{"id":599,"date":"2026-05-13T11:43:05","date_gmt":"2026-05-13T04:43:05","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/?p=599"},"modified":"2026-05-13T11:43:05","modified_gmt":"2026-05-13T04:43:05","slug":"dampak-jika-segmentation-flow-control-dan-error-control-tidak-ada-di-dalam-transport-layer-terhadap-network-congestion","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/2026\/05\/13\/dampak-jika-segmentation-flow-control-dan-error-control-tidak-ada-di-dalam-transport-layer-terhadap-network-congestion\/","title":{"rendered":"Dampak Jika Segmentation, Flow Control, dan Error Control Tidak Ada di dalam Transport Layer terhadap Network Congestion"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-601\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Network-Congestion-dicegah-1.jpg\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"416\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Network-Congestion-dicegah-1.jpg 624w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Network-Congestion-dicegah-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Network-Congestion-dicegah-1-480x320.jpg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pertama, jika tidak ada mekanisme <em>segmentation<\/em>, file besar harus dikirim sebagai satu blok utuh. Ini bermasalah karena jaringan internet hanya mampu membawa data dalam paket kecil (datagram) dengan ukuran terbatas. Akibatnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>Paket terlalu besar sulit diproses <em>router<\/em>\/<em>buffer<\/em>.<\/li>\n<li>Kalau ada error atau paket hilang, harus kirim ulang seluruh file, bukan bagian kecil.<\/li>\n<li><em>Traffic<\/em> jadi tidak adil karena satu file besar bisa \u201cmenguasai\u201d jalur.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Jadi tanpa <em>segmentation<\/em>, pengiriman file besar jadi tidak efisien, boros <em>bandwidth<\/em>, dan gampang gagal. Kedua, jika mekanisme <em>flow control<\/em> tidak ada, maka pengirim bisa mengirim segment terus menerus tanpa menyesuaikan kemampuan receiver. Padahal receiver punya <em>buffer<\/em> terbatas. Akibatnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><em>Buffer<\/em> receiver cepat penuh,<\/li>\n<li><em>Segment<\/em> baru akan drop (hilang),<\/li>\n<li>Pengirim mengira terjadi <em>packet loss<\/em> lalu <em>retransmit<\/em><\/li>\n<li>Tapi karena tetap tidak dibatasi, terjadilah loop: drop \u2192 retransmit \u2192 drop lagi.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Hasil akhirnya, jaringan makin padat karena banyak data dikirim ulang, sehingga koneksi terasa tersedak dan <em>transfer<\/em> jadi tidak stabil. Ketiga, apabila mekanisme <em>error control<\/em> tidak ada, maka <em>transport layer<\/em> tidak bisa memastikan data sampai dengan benar. Akibatnya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>Data bisa <em>corrupt<\/em> tanpa terdeteksi karena tidak ada <em>checksum<\/em>.<\/li>\n<li><em>Segment<\/em> bisa hilang tanpa diketahui sehingga file jadi bolong.<\/li>\n<li>Urutan data bisa acak karena tidak ada <em>sequence number<\/em> dan ACK,<\/li>\n<li>Data yang hilang tidak bisa dipulihkan karena tidak ada <em>timeout<\/em> + <em>retransmission<\/em>.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Hasil akhirnya, pengiriman data jadi tidak <em>reliable<\/em>: file bisa rusak, aplikasi error, bahkan transaksi penting jadi berisiko. Sehingga, pada intinya, jika <em>segmentation<\/em>, <em>flow control<\/em>, dan <em>error control<\/em> hilang, maka internet akan berubah menjadi sistem komunikasi yang tidak stabil. Data besar sulit lewat karena tidak bisa dibagi. <em>Receiver<\/em> sering <em>overload<\/em> karena pengirim tidak dibatasi. Data yang sampai tidak bisa dipastikan benar, lengkap, atau urut. Pada kondisi seperti ini, aktivitas sederhana seperti mengunduh file akan menjadi aktivitas yang \u201cuntung-untungan\u201d. Kadang berhasil, kadang gagal, dan ketika gagal tidak jelas salahnya di mana. Inilah alasan mengapa <em>transport layer<\/em> sangat penting, walaupun <em>user<\/em> biasa tidak melihatnya secara langsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Simulasi Pengiriman File Besar: Apa yang Terjadi Saat Mekanisme TCP Hilang?<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-602\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/TCP-or-IP.jpg\" alt=\"\" width=\"488\" height=\"393\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/TCP-or-IP.jpg 488w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/TCP-or-IP-300x242.jpg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/TCP-or-IP-480x387.jpg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 488px) 100vw, 488px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sekarang kita buat simulasi pengiriman file besar, sesuai logika yang ada pada materi <em>reliable data transfer<\/em> dan TCP <em>simplified<\/em> <em>sender\/receiver<\/em>. Misalnya kita mengirim file berukuran 100 MB dari komputer A ke komputer B. Kita asumsikan <em>transport layer<\/em> menggunakan segment ukuran 1 MB, sehingga file tersebut dibagi menjadi 100 segment: S1 sampai S100.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Simulasi pertama, ada <em>segmentation<\/em> dan <em>error control<\/em> (kondisi TCP ideal). Pada awal pengiriman, <em>sender<\/em> mengirim S1, S2, S3, dan seterusnya. Receiver menerima segment tersebut, lalu mengirim ACK sebagai tanda bahwa data sudah diterima. Jika semua berjalan lancar, <em>receiver<\/em> akan mengumpulkan semua <em>segmen<\/em> dan menyusunnya menjadi file utuh 100 MB. Hal ini sesuai dengan konsep pada slide: <em>receiver \u201creassembles segments into messages, passes to application layer\u201d. <\/em>Lanjut simulasi kedua, satu <em>segment<\/em> Hilang (contoh error yang realistis). Sekarang misalkan saat pengiriman, <em>segment<\/em> S57 hilang di tengah jaringan. <em>Receiver<\/em> akan menerima: S1 sampai S56, lalu tiba-tiba menerima S58. TCP menggunakan <em>sequence<\/em> <em>number<\/em>, <em>receiver<\/em> sadar bahwa ada gap. Di slide TCP <em>receiver<\/em> ACK <em>generation<\/em>, jika ada <em>out of order segment<\/em> (<em>gap detected<\/em>), <em>receiver<\/em> akan mengirim <em>duplicate<\/em> ACK untuk <em>byte<\/em> yang diharapkan (ACK menunjuk ke data berikutnya yang belum diterima). Artinya <em>receiver<\/em> akan terus meminta data yang hilang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Sender<\/em>, setelah melihat bahwa ACK tidak maju atau menerima duplicate ACK berkali &#8211; kali, akan melakukan retransmission. Jika <em>sender<\/em> menerima 3 <em>duplicate<\/em> ACK, sesuai slide <em>fast retransmit<\/em>, <em>sender<\/em> akan langsung mengirim ulang <em>segmen<\/em> yang hilang tanpa menunggu <em>timeout<\/em>. Setelah S57 berhasil diterima, receiver bisa menyusun ulang file secara utuh. Ini menunjukkan bahwa dengan <em>segmentation<\/em> + <em>error control<\/em>, kehilangan kecil tidak membuat seluruh file gagal. Kemudian pada simulasi ketiga, jika tidak ada <em>segmentation. <\/em>Sekarang bayangkan file 100 MB dikirim sebagai satu pesan besar. Jika ada error pada bagian kecil (misalnya 1MB di tengah file corrupt atau hilang), sistem tidak punya cara untuk memperbaiki sebagian kecil saja. Karena file dianggap satu unit besar, maka satu error menyebabkan file tidak valid.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Artinya sender harus mengirim ulang 100 MB dari awal. Ini sangat tidak efisien, dan membuat transfer file besar menjadi lambat. Lanjut pada simulasi 4, jika tidak ada <em>flow control<\/em>. Sekarang anggap <em>segmentation<\/em> ada (file jadi 100 <em>segmen<\/em>), tapi <em>flow control<\/em> tidak ada. <em>Sender<\/em> mengirim segmen sangat cepat: S1 sampai S100. <em>Receiver<\/em> hanya punya <em>buffer<\/em> yang bisa menampung 20 segmen. Maka setelah <em>buffer<\/em> penuh, <em>segmen<\/em> S21 sampai S100 akan banyak yang terbuang. <em>Receiver<\/em> akhirnya hanya menerima sebagian file, misalnya sampai S20. Sisanya hilang bukan karena jaringan rusak, tetapi karena receiver <em>overload<\/em>. <em>Sender<\/em> akan mengirim ulang segmen yang hilang, tetapi jika <em>sender<\/em> tetap mengirim terlalu cepat, <em>receiver<\/em> tetap akan membuang segmen. Transfer menjadi tidak pernah stabil. Ini menggambarkan kondisi \u201ctersedak\u201d yang cocok dengan judul presentasi. Lalu pada simulasi 5, jika tidak ada <em>error control. <\/em>Sekarang <em>segmentation<\/em> ada, <em>flow control<\/em> ada, tapi <em>error control<\/em> tidak ada. Sender mengirim segmen S1 sampai S100. Misalnya segmen S57 hilang. <em>Receiver<\/em> tidak punya mekanisme <em>sequence number<\/em> atau ACK untuk mendeteksi kehilangan itu. Maka receiver hanya menyusun segmen yang ada. Hasil akhirnya, file yang diterima <em>receiver<\/em> bukan 100MB utuh, tetapi file yang \u201cbolong\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kadang file masih bisa dibuka, tapi isinya <em>corrupt<\/em>. Kadang file gagal total. Yang lebih bahaya adalah <em>user<\/em> bisa merasa file berhasil terkirim, padahal sebenarnya data tidak lengkap.<\/p>\n<p>==_==<\/p>\n<p><strong>Penulis<\/strong>:<\/p>\n<p data-start=\"0\" data-end=\"13\">Class Group-4<\/p>\n<p data-start=\"15\" data-end=\"54\">KEANE AMADEUS KRISTIANTO<br data-start=\"39\" data-end=\"42\" \/>2902745270<\/p>\n<p data-start=\"56\" data-end=\"107\">IGNATIUS MICHAEL ALDRICH VAN MIRACLE<br data-start=\"92\" data-end=\"95\" \/>2902593081<\/p>\n<p data-start=\"109\" data-end=\"169\">FAUSTINE CHRISTABELLE INDY LISTYANTO LESTIONO<br data-start=\"154\" data-end=\"157\" \/>2902681336<\/p>\n<p data-start=\"171\" data-end=\"202\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">LOUIS ALAN PRATAMA<br data-start=\"189\" data-end=\"192\" \/>2902590451<\/p>\n<p><strong>Uploader &amp; Lecturer<\/strong>: Nico Yonatan Wicaksana, S.Kom., M.Kom.<\/p>\n<p>==_==<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pertama, jika tidak ada mekanisme segmentation, file besar harus dikirim sebagai satu blok utuh. Ini bermasalah karena jaringan internet hanya mampu membawa data dalam paket kecil (datagram) dengan ukuran terbatas. Akibatnya: Paket terlalu besar sulit diproses router\/buffer. Kalau ada error atau paket hilang, harus kirim ulang seluruh file, bukan bagian kecil. Traffic jadi tidak adil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":600,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-599","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=599"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/599\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":604,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/599\/revisions\/604"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media\/600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}