15 Mei 2024, kami melakukan penjualan secara tatap muka pertama kali di atrium Binus Alam Sutera. Saat pertama kali berjualan kami merasakan sangat gugup, selain karena takut produk yang kami jual tidak laku, kami juga takut mengecewakan pelanggan. Namun ternyata kami mendapat salah satu pengalaman yang tidak terlupakan. Sebelum menjual produk kami menyiapkan langsung saat paginya, jadi produk yang kami jual saat bifest merupakan produk yang fresh. 

Setelah selesai membuat mochi, kami pun langsung menempati booth yang telah ditentukan, kemudian kami mulai menjual produk kami. Satu demi satu mochi pun laku terjual, dan kami senang sekali produk kami habis laku terjual sebelum waktu berakhir. Walaupun kami kewalahan dalam mengatasi pelanggan yang terus berdatangan, namun dengan kerjasama yang baik kami dapat mengatasi tersebut. Kami membagi tugas agar produk dapat disampaikan dengan baik dan cepat kepada konsumen. Salah satu dari kami berperan sebagai kasir, untuk menerima pembayaran dari pembeli, kemudian yang lain bertugas untuk mengambil produk, sisanya berbagi tugas dalam hal menuang cream cheese dan topping sesuai yang diinginkan pembeli. Hanya saja saat berjualan kami tidak mengantisipasi pembawaan kantong plastik untuk layanan take away, sehingga salah satu pelanggan yang memesan banyak dan ingin dibawa pulang kesusahan dalam membawa produk.

Begitulah pengalaman yang kami rasakan saat berjualan. Dari pengalaman ini kami belajar banyak dalam hal berwirausaha. Tak hanya itu kami juga melatih wicara publik, melatih kesabaran, konsentrasi dan fokus. Selain itu dari pengalaman ini kami dapat melatih untuk berpikir kritis, logis, dan sistematis. Berpikir kritis dalam menangani pelanggan, berpikir logis dalam mendengar masukan, dan sistematis dalam menjalankan tugas.

Setelah proses validasi yang sudah dijalankan, langkah yang akan kami ambil kedepannya adalah memerluas jangkauan pemasaran dengan cara meningkatkan branding produk. Hal ini akan dilakukan dengan mengembangkan strategi pemasaran digital dengan memanfaatkan media sosial dan influencer. Hal ini penting untuk dilakukan untuk membangun branding dan trust dari pelanggan. Kami akan mengebangkan kreatif dan tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan. Peningkatan branding ini akan dilakukan dalam jangka waktu beberapa bulan kedepan, yang mana branding akan dimulai di wilayah cafe dengan tingkat masyarakat dengan penikmat makanan penutup yang tinggi. Kami akan mengimplementasikan ini dengan cara yang sesuai dengan Gen Z, yaitu konten yang menarik dan mudah dimengerti dengan kolaborasi bersama influencer dengan basis pengikut yang relevan dengan target customer. Sehingga diharapkan langkah ini dapat meningkatkan penjualan dan memperkuat branding Machi. Dari proses validasi yang telah dilakukan, kami akan terus belajar dan beradaptasi untuk terus mengembangkan produk Machi menjadi lebih baik lagi dengan mendengarkan umpan balik konsumen sebagai upaya untuk memastikan perkembangan produk kami sesuai kebutuhan pasar dan aspirasi pelanggan.

Refleksi Diri:
2602078820 - Livkarla Levaryandra:

15 Mei 2024, kami melakukan penjualan secara tatap muka pertama kali di atrium Binus Alam Sutera. Produk yang kami jual merupakan mochi yang bernama Machi.Setelah merundingkan produk yang ingin dijual, dengan persiapan yang matang, sampailah kami pada saat yang ditunggu-tunggu yaitu berjualan saat binus festival. Saat pertama kali berjualan kami merasakan sangat gugup, selain karena takut produk yang kami jual tidak laku, kami juga takut mengecewakan pelanggan. Namun ternyata kami mendapat salah satu pengalaman yang tidak terlupakan. Sebelum menjual produk kami menyiapkan langsung saat paginya, jadi produk yang kami jual saat bifest merupakan produk yang fresh.

Setelah selesai membuat mochi, kami pun langsung menempati booth yang telah ditentukan, kemudian kami mulai menjual produk kami. Satu demi satu mochi pun laku terjual, dan kami senang sekali produk kami habis laku terjual sebelum waktu berakhir. Walaupun kami kewalahan dalam mengatasi pelanggan yang terus berdatangan, namun dengan kerjasama yang baik kami dapat mengatasi tersebut. Kami membagi tugas agar produk dapat disampaikan dengan baik dan cepat kepada konsumen. Salah satu dari kami berperan sebagai kasir, untuk menerima pembayaran dari pembeli, kemudian yang lain bertugas untuk mengambil produk, sisanya berbagi tugas dalam hal menuang cream cheese dan topping sesuai yang diinginkan pembeli. Hanya saja saat berjualan kami tidak mengantisipasi pembawaan kantong plastik untuk layanan take away, sehingga salah satu pelanggan yang memesan banyak dan ingin dibawa pulang kesusahan dalam membawa produk. Selain itu kami juga kurang mengantisipasi dalam menyediakan tisu untuk digunakan pelanggan.

Begitulah pengalaman yang kami rasakan saat berjualan. Dari pengalaman ini kami belajar banyak dalam hal berwirausaha. Tak hanya itu kami juga melatih wicara publik, melatih kesabaran, konsentrasi dan fokus. Selain itu dari pengalaman ini kami dapat melatih untuk berpikir kritis, logis, dan sistematis. Berpikir kritis dalam menangani pelanggan, berpikir logis dalam mendengar masukan, dan sistematis dalam menjalankan tugas. Fokus, konsentrasi dan sabar dalam mengerjakan sesuatu dalam menyajikan produk agar pelanggan dapat menerima produk dengan baik dan enak.

2602071511 – Jerica Blessya Sulaiman
Pada pertemuan pertama mata kuliah Entrepreneurship: Market Validation kami diminta untuk membuat tim dan mendiskusikan produk yang unik yang ingin dijual. Dari sekian diskusi, ide yang diberikan, dan tanggapan-tanggapan yang ada terbentuklah sebuah ide untuk membuat mochi. Mochi tentunya dessert manis yang sudah banyak beredar dipasaran. Namun, hal yang membuat mochi kami berbeda adalah konsep topping kustomisasi yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya. Sebab, saya sendiri tidak terlalu menyukai jajanan mochi seperti itu. Tetapi hasil dari diskusi sudah mencapai kesepakatan untuk membuat mochi dengan cream cheese dan topping kustomisasi.

Kemudian, terdapat tantangan dari expert dan dosen untuk membuat mochi dengan rasa asin yang masih belum ada dipasaran. Sampai saat ini, kami masih berjuang untuk bisa mendapatkan dan mencapai tantangan berat itu. Tetapi konsep utama yang sudah matang ini kami coba untuk lakukan untuk pertama kalinya. Pembuatan pertama tentunya gagal dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Semakin lama proses produksi kami semakin baik dan hasilnya juga semakin memuaskan. Tentu saja itu terjadi karena adanya kerjasama tim saat merancang resep, membeli bahan, dll.

Tantangan kedua dimulai saat kami harus menjalankan ide bisnis kami secara nyata saat Binus Festival kemarin. Disaat itu, kami mendapat kloter siang. Sehingga, mochi kami buat secara fresh di pagi harinya. Terdapat banyak konflik yang terjadi seperti kekurangan bahan, waktu yang terlalu singkat, dll. Namun, kami bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik hingga dapat menjual 36+ porsi machi saat BiFest kemarin. Hal itu tentu saja menjadi masukan dan refleksi dari kami masing-masing agar kedepannya tidak ada kejadian seperti demikian kembali. Dimana saya belajar untuk tetap tenang saat terjadi sesuatu, dan menjaga komunikasi tim dengan baik. Sebab, komunikasi adalah hal yang sangat penting saat ada pekerjaan tim. Selama berjualan, kami membagi tugas agar situasi saat berjualan terkendali dan tidak ada masalah. Disaat itu, saya sangat bangga dengan teman-teman saya yang sudah sama-sama berjuang dari awal hingga BiFest ini.

Tantangan selanjutnya dimulai saat berjualan di Entre Corner selama 2 hari pada tanggal 7 – 8 Juni 2024. Disitu kami ditantang cara agar produk yang kami buat pada di hari itu bisa bertahan hingga hari esoknya. Berkat bantuan tim, kami bisa membuat dan menyelesaikan tugas Entre Corner dengan baik dan sukses. Dari sini saya belajar cara untuk berjuang dari nol hingga saat itu, berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk ini, kerjasama tim yang harus luar biasa, dan komunikasi antar anggota. Selain itu, saya juga belajar perihal langkah-langkah untuk membangun sebuah bisnis yang ternyata tidak semudah itu. Kemudian, saya belajar juga cara melayani konsumen, fokus, dan penyelesaian masalah disaat genting.

2602073990_Annastasya Chandra
Pada pertemuan pertama untuk mata kuliah ini, kami melakukan brain storming ide yang ingin kami buat untuk bisnis kami. Melalui sesi ini, saya mendapatkan banyak ide baru yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi bisnis yang baru. Pada semester lalu, kami membuat marshmallow, tapi gagal dan sulit untuk dikembangkan. Oleh karena itu, semester ini, kami memilih mochi untuk produk kami. Selama pembuatan mochi kami, semua berjalan dengan baik. Kami juga membuat cream cheese homemade yang sangat enak saat dipadukan dengan mochi kami. Namun, tantangan mulai bermunculan. Pertama, pembelian packaging kami yang salah 2 kali dimana yang pertama kekecilan, sehingga creamnya meluber dan yang kedua kebesaran, sehingga balance antara mochi dan packagingnya tidak sesuai. Oleh karena itu, kami kesulitan dalam menemukan packaging yang sesuai. Kedua, ketika kami ingin membuat kembali mochi dan cream terdapat perbedaan rasa, sehingga kami kesulitan untuk mendapatkan rasa yang seperti semula. Hal ini dikarenakan perbedaan timbangan yang digunakan, sehingga dari tantangan ini kami mencoba untuk lebih fleksibel dan bisa memperkirakan penambahan yang dibutuhkan. Ketiga, kami kesulitan dalam membulatkan mochi yang lengket ditangan. Melalui tantangan ini, kami bereksperimen dalam menggunakan minyak dan mengimproviasi takarannya. Keempat, kami kesulitan dalam pembuatan konten untuk promosi. Hal ini dikarenakan kesibukan kami masing-masing, sehingga tidak bisa melakukan promosi, seperti kelompok lain.

Tantangan terbesar kami adalah saat Bi-Fest. Kami mempersiapkan mochinya dipagi hari, sehingga membutuhkan banyak waktu dan persiapan. Terlebih lagi banyaknya porsi yang harus dibuat dalam waktu yang singkat, sehingga kami hampir telat dalam pembukaan booth bi-fest kami. Oleh karena itu, kami berbagi tugas dimana ada beberapa yang mengurus mochi di bawah dan ada beberapa yang bertugas membuka dan mempersiapkan booth kami. Saya bertugas dalam menyiapkan booth. Lalu ketika saya sampai dengan minim preperasi, terdapat konsumen yang mau beli. Hal ini membuat saya panik karena belum ada persiapan untuk menyambut konsumen dan terdapat beberapa peralatan yang hilang juga. Namun, setelah semua anggota kelompok berkumpul dan sudah melewati beberapa konsumen, kami menjadi lebih terbiasa dan terjadi pembagian tugas secara instan. Saya bertugas untuk menerima pesanan dan melakukan pembayaran. Bi-Fest berjalan dengan lancar dan kami menjual sekita 36 porsi. Dalam acara ini, saya belajar banyak dalam bekerja dengan efisien.

Selama perjalanan Machi, saya belajar banyak tentang komunikasi yang baik, kerja sama, kesabaran, dan berjualan yang baik. Saya juga belajar untuk mencari jalan tengah diantara anggota kelompok saya yang memiliki keterampilan yang baik semua. Mata kuliah ini menjadi pengalaman yang berharga dan menempatkan saya disimulasi bisnis yang beneran. Saya berharap bisnis ini bisa berlanjut dan dikembangkan menjadi bisnus yang beneran.

2602069955_Shantika Puspita Soerjadi
Mata kuliah Entrepreunership memberikan saya banyak sekali pengalaman mulai dari bisnis, komunikasi hingga memasak. Pengalaman ini sangat mengesankan bagi saya apalagi saya berkesempatan untuk membangun bisnis bersama 3 teman saya yang saya sudah kenal sedari semester satu. Dari mulai memikirkan ide jualan, pembelian barang-barang, memikirkan konsep, R&D, hingga berhasil jualan memberikan saya pelajaran yang amat sangat banyak. Dari sini saya belajar jika bisnis membutuhkan kesabaran, konsisten dan komunikasi yang baik. Akan ada banyak hal yang membuat kita harus bersabar seperti melihat perkembangan dalam R&D, ditipu vendor packaging, resep jualan yang tidak menentu, hasil jualan yang tidak menentu dan lainnya. Dengan konsisten, hasil kerja keras yang ditunggu-tunggu akhirnya terlihat juga dan rasanya amat sangat menyenangkan ketika produk kita banyak disukai oleh kebanyakan orang. Komunikasi yang baik akan membuat semuanya lebih mudah untuk dilakukan. Bagi saya, komunikasi pada bisnis merupakan hal yang sangat penting dikarenakan pada saat kita bekerja kelompok seperti ini, komunikasi yang buruk akan membuat pekerjaan kita tertunda dan menyakiti perasaan orang lain. Saya sangat bersyukur dapat menyelesaikan mata kuliah ini dengan baik bersama 3 teman baik saya.