Faktor Idealistis
Faktor idealistis dianggap sebagai salah satu faktor yang dapat memotivasi konsumen untuk berpartisipasi dalam konsumsi kolaboratif karena faktor tersebut berkaitan erat dengan isu lingkungan dan etika (Albinsson & Perera, 2012; Botsman & Rogers, 2010). Beberapa penelitian membuktikan bahwa kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan semakin meningkat serta memicu semakin berkembangnya konsep green marketing. Seperti yang diungkapkan oleh Lawson (2010: 842) bahwa masyarakat yang terlibat dalam gaya hidup konsumsi kolaboratif cenderung beralih dari pola pikir materialisme kepada pola pikir non-ownership consumption. Setiap pilihan mereka untuk membeli barang maupun jasa merefleksikan kepedulian mereka terhadap isu lingkungan dan sosial (Ertz, Durif, & Arcand, 2016: 205; Lawson, 2010: 842). Untuk menunjang keberlanjutan lingkungan serta mengurangi dampak lingkungan, perlu diterapkan gaya hidup yang lebih meminimalisir penggunaan sumber daya yang tidak perlu demi mengurangi beban lingkungan (Glind, 2013: 25).
Albinsson & Perera (2012) juga menyatakan bahwa keinginan untuk meminimalisir dampak terhadap kerusakan lingkungan maupun sosial menjadi salah satu faktor pendorong utama bagi mereka yang terlibat dalam beragam jenis redistribusi pasar. Pernyataan tersebut juga didukung oleh pernyataan Hamari, Sjoklint, & Ukkonen (2015) yang menyatakan aspek sustainability mempengaruhi sikap konsumen secara positif terhadap konsumsi kolaboratif. Meskipun demikian, alasan idealistis untuk berpartisipasi dalam konsumsi kolaboratif tidak terbatas pada masalah lingkungan. Penyebab sosial lainnya, seperti politik juga dapat menjadi pertimbangan (Albinsson & Perera, 2012). Selain itu, asas timbal balik mengenai keuntungan yang diterima dengan membantu orang lain juga berhubungan dengan faktor idealistis (Schiel, 2015: 34).
Hal tersebut kontras dengan apa yang disampaikan oleh Botsman & Rogers (2011) bahwa terlepas dari banyaknya pihak-pihak yang terlibat dalam konsumsi kolaboratif yang sudah mencurahkan perhatian pada isu lingkungan, faktor pendorong konsumen dalam berpartisipasi di konsumsi kolaboratif malah kebanyakan tidak memiliki sangkut paut sama sekali dengan isu lingkungan. Pada studinya Glind (2013) juga menemukan bahwa hanya sejumlah kecil orang saja yang menempatkan isu lingkungan sebagai alasan utama mereka bergabung dalam konsumsi kolaboratif. Akan tetapi, sejatinya isu lingkungan menjadi alasan mulia bagi seluruh pihak yang terlibat demi memberikan dampak nyata bagi lingkungan dengan mengadopsi gaya hidup sehat dan tidak merusak lingkungan melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan serta menunjang gaya hidup (Störby & Strömbladh, 2015; Owyang, Samuel, & Grenville, 2014). Dalam studi Schiel (2015: 61), faktor idealistis berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap sikap pada konsumsi kolaboratif. Hasil tersebut berbanding terbalik dengan studi Binninger, Ourahmoune, & Robert (2015: 980) yang menyatakan bahwa faktor idealistis berpengaruh terhadap konsumsi yang berkelanjutan.
Comments :