Perkembangan Industri animasi 2 Dimensi di Indonesia di Tengah Marakya Film-Film Animasi Barat
Abstrak
Industri animasi di Indonesia berkembang dalam beberapa dekade terakhir, dengan banyak studio lokal dan karya animasi yang semakin dikenal oleh penonton di dalam negeri dan luar negeri. Animasi 2 dimensi atau animasi 2D adalah teknik animasi yang menciptakan gambar bergerak di ruang dua dimensi, yaitu lebar dan tinggi, biasanya dibuat dengan menggambar setiap frame secara manual atau dengan bantuan komputer. Studio-studio animasi di Indonesia mulai tumbuh pesat sejak era digital. Menurut data dari Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), hingga tahun 2020 terdapat lebih dari 120 studio animasi yang tersebar di 23 kota, terutama di Pulau Jawa, dan industri ini tumbuh sekitar 153 persen dalam lima tahun sebelum pandemi. Jumlah pekerja di sektor ini diperkirakan mencapai sekitar 24.000 orang. Film animasi Indonesia baru-baru ini mendapatkan perhatian luas, terutama film Jumbo (2025) yang ditonton lebih dari 10 juta penonton dan menjadi film animasi terlaris di Asia Tenggara. Meskipun animasi 3D kini mendominasi banyak produksi populer di platform digital dan televisi, karya animasi 2D tetap dibuat oleh studio lokal dan ditayangkan dalam serial atau film pendek. Perkembangan industri ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya konsumsi film barat termasuk produksi animasi 3D dari perusahaan besar. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun animasi Indonesia bersaing dengan film animasi barat, produksi lokal terus tumbuh dan menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif nasional.
Animasi 2 dimensi atau disebut animasi 2D adalah bentuk animasi yang menciptakan gambar bergerak di dalam bidang dua dimensi (lebar dan tinggi). Animator membuat setiap gambar atau bagian gambar bergerak dari satu frame ke frame berikutnya agar muncul ilusi gerak di layar. Animasi 3 dimensi atau animasi 3D, berbeda dengan 2D, adalah teknik animasi yang membuat model digital memiliki kedalaman visual serta dimensi ruang tiga arah.
Perkembangan industri animasi di Indonesia telah berlangsung puluhan tahun dan dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk teknologi, pasar lokal, dan eksposur terhadap film animasi barat. Indonesia mulai membuat karya animasi sejak awal abad ke-20, namun baru mengalami pertumbuhan yang lebih signifikan setelah era digital. Produksi animasi seperti Battle of Surabaya (2015) berhasil mendapatkan penghargaan internasional Best Animation di Hollywood International Motion Pictures Film Festival 2018, meskipun animasi tersebut bukan film animasi barat. (Perkembangan animasi Indonesia…, kilaskepri.com)
Sebelum pandemi Covid-19, data dari Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI) menunjukkan lebih dari 120 studio animasi tersebar di 23 kota di Indonesia, dengan konsentrasi terbesar di Pulau Jawa. Besaran industri animasi Indonesia tumbuh sekitar 153 persen antara 2015 dan 2020, rata-rata 26 persen per tahun. Jumlah pekerja di sektor animasi ini diperkirakan mencapai sekitar 24.000 orang, menunjukkan bahwa industri ini menjadi sektor padat karya di ekonomi kreatif. (Mencermati suksesnya film “Jumbo” dan tantangan industri film animasi Indonesia)
Film animasi lokal semakin menarik perhatian publik. Jumbo (2025), sebuah film animasi produksi Visinema Pictures, mencatat lebih dari 10 juta penonton dalam sembilan minggu penayangan di bioskop dan menjadi film animasi dengan pendapatan tertinggi di Asia Tenggara. Film ini juga menarik antusiasme besar karena berhasil melampaui sejumlah film populer lainnya di Indonesia. (Beyond ‘Jumbo’ fever…)
Dalam konteks persaingan dengan film animasi barat, Indonesia tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga ikut memproduksi karya sendiri. Film barat seperti dari studio animasi besar sering masuk ke pasar Indonesia dan memiliki basis penonton besar. Permintaan untuk film animasi internasional tetap tinggi di kalangan remaja dan anak-anak Indonesia, yang melihat karya-karya seperti yang diproduksi oleh Disney atau Pixar. Namun, data komersial yang kuat untuk produksi lokal seperti Jumbo menunjukkan bahwa penonton Indonesia juga mendukung karya animasi dalam negeri. (Reuters: Jumbo takings for hit Indonesian animated film…)
Studio lokal Indonesia sering menggunakan teknik animasi 2D dan 3D untuk produksi mereka, tergantung pada jenis proyek dan kebutuhan pasar. Teknik animasi 2D tradisional tetap digunakan oleh beberapa studio karena gaya visual ini bisa lebih mudah diproduksi dan sesuai untuk serial televisi atau konten pendek digital. Di samping itu, platform digital seperti YouTube dan saluran streaming lain memberikan ruang lebih untuk karya animasi lokal ditemukan oleh audiens luas tanpa memerlukan biaya distribusi yang besar seperti di bioskop. (Beyond ‘Jumbo’ fever…)
Animasi 2D di Indonesia juga terus dipengaruhi oleh tren global termasuk pelatihan animator di sekolah vokasi dan universitas yang menyediakan jurusan animasi dan media digital. Jumlah lulusan atau tenaga kerja terampil di animasi menjadi salah satu faktor yang mendorong lebih banyak proyek lokal dikembangkan. Namun, data lengkap tentang jumlah lulusan animasi di Indonesia secara spesifik belum tersedia dalam sumber tepercaya yang dibahas di artikel ini.
Munculnya karakter animasi Indonesia di televisi dan platform online seperti Nussa dan Adit & Sopo Jarwo menunjukkan bahwa konten lokal dapat bersaing untuk mendapatkan perhatian penonton di tengah dominasi film animasi barat di pasar global. (Mencermati suksesnya film “Jumbo”…)
Pertumbuhan industri animasi lokal menunjukkan bahwa 2D tetap relevan di Indonesia, baik dalam karya independen maupun produksi studio. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan kebutuhan penonton akan berbagai gaya animasi dan cerita, serta semakin banyaknya akses terhadap teknologi digital yang membuat proses produksi dan distribusi karya animasi menjadi lebih mudah dibandingkan beberapa dekade lalu.
Comments :