Kesiapan digital dan nantinya penerapan AI secara masif di rumah sakit akan mendorong pembaruan strategi rumah sakit.

Author: Mohammad Hamsal

Courtesy of Kompas/Bahana Patria Gupta

Rektor Djwantoro Hardjito (kiri) menjelaskan robot medis yang diberi nama Spero buatan Universitas Kristen Petra Surabaya di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (26/6/2020). Secara umum, robot berfungsi sebagai pembawa obat dan makanan pada pasien Covid, tetapi semua file terkait robot dibuka untuk umum secara gratis dari desain hingga kode program robot.

 Majalah Newsweek edisi pertengahan Maret 2024 menghampiri pembacanya dengan tajuk ”Bagaimana AI Akan Membantu Para CEO Rumah Sakit Ternama di Dunia Mengubah Layanan Kesehatan”.

Dalam ulasannya Newsweek berpendapat bahwa para pemimpin beberapa rumah sakit terbaik dunia berada pada momen yang unik. Beberapa tahun setelah pandemi COVID-19, lingkungan sektor kesehatan telah berhasil mendorong sistem layanan kepada pasien sampai ke titik kulminasi. Para eksekutif rumah sakit terkemuka tersebut kini menjadikan lembaganya terdepan dalam lompatan terbesar di bidang pengobatan modern, melalui kecerdasan buatan (AI).

AI dengan cepat menunjukkan potensi merevolusi banyak aspek layanan kesehatan, mulai dari diagnosis kanker hingga pekerjaan administrasi. Namun AI juga menghadirkan risiko baru, ketidakpastian, dan pertanyaan etika yang terus menghantui.

Rumah Sakit Terbaik Dunia 2024

Dalam hidup, salah satu keputusan yang sangat penting adalah memilih rumah sakit yang tepat untuk memberikan perawatan kesehatan bagi diri kita pribadi atau orang yang kita cintai.

Di samping mengulas peran penting AI di bidang layanan kesehatan, Newsweek merilis pula peringkat 250 rumah sakit terbaik sedunia pada 2024. Majalah ini telah membantu kita melihat dengan seksama pemeringkatan tahunan rumah sakit terbaik dunia, yang sudah dimulainya sejak Maret 2019. Selanjutnya, menjadi pertimbangan masyarakat global dalam memilih rumah sakit untuk berobat.

Skor setiap rumah sakit didasarkan pada survei daring terhadap lebih dari 85.000 ahli medis dan data publik dari survei pasien pasca rawat inap mengenai kepuasan mereka secara umum. Skor tersebut juga mempertimbangkan indikator seperti kebersihan dan rasio pasien/dokter serta survei terkait apakah rumah sakit menggunakan Pengukuran Hasil yang Dilaporkan Pasien (PROM), yang merupakan kuesioner standar yang diisi oleh pasien untuk menilai pengalaman dan hasil mereka.

Tahun ini, daftar tersebut mencakup data 2.400 rumah sakit di 30 negara. Untuk kali pertama Malaysia dan Chile masuk ke dalam peringkat tersebut, yang juga mencakup Amerika Serikat, sebagian besar negara Eropa Barat dan Skandinavia, sepuluh negara Asia, Australia, dan negara-negara lain di Amerika.

Data ini disusun berdasarkan negara dan juga mencantumkan 250 rumah sakit unggulan di seluruh dunia. Dari seluruh rumah sakit yang diperingkat, 10 besar rumah sakit menggunakan kecerdasan buatan sebagai perangkat dukungan untuk memajukan penemuan dan pelayanan medis kepada pasien.

Dengan banyaknya hal yang dipertaruhkan baik bagi individu maupun institusi dalam pemberian perawatan kesehatan, data yang andal adalah kuncinya. Pemeringkatan Newsweek memberikan wawasan dan masukan penting bagi pasien, keluarga, dan eksekutif di bidang layanan kesehatan.

Menurut data resmi, Indonesia saat ini memiliki 2.945 rumah sakit dan 2.385 rumah sakit di antaranya telah mendapat akreditasi bahkan akreditasi internasional. Namun ironisnya tak satu pun dari rumah sakit di negeri ini masuk dalam peringkat yang dilakukan oleh majalah Newsweek tersebut.

Mendorong Pembaharuan Strategis

Banyak pertanyaan mengusik tentang apa yang terjadi di rumah sakit di negeri ini. Secara umum, bagaimana daya saing rumah sakit kita? Apakah rumah sakit kita telah siap dengan digitalisasi? Apakah di industri kesehatan kita telah terjadi pembaharuan strategis dalam pengelolaan rumah sakit?

Penelitian Tenggono (2024) terhadap 308 rumah sakit swasta tipe B dan C di seluruh Indonesia memperlihatkan wajah pelaku utama industri kesehatan kita. Pertama, tekanan kelembagaan berupa persaingan dan tuntutan pasien mempengaruhi kemampuan manajerial dinamis. Hal ini diwujudkan melalui komunikasi yang efektif antara pimpinan rumah sakit dan jajarannya, pembentukan tim yang terpadu, dan mendorong komitmen yang tinggi di pengurus rumah sakit.

Kedua, kemampuan manajerial dinamis melalui kemampuan pengelolaan rumah sakit secara serius dengan dukungan jiwa kewirausahaan dapat menentukan ketangkasan strategis. Ketiga, ketangkasan strategis berperan sebagai mediator antara tekanan kelembagaan dengan pembaharuan strategis. Hal ini difasilitasi oleh tim yang solid dan hubungan yang luwes antar unit di internal rumah sakit. Akan tetapi, ketangkasan strategis tidak menjadi mediator antara kemampuan manajerial dinamis dengan pengembangan pembaharuan strategis.

Keempat, kesiapan digital rumah sakit menjadi mediator baik tekanan kelembagaan maupun kemampuan manajerial dinamis dalam mendorong pembaharuan strategis. Hal ini dilakukan oleh manajemen rumah sakit secara serius melalui implementasi layanan kesehatan yang didukung oleh digitalisasi.

Temuan terakhir bahwa kesiapan digital rumah sakit menjadi mediator yang lebih dominan terhadap pembaharuan strategis dibandingkan dengan ketangkasan strategis dari tekanan kelembagaan dan kemampuan manajerial dinamis.

Penelitian ini secara keseluruhan menyimpulkan bahwa pimpinan harus menyampaikan dan membangun kesiapan dan pemanfaatan teknologi digital di internal organisasi rumah sakit.

 

AI dan Layanan Kesehatan di Masa Depan

Pemerintah mendukung dan mendorong penerapan teknologi digital untuk kesehatan masyarakat. Tiga tahun lalu, telah diluncurkan buku cetak biru “Strategi Transformasi Digital Kesehatan” yang diharapkan menjadi pegangan da rujukan para pelaku industri kesehatan menyongsong era digitalisasi. Dalam memanfaatkan teknologi digital, Pemerintah antara lain mengharapkan rumah sakit dapat mengimplementasikan sistem analisis kesehatan berbasis AI.

Mengibaratkan dengan bidang pendidikan, paling tidak ada dua hal utama yang ingin diraih dalam penerapan AI di sektor kesehatan. Implementasi AI tidak hanya akan “mencerdaskan” rumah sakit dalam pemberian layanan kesehatan, tetapi juga akan menaikkan nilai rapor” daya saingnya.

Penerapan AI di lingkungan rumah sakit di Indonesia memang masih terbatas. Hampir semua rumah sakit masih berkutat bagaimana menuntaskan penerapan E-MR (electronic medical record). Di masa mendatang, manajemen rumah sakit harus mampu membangun kemitraan dan jejaring serta ekosistem layanan digital. Tantangan pimpinan rumah sakit masa depan adalah memastikan terjadinya peningkatan kapabilitas dan budaya organisasi yang berorientasi kepada kerjasama digital.

Kesiapan digital dan nantinya penerapan AI secara masif di rumah sakit akan mendorong pembaharuan strategi rumah sakit. Hal ini bukan saja akan mendukung pimpinan dalam mengelola rumah sakit agar menjadi lebih “pintar”, tetapi pada gilirannya akan meningkatkan daya saing serta pasien sebagai “wasit” menjatuhkan perawatan kesehatannya pada rumah sakit yang sesuai kebutuhannya, seperti yang diwartakan oleh Newsweek.

This article was published in kompas.id on May 29, 2024

Article link:

https://www.kompas.id/artikel/ai-bukan-sekadar-mencerdaskan-rumah-sakit