{"id":595,"date":"2026-05-13T11:38:50","date_gmt":"2026-05-13T04:38:50","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/?p=595"},"modified":"2026-05-13T11:38:50","modified_gmt":"2026-05-13T04:38:50","slug":"apa-perbedaan-flow-control-dan-error-control","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/2026\/05\/13\/apa-perbedaan-flow-control-dan-error-control\/","title":{"rendered":"Apa perbedaan Flow Control dan Error Control?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Flow control adalah mekanisme dalam <em>Transport Layer<\/em> yang berfungsi untuk mengatur laju pengiriman data dari pengirim (sender) ke penerima (receiver) agar penerima tidak kewalahan menerima data. Sederhananya, flow control memastikan bahwa pengirim tidak mengirim data terlalu cepat, sehingga data yang masuk masih bisa diproses dan disimpan oleh penerima.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-596\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/1.-flow-control.jpg\" alt=\"\" width=\"458\" height=\"287\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/1.-flow-control.jpg 458w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/1.-flow-control-300x188.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 458px) 100vw, 458px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Gambar 1. Flow Control<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada protokol TCP (Transmission Control Protocol), flow control dilakukan menggunakan konsep window atau sering disebut <em>sliding window<\/em>. Penerima akan memberikan informasi kepada pengirim mengenai seberapa banyak data yang masih dapat diterima melalui nilai yang disebut receiver window (rwnd). Nilai ini menunjukkan kapasitas buffer yang masih tersedia pada sisi penerima, sehingga pengirim hanya diperbolehkan mengirim data sebanyak ukuran window tersebut. Jika buffer penerima mulai penuh, ukuran window akan diperkecil agar pengirim mengurangi laju pengiriman data. Sebaliknya, jika buffer penerima kembali longgar, window dapat diperbesar sehingga pengirim bisa mengirim lebih banyak data. Dengan cara ini, TCP dapat menjaga agar pengiriman data tetap lancar tanpa menyebabkan penumpukan data pada penerima.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Flow control sangat penting karena pada kenyataannya kemampuan perangkat berbeda-beda. Ada perangkat yang cepat (misalnya server), ada juga yang lebih lambat (misalnya HP atau laptop lama). Jika server mengirim data terlalu cepat ke perangkat lambat, maka data bisa menumpuk dan akhirnya hilang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Flow control dibutuhkan karena penerima memiliki keterbatasan seperti kapasitas buffer (memori penampung data) terbatas, kecepatan proses CPU penerima tidak selalu sama, aplikasi penerima belum tentu siap menerima data secara terus-menerus.<br \/>\nJika pengirim terus mengirim tanpa kontrol, maka buffer penerima bisa penuh dan menyebabkan data terbuang (<em>packet loss<\/em>), pengiriman ulang (<em>retransmission<\/em>), jaringan menjadi lebih lambat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu contoh nyata adalah pada saat video call, data video dan audio dikirim terus-menerus, Jiika penerima tidak sanggup memproses data yang datang terlalu cepat, kualitas video bisa patah-patah.<br \/>\nWalaupun video call banyak memakai UDP, prinsip flow control tetap ada dalam sistem (biasanya melalui aplikasi atau protokol tambahan) supaya penerima tidak overload.<\/p>\n<p><strong>Apa itu <em>Error Control <\/em>?<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-597\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Error-Flow.png\" alt=\"\" width=\"624\" height=\"416\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Error-Flow.png 624w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Error-Flow-300x200.png 300w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/05\/Error-Flow-480x320.png 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 624px) 100vw, 624px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Gambar 2. Transport Layer Error Flow<\/em><\/p>\n<p>Selanjutnya, dalam sebuah data, diperlukan sebuah sistem yang bertujuan untuk menangani segala error yang ada, terutama jika terdapat adanya suatu kesalahan dalam sistem. Sistem tersebut dinamakan sebagai <em>error control<\/em>. <em>Error Control <\/em>secara sederhananya dapat didefinisikan sebagai suatu teknik untuk mendeteksi dan memperbaiki kerusakan pada saat transmisi <em>frame. <\/em>Pengontrolan kesalahan terhadap error tersebut itu berkaitan dengan berbagai rangkaian proses yang bertujuan untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan yang terjadi pada pentransmisian <em>frame<\/em>. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya sesuai dengan proses data yang ada sebelumnya, data dikirim sebagai deretan <em>frame<\/em>, kemudian <em>frame <\/em>tiba sesuai perintah yang sama saat dikirim, dan masing-masing frame yang ditransmisikan mengalami perubahan dan sejumlah variabel penundaan sebelum mencapai penerima.<\/p>\n<p>Terdapat beberapa error yang biasa ditangani oleh fitur <em>Error Control <\/em>seperti hilangnya sebuah <em>frame <\/em>yang ada, dan terdapat kerusakan pada <em>frame <\/em>yang ada. Sebuah <em>frame <\/em>yang ada dapat dikatakan hilang jika satu <em>frame <\/em>yang ada gagal mencapai sisi satunya yang lain. Untuk contohnya dari kasus tersebut supaya bisa lebih jelas berupa derau yang kuat bisa merusak <em>frame <\/em>yang ada hingga mencapai tingkat dimana <em>receiver <\/em>menyadari bahwa <em>frame <\/em>tersebut sudah ditransmisikan. Sedangkan, <em>frame <\/em>dapat dikatakan mengalami kerusakan apabila sebuah <em>frame <\/em>yang diakui telah tiba, namun beberapa bit yang terdapat didalamnya mengalami kesalahan (sesudah berubah selama transmisi).<\/p>\n<p>Prinsip kerja pada Sistem <em>Error Control <\/em>umumnya bekerja melalui teknik-teknik umum yang membutuhkan beberapa atau seluruh unsur-unsur tersebut sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li>Pendeteksian kesalahan adalah sama dengan bagian yang telah dijelaskan sebelumnya yang dinamakan sebagai <em>Error Detection<\/em>.<\/li>\n<li>Balasan positif adalah tujuan mengembalikan balasan positif untuk <em>frame <\/em>yang bebas dari kesalahan dan diterima dengan baik.<\/li>\n<li>Retransmisi setelah waktu habis adalah sumber melakukan retransmisi <em>frame <\/em>yang belum dibalas setelah beberapa saat tertentu.<\/li>\n<li>Balasan negatif dan retransmisi adalah tujuan mengembalikan balasan negatif kepada <em>frame <\/em>yang dideteksi mengalami kesalahan, sumber melakukan retransmisi terhadap <em>frame <\/em>yang demikian.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Agar bisa lebih jelas lagi, berikut akan dijelaskan mengenai contoh nyata<em> Error Control <\/em>pada <em>Transport Layer<\/em>. Contoh nyata dari <em>Error Control <\/em>yaitu terdapat pada penggunaan protokol TCP (<em>Transmission Control Protocol<\/em>) yang menjamin pengiriman data andal melalui mekanisme <em>checksum <\/em>untuk deteksi kesalahan dan <em>Automatic Repeat Request <\/em>(ARQ) untuk pengiriman ulang paket yang rusak atau hilang, memastikan data utuh diterima.<\/p>\n<p>Berikut contoh-contoh nyata <em>Error Control <\/em>pada <em>Transport Layer<\/em> secara lebih jelas lagi :<\/p>\n<ul>\n<li><em>Checksum<\/em> pada TCP : Saat kita sedang mengirimkan sebuah <em>file <\/em>(misal : kita mengunduh sebuah dokumen yang ada), TCP menghitung nilai <em>checksum<\/em> dan menyertakannya di <em>header <\/em> Di sisi penerima,<em> checksum<\/em> dihitung ulang. Jika berbeda, paket dianggap rusak dan dibuang.<\/li>\n<li>Retransmisi (ARQ &#8211; <em>Automatic Repeat Request<\/em>) : Jika penerima tidak mengirimkan <em>Acknowledgement<\/em> (ACK\/konfirmasi) atas paket tertentu dalam waktu tertentu (<em>timeout<\/em>) atau menerima paket yang korup, pengirim akan mengirim ulang paket data yang sama.<\/li>\n<li><em>Go-Back-N<\/em> ARQ : Jika paket nomor 3 rusak, TCP tidak hanya mengirim ulang paket 3, tetapi juga semua paket setelahnya (4, 5, dst.) yang mungkin sudah dikirim, untuk menjamin urutan data tetap benar.<\/li>\n<li>Pengirim Ulang Selektif (<em>Selective Repeat<\/em>) : Mekanisme yang lebih efisien di mana hanya paket yang benar-benar rusak atau hilang (misalkan : paket nomor 3 saja) yang dikirim ulang, sementara paket 4 dan 5 tidak perlu dikirim ulang.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Proses ini terjadi secara <em>end-to-end<\/em> (ujung ke ujung) untuk memastikan aplikasi pengguna menerima data yang akurat.<\/p>\n<p>==_==<\/p>\n<p><strong>Penulis<\/strong>:<\/p>\n<p data-start=\"0\" data-end=\"13\">Class Group-4<\/p>\n<p data-start=\"15\" data-end=\"54\">KEANE AMADEUS KRISTIANTO<br data-start=\"39\" data-end=\"42\" \/>2902745270<\/p>\n<p data-start=\"56\" data-end=\"107\">IGNATIUS MICHAEL ALDRICH VAN MIRACLE<br data-start=\"92\" data-end=\"95\" \/>2902593081<\/p>\n<p data-start=\"109\" data-end=\"169\">FAUSTINE CHRISTABELLE INDY LISTYANTO LESTIONO<br data-start=\"154\" data-end=\"157\" \/>2902681336<\/p>\n<p data-start=\"171\" data-end=\"202\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">LOUIS ALAN PRATAMA<br data-start=\"189\" data-end=\"192\" \/>2902590451<\/p>\n<p><strong>Uploader &amp; Lecturer<\/strong>: Nico Yonatan Wicaksana, S.Kom., M.Kom.<\/p>\n<p>==_==<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Flow control adalah mekanisme dalam Transport Layer yang berfungsi untuk mengatur laju pengiriman data dari pengirim (sender) ke penerima (receiver) agar penerima tidak kewalahan menerima data. Sederhananya, flow control memastikan bahwa pengirim tidak mengirim data terlalu cepat, sehingga data yang masuk masih bisa diproses dan disimpan oleh penerima. Gambar 1. Flow Control Pada protokol TCP [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":597,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-595","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/595","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=595"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/595\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":598,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/595\/revisions\/598"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media\/597"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=595"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=595"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=595"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}