Perilaku konsumen didefinisikan sebagai aktivitas memilih, membeli, menggunakan,  dan  mengganti  suatu  produk  atau  layanan  agar  dapat memenuhi keinginan dari suatu produk atau layanan tersebut (Blackwell, Miniard, & Engel, 2001: 6). Sedangkan Hawkins, Mothersbaugh, & Best (2007: 6) mengartikan

 

perilaku konsumen sebagai sebuah studi  dari  individu,  kelompok,  atau    organisasi dan  proses  yang  mereka  gunakan  untuk  memilih,  mengamankan,  menggunakan,  menempatkan produk,  pelayanan,  pengalaman,  atau  ide  untuk    memuaskan  kemauan  dan  dampak  dari  proses ini  kepada  konsumen  dan  masyarakat. Dengan kata lain, consumer behavior didefinisikan sebagai alasan dan bagaimana cara masyarakat mengkonsumsi sesuatu.

Melalui pemahaman yang baik terhadap perilaku konsumen, suatu bisnis dapat memperoleh kesempatan emas agar produk mereka dapat menyesuaikan dengan keinginan konsumen dan pada akhirnya meningkatkan competitive advantage (Blackwell, Miniard, & Engel, 2001). Sebagai bentuk alternatif dari konsumsi, konsumsi kolaboratif terus mendulang popularitasnya karena salah satu alasannya adalah kemampuan konsumsi kolaboratif dalam beradaptasi guna menarik perhatian konsumen (Störby & Strömbladh, 2015). Pada intinya, pemahaman terhadap perilaku konsumen merupakan aspek yang paling utama agar dapat mengetahui motivasi konsumen dalam menggunakan suatu produk tertentu, hal yang tentunya juga berlaku bagi semua bentuk konsumsi kolaboratif (Bardhi & Eckhardt, 2012). Oleh karena itu, pada landasan teori ditekankan mengenai penjelasan konsumsi kolaboratif bersamaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi konsumen untuk terlibat dalam konsumsi kolaboratif agar dapat memahami fenomena serta pokok-pokor prinsip konsumsi kolaboratif dengan lebih mendalam.