WonderBites (Kelompok 3) – LB46 – ENTR6511001 – Entrepreneurship: Market ValidationBirgitta

Kathleen Herman (2602087453), Cherishe Dominique Cahya Suwarna (2602092352), Felicia Aurel Putri Wibowo (2602093765), Felicia Wijaya (2602081903)

D5651 – Rosalin Ayal, S.E., M.M

Industri makanan saat ini mengalami transformasi yang didorong oleh perubahan minat konsumen serta kesadaran akan kesehatan. Inovasi dalam produk makanan menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi tren saat ini dan masa depan yang tidak hanya memuaskan selera tetapi juga untuk mendukung kesehatan. Berdasarkan data Mintel, di tahun 2030 kesadaran akan pentingnya makanan sehat dan rendah gula menjadi perhatian khusus, mengingat konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan faktor risiko penyakit serius hingga kematian. Oleh karena itu, kami memanfaatkan bahan-bahan alami dan rendah gula sebagai solusi yang tidak hanya menarik bagi konsumen tetapi membantu mencegah dan mengurangi dampak negatif dari konsumsi gula berlebihan dan bahan kimia buatan.

Ide produk kami berawal dari membuat sugar cookie dengan menggunakan tepung mocaf (modified cassava) yang rendah GI (glycemic index) dengan bunga telang sebagai pewarna alami yang tinggi antioksidan. Kami memilih untuk membuat produk cookies dengan bahan-bahan alami yang baik untuk kesehatan dan mendukung pelestarian lingkungan. Selain itu, kami menggunakan bahan-bahan lokal yang dapat mendukung UMKM di Indonesia. Alasan utama kami memilih untuk membuat cookies adalah untuk menciptakan makanan ringan untuk mahasiswa BINUS yang terjangkau dan inovatif. Membangun bisnis tentu memiliki rintangan baik dari formulasi resep, hingga penekanan biaya dan pemasaran produk. Tantangan utama yang kami hadapi, terutama dalam proses pembuatan cookies adalah perubahan formulasi yang dilakukan untuk mencapai produk akhir yang diinginkan oleh konsumen. Perubahan formulasi dilakukan karena produk awal yang memiliki aroma teh yang kurang kuat, rasa yang terlalu manis dan penampilan yang pecah. Adapun reformulasi varian cream cheese yang diubah dari filling yang kemudian dicampur kedalam adonan karena teksturnya yang terlalu lembut. Namun formulasi terus kami perbaiki dan tingkatkan untuk mencapai produk akhir yang dikenal sebagai WonderBites sekarang.

Dari segi keuangan, kami sudah menghitung biaya yang diperlukan untuk bahan-bahan pembuatan cookies, bahan pendukung lainnya seperti tisu dan baking paper, kemasan berupa sticker, plastik, dan label, serta poster dan banner untuk penjualan offline di Entre Corner dan BINUS Festival (BIFEST). Kami juga memanfaatkan promo dari toko pemasok untuk menghemat biaya. Kebutuhkan air, listrik, dan alat yang digunakan tidak mengeluarkan biaya karena kami membuat cookies di lab food processing BINUS Alam Sutera (CLG04). Seluruh rincian biaya pun dimasukkan ke Microsoft Excel untuk memudahkan rekapitulasi hasil penjualan. Harga jual cookies ditentukan dengan melakukan riset harga pasar terlebih dahulu, lalu menentukan harga jual berdasarkan biaya produksi dan keuntungan yang diambil.

Saat ini, produk tersebut sudah dijual melalui berbagai tempat untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Pada penjualan online, cookies tersedia di platform e-commerce, seperti Shopee, dan BISANARA. Penjualan online memudahkan konsumen untuk memesan dari berbagai lokasi dan produk yang kami kirimkan sudah dikemas sebaik mungkin agar kualitas dan keamanannya terjaga. Selain itu, produk juga dijual onsite pada Entre Corner. Penjualan dilakukan melalui sistem pre-order yang dilakukan tiga kali. Promosi dilakukan melalui platform Instagram kami, @wonderbites.co, di mana ini memberikan kesempatan bagi konsumen yang menggunakan Instagram untuk mendapatkan produk kami lebih mudah sesuai pesanan. Penjualan terakhir kami dilakukan di acara kampus berupa BIFEST sebagai salah satu acara rutin yang diadakan. Di acara tersebut, cookies kami mendapatkan respons positif dari pengunjung yang mencari cemilan sehat dan lezat. Berikut adalah foto ketika kami berjualan hari ke-2 di Entre Corner dan foto kedua adalah pelanggan yang berfoto di gerai BIFEST kami.

Feedback yang kami terima dari konsumen meliputi wangi teh melati yang jarang ditemukan dalam produk cookies, tekstur cookies yang kering pada bagian luar dan bagian dalamnya terasa lembut dan crumbly, varian original memiliki rasa bunga telang yang kuat dan rasa manis yang pas, dan varian kacang dan cream cheese yang isiannya cukup banyak. Namun, konsumen menilai bahwa warna cookies kurang menarik, aroma teh terlalu kuat, tampilan mudah pecah, tekstur yang terlalu lembut dan rapuh atau terlalu keras, kurangnya isian kacang, rasa terlalu manis, dan varian cream cheese bukan filling. Evaluasi pun dilakukan setiap kali kami selesai memproduksi cookies. Berdasarkan hasil evaluasi, reformulasi dilakukan sebagai bentuk continuous improvement kami, seperti mengurangi jumlah gula yang digunakan, mengganti cookies filling cream cheese dengan meletakkan cream cheese di atasnya, dan beralih ke kemasan plastik doff food grade dari plastik singkong. Untuk kedepannya, kami akan melakukan riset untuk menambah varian cookies agar sesuai tren pasar dan preferensi konsumen, memperluas distribusi penjualan cookies seperti menitipkan jualan ke toko retail, meningkatkan strategi promosi yang lebih kreatif agar menarik perhatian konsumen, dan mengimplementasikan feedback konsumen agar pelayanan lebih memuaskan.

Dari hasil validasi pasar, dapat disimpulkan bahwa produk cookies baru WonderBites cukup diterima oleh target pasar, dengan catatan untuk mencari titik tengah antara kesukaan tekstur, warna, jumlah isian, dan rasa produk. Selain itu, kami juga belajar bahwa mengelola sebuah bisnis F&B bukan hal yang mudah dan harus terus melakukan continuous improvement agar sukses dalam menumbuhkan bisnis tersebut.