Di era modern saat ini, tren gaya hidup sehat semakin berkembang, terutama di kalangan Generasi Z dan anak muda. Namun, di sisi lain, produk dessert yang beredar di pasaran saat ini masih banyak yang  mengandung kadar gula tinggi, menggunakan pewarna buatan, dan kurang ideal untuk dikonsumsi secara rutin. Sementara itu, pilihan dessert sehat seringkali dianggap kurang menarik dan membosankan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kami memutuskan untuk membuat Sandoremi dengan slogan “Where Every Bite Feels Like a Hug!”. Sandoremi merupakan fruit sandwich yang dirancang untuk menjadi pilihan dessert sehat sekaligus menarik secara visual. Produk ini menggunakan krim manis berbahan stevia sebagai pengganti gula biasa, sehingga lebih ramah bagi konsumen yang ingin mengurangi konsumsi gula. Selain itu, warna yang digunakan berasal dari buah asli sehingga lebih alami dan aman untuk dikonsumsi. Dengan ukuran yang pas untuk sarapan maupun camilan, serta bentuk yang lucu dan estetik, Sandoremi mengkombinasikan konsep healthy dessert dengan aesthetic food yang sangat diminati oleh generasi muda.

Potensi pasar Sandoremi juga cukup menjanjikan. Berdasarkan analisis pasar, total pasar (Total Addressable Market atau TAM) untuk kategori snack dan dessert di Indonesia mencapai sekitar Rp50.000.000 per hari. Dari pasar tersebut, segmen yang dapat dilayani secara langsung (Serviceable Available Market atau SAM), yaitu konsumen Gen Z dan pencinta healthy dessert, diperkirakan mencapai Rp1.000.000 per hari. Pada tahap awal, Sandoremi menargetkan pasar yang lebih realistis (Serviceable Obtainable Market atau SOM), yaitu penjualan sekitar 20 produk per hari melalui bazar kampus dan layanan pesan antar di wilayah Tangerang dan Jakarta.

Untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat, Sandoremi menerapkan berbagai strategi pemasaran yang berfokus pada media digital. Promosi dilakukan melalui konten TikTok, Instagram Reels, dan fotografi makanan yang menarik secara visual. Selain itu, kolaborasi dengan food blogger, content creator, dan influencer diharapkan mampu meningkatkan kesadaran merek di kalangan target pasar. Strategi promosi offline seperti bazar dan pop-up stand juga menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada konsumen. Posisi merek yang ingin dibangun adalah bahwa dessert sehat tetap dapat tampil lucu, lezat, dan menyenangkan untuk dinikmati. Untuk mempertahankan pelanggan, Sandoremi juga berencana menghadirkan varian rasa musiman yang dapat memberikan pengalaman baru bagi konsumen.

Dari sisi keuangan, biaya produksi satu buah Sandoremi diperkirakan sebesar Rp12.775 yang mencakup bahan baku utama seperti roti, whip cream, buah-buahan, dan kemasan. Dengan total modal produksi sebesar Rp576.600 dan harga jual Rp12.000 per produk, titik impas (break-even point) dapat dicapai setelah penjualan minimal 49 produk. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis masih memiliki peluang untuk berkembang dengan melakukan optimalisasi biaya dan peningkatan volume penjualan.

Untuk menjalankan operasional bisnis, Sandoremi didukung oleh tim yang terdiri dari CEO, CFO, dan CMO. CEO bertanggung jawab atas strategi bisnis, branding, dan hubungan dengan investor. CFO mengelola anggaran, strategi harga, serta perencanaan keuangan. Sementara itu, CMO fokus pada pemasaran digital, promosi, dan pengelolaan hubungan dengan pelanggan.

Secara keseluruhan, Sandoremi merupakan inovasi dessert yang memadukan tren gaya hidup sehat dengan budaya makanan estetik yang sedang berkembang. Dengan konsep yang unik, harga yang terjangkau, serta potensi branding yang kuat, Sandoremi memiliki peluang untuk berkembang menjadi merek dessert sehat yang dikenal luas, baik melalui kolaborasi dengan kafe, bisnis makanan kemasan, maupun peluang waralaba di masa depan. Dukungan dalam pengembangan produk, pemasaran, dan inovasi kemasan akan menjadi langkah penting untuk mendorong pertumbuhan bisnis ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Dosen Pengampu : Roni Heryatno, S. E., M. M