N: “Si Daniel mau bikin sate kambing,”
D: “Wah, seru juga kalo bikin sate tema nya balapan?”
K: “Sate dibakar nya ngebul, lucu biar kayak anak diesel,”

Itulah percakapan antara kita bertiga; Kai, Daniel dan Nathan setelah pertemuan pertama kelas Entrepreneurship: Market Validation yang dibawa oleh dosen kami Pak Agung Hari Sasongko. Memunculkan ide bisnis yang dapat bertarung di medan persaingan antar-mahasiswa di kampus Binus Alam Sutera bukan hal yang mudah. Namun, ide kami berawal dari candaan kita tentang sate dan mobil diesel yang dalam sedetik kami memutuskan untuk berfokus kepada ide tersebut. Kami melihat bahwa saingan kita terdapat dua jenis. Satu, yaitu sekian banyak mahasiswa yang mencoba terlalu keras untuk menampilkan inovasi terhadap produk yang sudah ada/membuat produk yang jarang dibuat orang. Dan dua, mahasiswa yang bersifat malas dan mengikuti ide yang sudah dibuat oleh orang lain. Dari hal tersebut kita membuat Sate Balap, sebuah bisnis kuliner yang sekaligus merupakan komunitas otomotif yang terbuka untuk mobil maupun motor jenis apapun. Kami melihat banyak nya mahasiswa Binus yang merupakan antusias otomotif. Dari puluhan kampus perguruan tinggi yang berlokasi di daerah Tangerang, Binus Alam Sutera kerap disebut sebagai pusat diesel di kalangan mahasiswa yang berkuliah di daerah tersebut. Tak jarang Toyota Innova dan Mitsubishi Pajero terlihat di area parkiran kampus kita dengan modifikasi berat. Dengan adanya Sate Balap kami ingin bereksperimen dengan konsep ‘Community Creating’ atau membuat komunitas. Dimana terdapat komunitas, di dalamnya selalu terdapat suatu hal, yaitu support. Ikatan komunitas memunculkan budaya saling mendukung sesama lain. Ini dapat dilihat dalam bentuk komunitas apapun. Contohnya; dari perkumpulan ibu-ibu anak SD. Dimana saat terdapat salah satu dari ibu yang ingin menjual suatu hal, pasti ada aja yang beli. Tak tinggal diam, kami merancang logo, akun instagram dan merchandise yaitu sticker. Di setiap kendaraan pribadi kita, sticker sate balap tertempel untuk menampilkan ikatan komunitas yang ada. Banyak orang awalnya beranggapan bahwa kita komunitas mobil dan ingin sekali bergabung dengan kita. Dari situ kami ada tambahan anggota inti, yaitu Xavier. Dimana dari situ kita pun ada shooting sinematik sebagai salah satu cara marketing dan juga merencanakan grill yang akan digunakan. Bakaran sate yang kami dapat dari toserba terdekat pun dilas dengan knalpot Honda Brio. Grill ini didesain untuk ‘ngebul’ seperti mobil diesel. Dimana saat membakar sate nya, asap akan keluar dari samping grill lewat knalpot yang ada. Ini akan menjadi suatu hal yang akan menarik perhatian konsumen dalam membeli sate kita. Kita pun berempat mulai belajar cara membuat dua jenis sate yang akan dijual; Sate Madura dan Sate Taichan.

Perjalanan kami pun tak mudah. Banyak teman kelas kita awalnya memandang kita remeh karena kita terkesan tidak serius, termasuk satu yang secara terang terangan mengatakan bahwa Sate Balap terlalu aneh-aneh dan belum tentu laku. Persiapan sate pun tak mudah. Dimana kami membuat 94 porsi sate, yang memakan total 12 jam lebih untuk menusuk semua daging kepada tusukan sate yang ada. Pada Bi-fest pun muncul beberapa kendala. Mulai dari tusukan sate yang sangat rentan kebakar, hujan yang menghambat aktivitas jualan kita hingga teman kita (Daniel) yang tepar karena terekspos asap bakar dalam waktu yang lama. Namun dari sekian yang terjadi, kami dapat balik modal sekaligus untung dan membuat banyak kenangan bersama sesama tim.

Dari tiga semester dengan kelas entrepreneurship, saya merasa ini merupakan hal bagus untuk diadakan oleh Binus untuk para mahasiswa. Karena masih banyak yang belum melek akan kewirausahaan. Entrepreneurship mengajarkan saya dan teman teman untuk berpikir kreatif dan kritis untuk mengidentifikasi masalah dan peluang yang dapat dijadikan ide bisnis. Program matkul ini adalah bentuk aplikatif dalam melaksanakan tujuan Binus University. Yaitu MemBINA NUSantara. Saat kita memiliki problem solving yang bagus, kita dapat melihat masalah dalam masyarakat dan membuat suatu solusi untuk menyelesaikan nya. Dengan ini, kita dapat jadi berkat untuk orang lain. Terakhir, saya ingin berterima kasih kepada dosen-dosen entrepreneurship yang mengajar saya selama tiga semester. Bu Diana, Pak Wahyu Hari dan Pak Agung Sasongko. Beserta expert yang sangat insightful dan tak pelit memberi ilmu serta koneksi.

 

Tio Peter Kai Karjono – 2602192506