Oleh : Putri Nadya Yulnizar | NIM 2802485183

Dosen : Irene Teresa Rebecca Hutabarat, S.MB., M.M.

Setelah mendengarkan hasil wawancara dan mencoba langsung produk dari Rasa Tempo Dulu, NusaChos, Infuse Cycle, Tileb, dan Yo’Nana, saya mendapatkan banyak perspektif baru tentang dunia bisnis, terutama tentang bagaimana sebuah brand bisa bertahan dan relevan di tengah pasar anak muda yang sangat dinamis. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa bisnis bukan sekadar soal menjual produk, tetapi tentang memahami kebutuhan dan kebiasaan konsumen secara lebih dalam.

Hal yang paling membekas bagi saya adalah kenyataan bahwa ide bisnis yang kuat tidak selalu harus benar-benar baru atau revolusioner. Banyak bisnis justru lahir dari keresahan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Contohnya seperti Rasa Tempo Dulu yang ingin mengangkat jajanan pasar agar tampil lebih bersih dan modern, atau Tileb yang resah dengan minuman buah yang hanya mengandalkan sirup. Dari sini saya belajar bahwa inovasi sejatinya adalah soal kepekaan terhadap masalah sekitar dan keberanian untuk mencari solusi yang lebih baik.

Saya juga belajar bahwa tantangan terbesar dalam membangun bisnis bukan hanya soal modal, tetapi bagaimana menyampaikan value kepada konsumen. Infuse Cycle, misalnya, mengajarkan bahwa ketika sebuah brand membawa nilai yang kuat—seperti kepedulian terhadap lingkungan—maka konsumen akan lebih menghargai dan merasa terhubung secara emosional. Nilai tersebut membuat produk tidak hanya dibeli, tetapi juga dipercaya.

Selain itu, saya menyadari bahwa kegagalan dan kritik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses. Saat mendengar feedback tentang rasa yang kurang konsisten pada beberapa produk, saya melihat bahwa setiap pelaku usaha dituntut untuk terbuka, tidak defensif, dan mau terus belajar. Kreativitas diuji bukan hanya dalam menciptakan produk, tetapi juga dalam menyesuaikan kualitas dengan keterbatasan biaya dan target pasar mahasiswa.

Pelajaran paling berharga yang saya dapatkan adalah tentang keberanian untuk tampil berbeda. Di tengah tren minuman manis yang seragam, brand seperti Yo’Nana dan Tileb berani mengambil jalur sehat namun tetap menarik secara visual. Dari situ saya belajar bahwa memiliki prinsip dan identitas yang jelas justru membantu menemukan pasar yang tepat.

Pada akhirnya, pengalaman ini membuat saya memahami bahwa bisnis bukan hanya soal menjual barang, tetapi tentang membangun kepercayaan melalui kualitas, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Tidak ada produk yang langsung sempurna—yang ada hanyalah proses belajar tanpa henti dari setiap kesalahan dan masukan yang diterima.