 205). Selain itu, partisipasi dalam aktivitas sharing juga dapat dipicu melalui social network seperti misalnya melalui seseorang yang merekomendasikan aktivitas tersebut dalam media sosialnya serta pemicu lainnya adalah word of mouth, contohnya melalui rekomendasi teman atau kerabat (Glind, 2013; Owyang, Samuel, & Grenville, 2014; Wallace, Buil, Chernatony, & Hogan, 2014). Budaya kerjasama (gotong royong) muncul seiring meningkatkannya kesadaran orang akan aktivitas sharing dalam rangka membangun sebuah komunitas masyarakat (Albinsson & Perera, 2012). Konsumen pada dasarnya ingin saling terhubung dengan orang lain, tidak hanya dengan kalangan orang-orang yang dikenal atau memiliki kesamaan, namun juga dengan orang asing yang tidak dikenal sekalipun (Albinsson & Perera, 2012). Oleh karena itu, aktivitas sharing memicu orang untuk membagikan pengalaman mereka serta mengekspresikan sikap yang positif (Glind, 2013).
Dalam studi yang dilakukan oleh Glind (2013) ditemukan bahwa aspek sosial merupakan alasan kedua terbanyak yang diungkapkan oleh konsumen sebagai faktor yang mendorong partisipasi mereka dalam konsumsi kolaboratif. Sedangkan dalam studi Schiel (2015: 61) dan Pizzol, Almeida, & Soares (2017: 12), faktor sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap pada konsumsi kolaboratif. Selaras dengan Störby & Strömbladh (2015: 50), faktor sosial merupakan faktor motivasi konsumen terhadap partisipasi dalam gaya hidup kolaboratif yang paling berpengaruh setelah faktor ekonomis. Aspek sosial ini secara umum tidak mengenal generasi dan umur, baik tua maupun muda memiliki padangan yang seragam terhadap aspek sosial. Meskipun seperti yang telah diungkapkan sebelumnya pada pendahuluan di atas, bahwa generasi millennial merupakan generasi memiliki tingkat kesediaan tertinggi untuk terlibat dalam sharing economy dikarenakan generasi tersebut memiliki beberapa karakteristik, antara lain berpandangan terbuka, interaktif dan akrab dengan sikap kolaboratif (Störby & Strömbladh, 2015). Namun bukan berarti generasi sebelum mereka tidak menempatkan aspek sosial sebagai faktor prioritas dalam keterlibatan di konsumsi kolaboratif.
Comments :