YUMMIE
Feedback Form Summary

I. Team Roles and Members
- Cornelius Charles Wijaya – Chief Executive Officer (CEO)
- Audrey Melinda Hanafi – Chief Marketing Officer (CMO)
- Ammara Danish Aulya – Chief Operational Officer (COO)
- Edsel Tristan H.G. – Chief Technology Officer (CTO)
II. Problem Statement
Ide bisnis ini muncul karena banyak mahasiswa dan anak muda membutuhkan camilan yang praktis untuk menemani aktivitas sehari-hari. Dengan jadwal kuliah yang padat, tugas, organisasi, maupun kegiatan lainnya, mereka membutuhkan makanan ringan yang mudah dikonsumsi tanpa perlu persiapan tambahan.
Masalah yang ditemukan adalah masih terbatasnya pilihan camilan manis yang praktis, menarik, dan memiliki harga yang sesuai dengan daya beli mahasiswa. Selain itu, banyak produk snack yang tersedia memiliki rasa dan tekstur yang cenderung serupa sehingga kurang memberikan pengalaman baru bagi konsumen.
Sebagai solusi, YUMMIÉ menawarkan snack manis dengan harga terjangkau dan tekstur yang unik. Produk ini tersedia dalam beberapa varian seperti Froot Loops dan Choco Krunch yang memberikan pilihan rasa berbeda kepada konsumen. Dengan harga Rp15.000 per kotak, YUMMIÉ berusaha memberikan nilai yang sebanding dengan kualitas yang ditawarkan.
III. Product Idea
YUMMIÉ adalah produk camilan manis berbentuk cereal marshmallow bar yang menggabungkan marshmallow dan sereal dalam satu sajian yang praktis. Produk ini memiliki kombinasi tekstur chewy dan crunchy yang memberikan pengalaman berbeda dibandingkan snack bar biasa. Selain rasanya yang manis dan menyenangkan, YUMMIÉ juga mudah dibawa dan dikonsumsi kapan saja.
IV. Business Model
Target pasar utama YUMMIÉ adalah mahasiswa dan anak muda, khususnya Binusian. Strategi pemasaran yang digunakan meliputi promosi melalui Instagram, WhatsApp, TikTok, serta penjualan langsung di lingkungan kampus. Selain itu, metode word-of-mouth juga digunakan untuk meningkatkan awareness dan menarik pelanggan baru.
V. Marketing Analysis
Analisis pasar dilakukan dengan menggunakan metode TAM, SAM, dan SOM pada empat lokasi potensial, yaitu BINUS Kemanggisan, BINUS Alam Sutera, Blok M, dan Kelapa Gading. Berdasarkan hasil perhitungan, Blok M memiliki nilai TAM, SAM, dan SOM terbesar, yang menunjukkan potensi jumlah konsumen dan peluang penjualan yang lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya. Namun, BINUS Kemanggisan dipilih sebagai fokus utama pengembangan bisnis karena memiliki akses langsung terhadap target pasar utama YUMMIÉ, yaitu mahasiswa BINUS. Selain lebih mudah dijangkau, lokasi ini juga memungkinkan tim melakukan promosi langsung, memperoleh feedback dengan cepat, serta membangun loyalitas pelanggan sejak tahap awal bisnis.
Perhitungan Break Even Point (BEP) menunjukkan bahwa YUMMIÉ perlu menjual sekitar 127–184 kotak per bulan, atau sekitar 5–7 kotak per hari tergantung lokasi penjualan. Target tersebut dinilai cukup realistis karena dapat dicapai melalui penjualan langsung, sistem pre-order, partisipasi dalam event kampus, serta promosi yang konsisten melalui media sosial.
VI. COGS Yummié
COGS adalah biaya langsung untuk membuat 1 kotak Yummié, seperti bahan utama dan packaging.

COGS Froot Loops = Rp3.300 + Rp2.651 + Rp1.180 + Rp280
COGS Froot Loops = Rp7.411/kotak
COGS Froot Loops = Rp7.400/kotak (dibulatkan)

COGS Choco Krunch = Rp3.300 + Rp3.559 + Rp1.180 + Rp280
COGS Choco Krunch = Rp8.319/kotak
COGS Choco Krunch = Rp8.300/kotak
Average COGS Yummié
Average COGS = (Rp7.400 + Rp8.300) ÷ 2
Average COGS = Rp7.850
Average COGS Yummié = Rp7.900/kotak
Selling Price & Contribution Margin

Contribution Margin = Rp15.000 – Rp7.900
Contribution Margin = Rp7.100/kotak
Fixed Cost Yummié

Basic Fixed Cost = Rp80.000 + Rp20.000 + Rp12.000 + Rp12.000 + Rp100.000
Basic Fixed Cost = Rp224.000
Basic Fixed Cost = Rp224.000/bulan
Average Spending per Cabang

TAM, SAM, SOM per Cabang




BEP per Cabang
Rumus: BEP Unit = Fixed Cost ÷ Contribution Margin
Contribution Margin = Rp7.100/kotak
BEP Binus Kemanggisan
Fixed Cost Component Cost
Basic fixed cost Rp224.000
Transportasi. Rp176.000
Promotion & ads. Rp300.000
Booth/event support. Rp200.000
Miscellaneous. Rp100.000
Total Fixed Cost = Rp1.000.000/bulan
BEP Calculation Result
BEP/month Rp1.000.000 ÷ Rp7.100 141 kotak/bulan
Total Fixed Cost = Rp1.000.000/bulan

BEP Binus Alam Sutera
Fixed Cost Component Cost
Basic fixed cost Rp224.000
Transportasi. Rp226.000
Promotion & ads. Rp250.000
Booth/event support. Rp100.000
Miscellaneous. Rp100.000
Total Fixed Cost = Rp900.000/bulan
BEP Calculation Result
BEP/month Rp900.000 ÷ Rp7.100 127 kotak/bulan
Total Fixed Cost = Rp900.000/bulan

BEP Blok M
Fixed Cost Component Cost
Basic fixed cost Rp224.000
Transportasi. Rp276.000
Promotion & ads. Rp350.000
Booth/event support. Rp350.000
Miscellaneous. Rp100.000
Total Fixed Cost = Rp1.300.000/bulan

BEP Kelapa Gading
Fixed Cost Component Cost
Basic fixed cost Rp224.000
Transportasi. Rp276.000
Promotion & ads. Rp300.000
Booth/event support. Rp350.000
Miscellaneous. Rp100.000
Total Fixed Cost = Rp1.250.000/bulan

ROI (Return On Investment) cabang BINUS Kemanggisan

ROI BINUS Kemanggisan sebesar 860% menunjukkan bahwa setiap Rp1 yang dikeluarkan sebagai biaya tetap dapat menghasilkan pengembalian sebesar Rp8,6. Hal ini berarti potensi pendapatan cabang BINUS Kemanggisan jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan, sehingga cabang ini dinilai sangat menguntungkan.
Kesimpulan
Dari hasil analisis yang sudah saya lakukan, saya melihat bahwa Yummié memiliki peluang yang cukup baik untuk dikembangkan. Produk ini sudah mendapatkan respon positif dari target market awal, terutama dari Binusian. Berdasarkan feedback form, mayoritas responden menyukai rasa, packaging, harga, dan ukuran produk Yummié. Bahkan, 100% responden mengatakan bahwa Yummié enak dan packaging-nya menarik, serta 94,7% responden merasa harga Rp15.000 masih worth it.
Dari sisi biaya, Yummié memiliki rata-rata COGS sekitar Rp7.900 per kotak, sedangkan harga jualnya adalah Rp15.000 per kotak. Artinya, saya masih mendapatkan contribution margin sekitar Rp7.100 per kotak. Menurut saya, margin ini cukup baik untuk bisnis kecil karena masih bisa digunakan untuk menutup biaya operasional seperti promosi, transportasi, dan kebutuhan booth.
Untuk pengembangan cabang, saya menganalisis empat lokasi, yaitu BINUS Kemanggisan, BINUS Alam Sutera, Blok M, dan Kelapa Gading. Dari hasil perhitungan TAM, SAM, dan SOM, Blok M memiliki potensi pasar paling besar karena area tersebut ramai anak muda, pekerja, cafe hoppers, dan tren F&B. Namun, untuk tahap awal, saya merasa BINUS Kemanggisan adalah lokasi yang paling strategis untuk memulai, karena market Yummié saat ini paling dekat dengan Binusian dan lingkungan kampus.
Berdasarkan perhitungan BEP, Yummié perlu menjual sekitar 127–184 kotak per bulan, atau sekitar 5–7 kotak per hari, tergantung lokasi cabang. Menurut saya, target ini masih cukup realistis, terutama jika penjualan dilakukan melalui pre-order, direct selling, campus event, dan promosi di social media.
Jadi, secara keseluruhan, saya melihat Yummié sebagai bisnis snack manis yang memiliki potensi untuk berkembang. Strategi awal yang paling masuk akal adalah fokus terlebih dahulu di area BINUS Kemanggisan, lalu mulai memperluas pasar ke BINUS Alam Sutera. Setelah market kampus lebih stabil, Yummié dapat mulai mencoba area yang lebih luas seperti Blok M dan Kelapa Gading.
Dosen Pengampu: Roni Heryatno, S.E., MM
Comments :