{"id":613,"date":"2026-05-20T15:17:03","date_gmt":"2026-05-20T08:17:03","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/?p=613"},"modified":"2026-05-20T15:17:03","modified_gmt":"2026-05-20T08:17:03","slug":"dari-donasi-hingga-volunteer-solusi-bantuin-dalam-menghubungkan-donatur-relawan-dan-penerima-bantuan-secara-transparan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/2026\/05\/20\/dari-donasi-hingga-volunteer-solusi-bantuin-dalam-menghubungkan-donatur-relawan-dan-penerima-bantuan-secara-transparan\/","title":{"rendered":"Dari Donasi hingga Volunteer: Solusi BantuIN dalam Menghubungkan Donatur, Relawan, dan Penerima Bantuan Secara Transparan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"0\" data-end=\"676\">Di tengah berkembangnya platform donasi digital di Indonesia, masih banyak masyarakat yang merasa ragu untuk berdonasi secara online. Tidak sedikit pengguna yang bingung memilih lembaga yang benar-benar terpercaya, khawatir dana tidak tersalurkan dengan baik, hingga merasa proses donasi terlalu rumit dan kurang transparan. Di sisi lain, relawan dan penerima bantuan juga sering mengalami kendala komunikasi, proses verifikasi yang lambat, serta minimnya informasi terkait perkembangan bantuan secara real-time. Akibatnya, niat baik untuk membantu sesama sering kali tertunda bahkan hilang karena kurangnya rasa aman dan kepercayaan terhadap platform digital yang tersedia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\" data-start=\"678\" data-end=\"1442\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Melihat permasalahan tersebut, mahasiswa BINUS University menghadirkan <strong data-start=\"749\" data-end=\"784\">BantuIN: Indonesian Charity App<\/strong>, sebuah aplikasi donasi digital yang dirancang untuk menghubungkan donatur, volunteer, dan penerima bantuan dalam satu ekosistem sosial yang aman, transparan, dan terpercaya. Tidak hanya menyediakan fitur donasi uang dan barang, BantuIN juga menghadirkan berbagai inovasi seperti AI Donation Advisor, Impact Tracker, Escrow &amp; Auto Refund System, hingga fitur \u201cAksi Nyata\u201d dan Community Participation yang mendorong pengguna untuk terlibat langsung dalam kegiatan sosial. Melalui pendekatan berbasis teknologi dan empati sosial, BantuIN ingin mengubah pengalaman berdonasi menjadi lebih mudah, bermakna, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p data-start=\"678\" data-end=\"1442\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-615\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1.png\" alt=\"\" width=\"505\" height=\"714\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1.png 1414w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-212x300.png 212w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-724x1024.png 724w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-768x1086.png 768w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1086x1536.png 1086w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-480x679.png 480w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1024x1448.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 505px) 100vw, 505px\" \/><\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Call to Adventure<br \/>\na. Describe the initial problem to solve.<br \/>\nMasyarakat ingin berdonasi, tetapi sering bingung memilih lembaga yang benar-benar aman dan terpercaya, Merasa prosesnya rumit, tidak transparan, dan memakan waktu, Ragu dana benar-benar sampai kepada penerima, dan Merasa kurang peduli karena tidak ada platform yang membuat donasi itu terasa dekat dan relevan. Selain itu, banyak platform sangat mudah saat top-up, tetapi sulit saat refund, sehingga menurunkan kepercayaan pengguna.<br \/>\nb. Why does this problem matter to users? Why is it important for the business\/organization?<br \/>\nBagi pengguna, mereka ingin memastikan donasi tepat sasaran, bukti dampak nyata, proses donasi yang cepat, aman, dan tidak membingungkan serta merasa dihargai ketika berkontribusi. Bagi bisnis\/organisasi, kepercayaan publik menentukan keberlangsungan platform donasi, transparansi adalah kunci mempertahankan kredibilitas, platform yang membangun keterlibatan komunitas akan meningkatkan retensi pengguna, dan tanpa solusi yang modern, lembaga donasi sulit bersaing dan mendapat dukungan.<br \/>\nc. Provide context: How were users solving this problem (or not solving it) before?<br \/>\nMereka mencari-cari sendiri lembaga lewat Google\/Instagram, mengandalkan rekomendasi teman, menggunakan platform donasi, tetapi masih ragu karena kurang bukti transparansi, relawan mencari informasi lewat komunitas kampus\/sekolah tanpa platform terpusat, penerima bantuan mengajukan lewat form atau DM, sering lama dan tidak ada status real-time, dan menggunakan platform seperti Kitabisa. Meski populer, ada kritik soal refund yang rumit, transparansi terbatas, dan bias promosi untuk kampanye selebriti.<br \/>\nHasilnya: proses tidak efisien, tidak transparan, dan membuat niat baik mudah hilang.<\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Threshold Guardianas<br \/>\na. Outline the business goals of your design solution<br \/>\nBantuIN hadir dengan visi besar: membangun sebuah platform donasi digital yang benar-benar aman, cepat, dan transparan. Selama ini, banyak orang ingin berdonasi tetapi ragu karena prosesnya rumit dan tidak jelas apakah bantuan benar-benar sampai. Karena itu, BantuIN dirancang bukan hanya sebagai aplikasi donasi, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan donatur, volunteer, dan penerima bantuan dalam satu ekosistem kepedulian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Melalui fitur komunitas dan edukasi, aplikasi ini juga berupaya menumbuhkan rasa peduli sosial di masyarakat. Donasi tidak lagi sekadar memberi uang, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama yang nyata. Untuk memastikan kepercayaan, BantuIN menyederhanakan proses donasi dan verifikasi dengan bantuan teknologi AI. Sistem ini mampu merekomendasikan campaign sesuai minat pengguna, memverifikasi penerima bantuan, serta menampilkan laporan transparansi secara real-time.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, BantuIN ingin membangun loyalitas pengguna dengan memberikan pengalaman yang bermakna. Donatur akan merasa dihargai melalui badge, sertifikat digital, dan ucapan terima kasih personal. Mereka juga bisa melihat dampak nyata dari kontribusinya lewat fitur Impact Tracker. Dengan begitu, setiap donasi bukan hanya transaksi, tetapi sebuah pengalaman sosial yang memberi kepuasan emosional sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap platform.<br \/>\nb. What constraints, success metrics, and organizational objectives shaped the project?<br \/>\nDalam pengembangan aplikasi BantuIN, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar solusi benar-benar efektif dan dapat dipercaya oleh masyarakat:<br \/>\n&#8211; Rendahnya kepercayaan terhadap lembaga donasi digital<br \/>\nBanyak calon donatur masih ragu karena kasus penyelewengan dana yang pernah terjadi, sehingga membangun kepercayaan menjadi prioritas utama.<br \/>\n&#8211; Maraknya penipuan online<br \/>\nDonasi palsu atau kampanye fiktif sering muncul di media sosial, membuat masyarakat semakin berhati-hati dan skeptis terhadap platform baru.<br \/>\n&#8211; Proses verifikasi manual yang memakan waktu<br \/>\nSistem tradisional membutuhkan pengecekan dokumen dan data secara manual, sehingga memperlambat alur donasi dan menurunkan pengalaman pengguna.<br \/>\n&#8211; Keterbatasan data penerima bantuan<br \/>\nTidak semua penerima memiliki dokumen atau akses digital yang memadai, sehingga proses validasi dan distribusi bantuan seringkali terhambat.<br \/>\nUntuk memastikan aplikasi BantuIN berjalan sesuai tujuan, ditetapkan indikator keberhasilan yang dapat diukur secara kuantitatif maupun kualitatif:<br \/>\n&#8211; Jumlah donasi per bulan<br \/>\nMengukur tingkat partisipasi masyarakat dalam berdonasi secara rutin.<br \/>\n&#8211; Jumlah kampanye yang berhasil<br \/>\nMenilai efektivitas platform dalam mendukung berbagai program sosial hingga mencapai targetnya.<br \/>\n&#8211; User retention dan kepuasan pengguna<br \/>\nMelihat seberapa banyak pengguna yang kembali menggunakan aplikasi serta tingkat kepuasan mereka terhadap pengalaman donasi.<br \/>\n&#8211; Kecepatan verifikasi campaign oleh AI<br \/>\nMenjadi indikator penting untuk menilai efisiensi sistem otomatis dalam memastikan kampanye valid dan aman.<br \/>\n&#8211; Jumlah pengguna yang terlibat dalam fitur komunitas &amp; aksi nyata<br \/>\nMengukur dampak sosial aplikasi, bukan hanya dari sisi donasi, tetapi juga partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan sosial.<\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Helpers &amp; Mentors<br \/>\nJelaskan target pengguna Anda:<br \/>\na. Siapa mereka? (demografi, persona). Apa kebutuhan, titik nyeri, dan perilaku mereka?<br \/>\n&#8211; Evan Kurniawan (Donatur) \u2014 Mahasiswa<br \/>\n1.) Suka berdonasi barang seperti pakaian.<br \/>\n2.) Sering ragu karena kurang transparansi perantara sebelumnya.<br \/>\n3.) Ingin bukti nyata bahwa donasinya bermanfaat.<br \/>\nPain: Tidak tahu kemana barang dikirim, tidak ada laporan.<br \/>\nGain: Tenang jika ada laporan lengkap &amp; bukti visual.<br \/>\n&#8211; Marvellino Kovatama (Volunteer) \u2014 Mahasiswa<br \/>\n1.) Terlibat dalam kegiatan charity mengajar.<br \/>\n2.) Sering merasa aplikasi donasi terlalu rumit.<br \/>\n3.) Mau platform yang menyediakan fitur volunteer + reward.<br \/>\nPain: Komunikasi sulit, jadwal volunteer tidak teratur.<br \/>\nGain: Poin kredit, pengalaman berharga, sertifikat volunteer.<br \/>\n&#8211; Aisyah Rahma (Penerima Bantuan) \u2014 Mahasiswi<br \/>\n1.) Terbantu oleh donasi pendidikan.<br \/>\n2.) Takut data pribadi disalahgunakan.<br \/>\n3.) Kesulitan memantau status pengajuan bantuan.<br \/>\nPain: Proses lama, tidak transparan, tidak real-time.<br \/>\nGain: Info status cepat, aman, dan jelas.<br \/>\nb. Bagaimana Anda berempati dengan mereka? (misalnya, wawancara, observasi, survei)<br \/>\nUntuk memahami kebutuhan dan hambatan pengguna, tim menggunakan pendekatan human-centered design dengan berbagai metode empati. Langkah ini penting agar solusi yang dirancang benar-benar relevan dengan pengalaman nyata donatur, volunteer, maupun penerima bantuan.<br \/>\n&#8211; Wawancara mendalam dengan donatur dan volunteer. Dilakukan untuk menggali motivasi, harapan, serta kendala yang mereka alami. Donatur banyak menekankan pentingnya transparansi dan kemudahan proses, sementara volunteer menyoroti kebutuhan akan sistem penghargaan dan laporan dampak nyata.<br \/>\n&#8211; Observasi pengalaman berdonasi. Tim mengamati bagaimana pengguna berinteraksi dengan platform donasi yang ada, mulai dari proses pencarian campaign hingga transaksi. Dari sini ditemukan bahwa banyak pengguna merasa proses verifikasi terlalu rumit dan kurang intuitif.<br \/>\n&#8211; Survei mengenai transparansi dan kepercayaan. Survei dilakukan untuk mengukur tingkat kepercayaan masyarakat terhadap platform donasi digital. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih ragu apakah dana benar-benar sampai ke penerima, sehingga transparansi menjadi faktor kunci.<br \/>\n&#8211; Analisis platform donasi populer seperti Kitabisa. Studi komparatif dilakukan terhadap platform yang sudah dikenal luas. Kitabisa, misalnya, unggul dalam kemudahan akses, tetapi masih menghadapi kritik terkait refund yang rumit dan bias promosi. Analisis ini membantu tim memahami celah yang bisa diisi oleh BantuIN.<\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Challenges &amp; Temptations<br \/>\na. Sajikan fitur, pengalaman, dan harapan yang diinginkan pengguna.<br \/>\nPengguna aplikasi BantuIN memiliki sejumlah harapan yang menjadi dasar perancangan fitur utama. Mereka menginginkan proses donasi yang cepat dan sederhana, cukup dengan sekali klik melalui e-wallet atau QRIS, sehingga tidak ada hambatan teknis dalam berkontribusi. Transparansi juga menjadi kebutuhan mendasar; donatur berharap laporan penggunaan dana dapat ditampilkan secara real-time agar mereka yakin bahwa bantuan benar-benar sampai kepada penerima. Selain itu, bukti visual berupa foto, video, atau cerita dari penerima bantuan dianggap penting untuk memberikan kepuasan emosional sekaligus memperkuat rasa percaya. Pengguna juga berharap adanya ruang komunitas yang memungkinkan mereka berkolaborasi, bergabung dalam kegiatan sosial, dan menjadi volunteer sehingga kepedulian dapat diwujudkan dalam aksi nyata. Dengan banyaknya pilihan campaign, mereka menginginkan rekomendasi yang sesuai minat dan riwayat donasi agar pengalaman terasa lebih personal dan relevan. Terakhir, sistem refund yang adil dan otomatis menjadi syarat penting, karena pengguna ingin merasa aman jika campaign gagal atau dibatalkan tanpa harus melalui proses rumit.<br \/>\nb. Apa kebutuhan yang bersaing, trade-off, atau pilihan sulit yang muncul?<br \/>\nDalam proses perancangan BantuIN, tim menghadapi sejumlah dilema yang harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Salah satu tantangan utama adalah bagaimana menggabungkan fitur yang sederhana dengan fitur yang lengkap. Di satu sisi, aplikasi harus mudah digunakan oleh pengguna awam, namun di sisi lain tetap menyediakan fungsi lanjutan yang dibutuhkan oleh donatur, volunteer, dan lembaga sosial. Selain itu, transparansi menjadi tuntutan penting, tetapi harus diseimbangkan agar tidak membebani lembaga dengan kewajiban laporan yang terlalu kompleks.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penggunaan teknologi AI juga menghadirkan pilihan sulit: sistem harus cukup akurat untuk memverifikasi campaign dan memberikan rekomendasi relevan, namun tetap ramah bagi pengguna pemula yang mungkin belum terbiasa dengan teknologi canggih. Di samping itu, aplikasi dituntut untuk mendukung berbagai metode donasi, baik dalam bentuk uang maupun barang, sehingga fleksibilitas menjadi keharusan. Semua trade-off ini menunjukkan bahwa desain BantuIN tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pada keseimbangan antara kemudahan, kepercayaan, dan keberlanjutan sosial.<br \/>\nc. Ide desain apa yang Anda pertimbangkan tetapi dikesampingkan?<br \/>\nDalam proses perancangan BantuIN, tim sempat mengeksplorasi beberapa ide tambahan yang dianggap menarik, namun akhirnya tidak dilanjutkan karena dinilai kurang relevan atau berisiko mengganggu tujuan utama aplikasi. Salah satunya adalah konsep donasi berbasis livestream, di mana pengguna dapat berdonasi secara langsung saat menonton siaran kampanye. Meskipun terlihat inovatif, ide ini dinilai terlalu kompleks dan membutuhkan biaya operasional yang tinggi, sehingga sulit diterapkan secara berkelanjutan.<br \/>\nTim juga mempertimbangkan sistem bidding donasi, yaitu mekanisme di mana donatur dapat \u201cmenawar\u201d jumlah donasi untuk mendapatkan pengaruh lebih besar terhadap campaign tertentu. Namun, setelah dianalisis, sistem ini kurang sesuai dengan semangat charity karena berpotensi menciptakan kesenjangan antara donatur kecil dan besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, ide gamifikasi berlebihan juga sempat muncul, seperti penggunaan poin, ranking, atau kompetisi antar donatur. Walaupun gamifikasi dapat meningkatkan keterlibatan, tim menyadari bahwa jika diterapkan secara berlebihan, fokus pengguna bisa bergeser dari tujuan sosial menjadi sekadar permainan. Oleh karena itu, ide ini ditinggalkan agar BantuIN tetap menjaga keseimbangan antara interaktivitas dan makna sosial.<\/p>\n<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">The Abyss<br \/>\na. Tunjukkan ide awal Anda dan kemungkinan konsep fitur:<br \/>\nPada tahap awal perancangan, tim menyusun wireframe sederhana yang berfokus pada lima halaman utama: Home, Campaign, Donasi, Volunteer, dan Profil. Alur donasi dirancang sesingkat mungkin, hanya melalui tiga langkah inti, sehingga pengguna dapat berdonasi dengan cepat tanpa kebingungan. Untuk menjaga transparansi, dibuat sebuah dashboard laporan yang minimalis namun tetap jelas dalam menampilkan informasi penggunaan dana. Selain itu, fitur AI Advisor ditempatkan langsung di halaman Home agar mudah diakses sejak awal, sehingga pengguna dapat segera memperoleh rekomendasi campaign sesuai minat dan kebutuhan mereka.<br \/>\nb. Sertakan sketsa, wireframe, atau prototipe awal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">c. Jelaskan pro dan kontra dari konsep awal ini.<br \/>\nKonsep awal BantuIN memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya tampak sederhana dan ramah bagi pengguna baru. Navigasi dirancang sesingkat mungkin sehingga mudah dipahami, bahkan oleh mereka yang belum terbiasa dengan aplikasi donasi digital. Fokus utama diarahkan pada kecepatan transaksi, sehingga proses donasi dapat dilakukan dengan cepat tanpa hambatan teknis. Hal ini menjadikan aplikasi terasa praktis dan efisien bagi donatur yang menginginkan pengalaman instan. Namun, di balik kelebihan tersebut, terdapat beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Fitur komunitas belum terlihat jelas dalam rancangan awal, sehingga potensi kolaborasi sosial antar pengguna masih terbatas. Sistem laporan juga masih sederhana dan belum menampilkan visual detail yang dapat memperkuat transparansi. Selain itu, integrasi AI belum sepenuhnya menyatu dengan alur donasi, sehingga rekomendasi campaign dan verifikasi penerima belum optimal. Kelemahan-kelemahan ini menjadi refleksi penting untuk pengembangan lebih lanjut, agar BantuIN tidak hanya cepat dan mudah digunakan, tetapi juga mampu membangun kepercayaan, transparansi, dan keterlibatan sosial yang lebih mendalam.<\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p style=\"text-align: justify\">Transformasi<br \/>\nSajikan solusi akhir Anda:<br \/>\na. Apa nama produk atau fiturnya?<br \/>\nBantuIN \u2013 Dari Kita, Untuk Indonesia<br \/>\nb. Ringkas konsep dan bagaimana hal itu mengatasi masalah awal.<br \/>\nBantuIN adalah aplikasi donasi digital yang dirancang untuk menjawab empat masalah besar masyarakat:<br \/>\n&#8211; Kebingungan memilih lembaga donasi yang aman dan kredibel.<br \/>\n&#8211; Kurangnya transparansi penggunaan dana.<br \/>\n&#8211; Rendahnya kepedulian sosial karena tidak ada wadah aksi nyata.<br \/>\n&#8211; Ketidakseimbangan proses top-up yang cepat tetapi refund yang rumit.<br \/>\nBantuIN menghadirkan pengalaman donasi modern yang terintegrasi dengan AI, transparan, dan berfokus pada kepercayaan publik. Selain donasi uang, aplikasi ini juga mendukung donasi barang, volunteer, kegiatan sosial, dan interaksi komunitas.<br \/>\nc. Soroti fitur utama dan manfaatnya bagi pengguna dan bisnis. Jika memungkinkan, sertakan umpan balik dari pengujian dan penyempurnaan kegunaan.<br \/>\n1. Transparansi &amp; Kepercayaan yang Ditingkatkan. BantuIN memastikan semua campaign dapat dipercaya melalui fitur:<br \/>\n&#8211; Logo Verifikasi Lembaga Donasi. Semua lembaga diverifikasi melalui proses ketat termasuk AI Beneficiary Verifier dan pengecekan dokumen resmi.<br \/>\n&#8211; Laporan Keuangan Publik (Terbuka). Memberikan update real-time tentang penggunaan dana, sehingga donatur dapat melihat alur uang dari awal hingga diterima.<br \/>\n&#8211; Dashboard Riwayat Dana. Pengguna dapat melacak top-up, donasi, status campaign, dan refund dengan tampilan rapi dan transparan.<br \/>\n&#8211; Review &amp; Testimoni Donatur. Sistem ulasan berbasis komentar, video pendek, dan rating, untuk memperkuat kepercayaan antar pengguna.<br \/>\n2. Fitur AI Cerdas untuk Personalisasi Donasi. BantuIN AI menghadirkan ekosistem donasi berbasis data real-time:<br \/>\n&#8211; AI Donation Advisor. Merekomendasikan campaign berdasarkan minat, lokasi, dan preferensi empati pengguna.<br \/>\n&#8211; AI Budget Match. Menghitung nominal donasi aman berdasarkan pendapatan, pengeluaran, dan tujuan bulanan.<br \/>\n&#8211; AI Urgency Detector. Memberikan notifikasi campaign darurat berdasarkan berita, data NGO, BNPB, dan lembaga resmi.<br \/>\n&#8211; AI Beneficiary Verifier. Menggunakan OCR, Image Recognition, dan analisis visual untuk memverifikasi penerima bantuan.<br \/>\n&#8211; AI Impact Tracker. Menyajikan dashboard visual penggunaan dana yang mudah dipahami dan dapat dibagikan ke media sosial.<br \/>\n3. Proses Donasi Mudah, Cepat, dan Fleksibel<br \/>\n&#8211; Seamless Donation. Donasi instan mulai dari Rp1.000 via: e-wallet, QRIS, transfer bank, saldo aplikasi. Alur donasi dirancang hanya dalam 3 langkah (minimal friction).<br \/>\n&#8211; Goods Donation. Pengguna dapat menyumbangkan barang fisik seperti: pakaian, makanan, perlengkapan sekolah, kebutuhan darurat. Barang dikumpulkan melalui mitra logistik dan titik donasi resmi.<br \/>\n4. Sistem Refund Modern &amp; Adil<br \/>\n&#8211; Escrow System. Dana tidak langsung diterima lembaga, tetapi disimpan di rekening penampungan sampai campaign diverifikasi.<br \/>\n&#8211; Auto Refund. Jika campaign gagal, dibatalkan, atau bermasalah \u2192 dana otomatis kembali tanpa perlu mengajukan tiket.<br \/>\n&#8211; Refund Fleksibel. Pengguna bebas memilih: kembali ke saldo aplikasi, transfer ke rekening\/e-wallet, &amp; dialihkan ke campaign lain<br \/>\n5. Komunitas &amp; Aksi Nyata untuk Meningkatkan Empati Sosial<br \/>\n&#8211; Fitur \u201cAksi Nyata\u201d \u2013 Tantangan Mingguan. Contoh tantangan: Donasi buku, Bersih-bersih lingkungan, Donasi barang bekas, &amp; Tantangan 30 hari kebaikan. Pengguna mendapatkan poin &amp; badge.<br \/>\n&#8211; Nearby Charity. Menampilkan kegiatan sosial dan event donasi yang sedang berlangsung di sekitar lokasi pengguna.<br \/>\n&#8211; Cerita Penerima. Penerima bantuan bisa berbagi kisah melalui: tulisan, foto, &amp; video. Meningkatkan rasa empati dan rasa \u201cimpact\u201d.<br \/>\n6. Interaksi dan Partisipasi Komunitas<br \/>\n&#8211; Community Participation. Fitur untuk: Donasi bareng teman, Patungan donasi, Share ke media social, &amp; Ikut tantangan komunitas<br \/>\n&#8211; Be a Volunteer. Pengguna dapat: mendaftar volunteer, melihat jadwal kegiatan hadir di event social, &amp; mendapatkan pengalaman lapangan<br \/>\n&#8211; Penghargaan Digital: Badge, Sertifikat digital volunteer, &amp; Ucapan terima kasih dari penerima. Meningkatkan motivasi berbagi.<br \/>\n7. Peningkatan User Experience dari Iterasi Desain<br \/>\nSketsa &amp; Konsep Awal<br \/>\nWireframes awal mencakup: halaman Home, halaman Campaign, halaman Donasi, modul Volunteer, &amp; halaman Profil. Hasil pengujian menunjukkan bahwa:<br \/>\n&#8211; Pengguna merasa alur donasi lebih cepat dan mudah dipahami.<br \/>\n&#8211; Donatur sangat terbantu dengan fitur laporan &amp; tracker.<br \/>\n&#8211; Volunteer sangat menyukai fitur badge &amp; sertifikat.<br \/>\n&#8211; Penerima merasa aman karena proses verifikasi jelas dan transparan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-614\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1.png\" alt=\"\" width=\"400\" height=\"566\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1.png 1414w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1-212x300.png 212w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1-724x1024.png 724w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1-768x1086.png 768w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1-1086x1536.png 1086w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1-480x679.png 480w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/2510_ISYS6724052_LA98_Group-Assessment_26_Poster-A3-Project_Group-7_Attempt1_Q1-1-1024x1448.png 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/><\/p>\n<\/li>\n<\/ol>\n<p>==_==<\/p>\n<p>Penulis<\/p>\n<ul>\n<li data-section-id=\"17wc68h\" data-start=\"70\" data-end=\"105\">Christopher J. H. \u2014 2902600555<\/li>\n<li data-section-id=\"e9u867\" data-start=\"106\" data-end=\"139\">Gregorius F. P. \u2014 2902632870<\/li>\n<li data-section-id=\"1j9wc5c\" data-start=\"140\" data-end=\"174\">Michael Sandi R. \u2014 2902587665<\/li>\n<li data-section-id=\"r6aha7\" data-start=\"175\" data-end=\"209\">Monica Agatha L. \u2014 2902612263<\/li>\n<\/ul>\n<p>Lecturer:\u00a0<em>Nico Yonatan Wicaksana, S.Kom., M.Kom.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di tengah berkembangnya platform donasi digital di Indonesia, masih banyak masyarakat yang merasa ragu untuk berdonasi secara online. Tidak sedikit pengguna yang bingung memilih lembaga yang benar-benar terpercaya, khawatir dana tidak tersalurkan dengan baik, hingga merasa proses donasi terlalu rumit dan kurang transparan. Di sisi lain, relawan dan penerima bantuan juga sering mengalami kendala komunikasi, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":614,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5,4],"tags":[],"class_list":["post-613","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-student-projects"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/613","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=613"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/613\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":617,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/613\/revisions\/617"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media\/614"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=613"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=613"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=613"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}