Transformasi identitas kota Bandung melalui praktik street art Studi estetika, sosial, dan komunikatif
Abstrak
Praktik street art di Bandung menunjukkan pergeseran visual di ruang kota yang memengaruhi cara warga dan pengunjung melihat identitas kota. Street art adalah seni yang dibuat di ruang publik berupa mural atau grafiti di tembok jalanan yang bisa dilihat tanpa harus masuk ke galeri. Karya tersebut muncul di banyak lokasi di Bandung seperti Jalan H. Juanda di Dago, yang sejak era 1990-an berkembang menjadi tempat karya seni visual yang menampilkan tema sosial dan budaya. Seni ini kemudian dipadukan dengan strategi branding kota yang lebih luas, termasuk pengakuan Bandung sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network dalam kategori City of Design sejak 2015, yang menunjukkan fokus kota pada desain, kreativitas, dan ekonomi kreatif. Kegiatan komunitas seperti Dago Pojok Creative Village memanfaatkan seni visual untuk menciptakan ruang kolaboratif dan menarik wisatawan. Street art memiliki nilai estetika yang beragam, dari gaya figuratif sampai abstrak, serta menyampaikan pengalaman kehidupan urban yang berbeda. Karya mural pemerintah yang dikerjakan pada tembok di Lodaya Street merupakan contoh tindakan pemerintah yang memfasilitasi seni jalanan sebagai bagian dari penataan visual kota. Transformasi Bandung sebagai kota kreatif melalui praktik street art memberi gambaran bagi siswa SMA yang ingin mempelajari seni visual, desain, dan animasi bagaimana seni publik berkembang dalam konteks sosial dan kota modern.
Street art adalah bentuk seni yang ditampilkan di ruang publik, seperti dinding jalan atau tembok bangunan, yang dapat dinikmati orang ramai tanpa masuk ke ruang tertutup seperti galeri seni. Mural adalah gambar atau lukisan yang dibuat langsung di permukaan besar, biasanya dinding, dan sering memperlihatkan bentuk figuratif atau visual yang bisa diberi makna budaya atau sosial. Grafiti adalah tulisan atau gambar yang dibuat di ruang publik yang awalnya sering dikaitkan dengan kegiatan ilegal tetapi kini banyak diterima sebagai ekspresi visual kota.
Bandung tercatat dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sejak tahun 2015 sebagai City of Design, sebuah pengakuan internasional yang menunjukkan bahwa kreativitas dan desain merupakan bagian dari strategi pengembangan kota. Pengakuan ini menjelaskan bahwa 56 persen aktivitas ekonomi Bandung terkait dengan desain, termasuk fashion, desain grafis, dan media digital, yang turut memengaruhi suasana visual kota.
Salah satu lokasi yang identik dengan budaya street art di Bandung adalah kawasan Jalan H. Juanda di Dago. Sejak awal munculnya komunitas seni jalanan di era 1990-an, pesan visual seperti kritik sosial atau tema budaya sering muncul dalam karya street art yang dibuat oleh komunitas lokal. Pada era 2000-an karya tersebut berkembang menjadi mural dan grafiti yang lebih besar, dengan keterlibatan anak muda dan warga sekitar, termasuk gerakan yang dikenal sebagai Dago Pojok Creative Village.
Inisiatif Dago Pojok Creative Village resmi dikenali sejak tahun 2012, dan komunitas ini melibatkan warga dalam kegiatan seni yang bersifat kolaboratif. Kolaborasi ini terlihat dalam karya mural yang dibuat di Taman Sari dengan menghadirkan seniman dari beberapa kota bahkan satu seniman dari Prancis. Kegiatan semacam ini menjadikan karya street art sebagai bagian dari pengalaman visual kota yang bisa menarik wisatawan dan komunitas kreatif.
Praktik street art memiliki aspek estetika yang beragam. Aspek estetika berarti karakter visual karya seperti bentuk, warna, dan gaya yang digunakan untuk menyampaikan suatu ide atau pesan. Karya mural di Bandung sering dipilih karena ruangnya yang besar dan terlihat oleh banyak orang. Karya tersebut bisa berupa figuratif yang menggambarkan tokoh atau cerita, atau bentuk abstrak yang memberi ruang interpretasi berbeda bagi penikmatnya.
Pemerintah kota juga terlibat dalam penggunaan seni visual untuk merubah tampilan ruang kota. Contohnya, dinding di Lodaya Street yang sebelumnya tampak kosong dihias mural yang menggambarkan tema olah raga oleh seniman John Martono, sebuah karya yang dibuat dalam 12 hari dan menjadi bagian dari struktur visual ruang kota. Pernyataan Wali Kota Bandung pada saat peresmian mural tersebut mengatakan bahwa karya seni ini dibuat untuk memperindah kota dan memberi identitas visual bagi lingkungan sekitar.
Bandung Creative Hub adalah sebuah pusat kreativitas yang mendukung kegiatan kreatif di kota termasuk seni visual, desain, dan media digital. Penelitian terhadap fasad Creative Hub menunjukkan bahwa desain ruang ini memperlihatkan estetika visual melalui bentuk geometris dan kombinasi warna, serta memberi pesan visual yang berhubungan dengan inovasi dan kolaborasi masyarakat Bandung.
Interaksi sosial dalam street art juga memperlihatkan hubungan antara karya visual dan pengalaman komunitas. Kegiatan seperti Street Art Dakwah di Wakaf Salman menunjukkan bahwa street art bisa digunakan sebagai media ekspresi terhadap isu kemanusiaan, dengan kegiatan seperti graffiti, workshop mural, dan diskusi di ruang publik.
Seni jalanan di Bandung sering dipandang sebagai bagian dari identitas visual kota yang muncul di jalan dan tembok, sehingga membantu mendefinisikan karakter urban Bandung bagi warga dan pengunjung. Identitas kota berarti cara suatu kota dikenali atau dirasakan oleh orang lain berdasarkan karakter, budaya, dan karya visual yang muncul di ruang publik. Pengakuan kota di UNESCO Creative Cities Network dan kegiatan komunitas lokal memberikan konteks bagi siswa SMA yang tertarik pada studi seni visual atau animasi untuk memahami bagaimana seni publik bekerja bersama faktor sosial dan estetika yang lebih luas di dalam pengembangan ruang kota.
Comments :