{"id":532,"date":"2026-03-17T15:26:52","date_gmt":"2026-03-17T08:26:52","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/?p=532"},"modified":"2026-03-17T15:28:10","modified_gmt":"2026-03-17T08:28:10","slug":"delay-loss-dan-bottleneck-mengapa-internet-bisa-lambat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/2026\/03\/17\/delay-loss-dan-bottleneck-mengapa-internet-bisa-lambat\/","title":{"rendered":"\u201cDelay, Loss, dan Bottleneck: Mengapa Internet Bisa Lambat?\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Perkembangan teknologi informasi telah menjadikan internet sebagai infrastruktur utama dalam berbagai aktivitas manusia. Proses pembelajaran, komunikasi, hiburan, hingga layanan publik saat ini sangat bergantung pada ketersediaan jaringan internet yang cepat dan stabil. Meskipun demikian, permasalahan internet yang lambat masih sering terjadi dan dirasakan oleh banyak pengguna internet di berbagai lingkungan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Secara umum, masyarakat cenderung mengaitkan lambatnya internet dengan lemahnya sinyal atau kualitas perangkat yang digunakan. Padahal, dalam sistem jaringan komputer, kecepatan dan kestabilan internet dipengaruhi oleh berbagai mekanisme internal jaringan. Data yang dikirim melalui internet tidak bergerak secara utuh, melainkan data dikirim dalam bentuk paket-paket kecil yang harus melewati berbagai perangkat jaringan seperti <em>router<\/em> dan <em>access point<\/em> sebelum sampai ke tujuan. Pada proses inilah potensi keterlambatan dan gangguan dapat terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Beberapa faktor utama yang mempengaruhi kinerja jaringan internet adalah <em>delay<\/em>, <em>packet loss<\/em>, dan <em>bottleneck<\/em>. <em>Delay<\/em> menunjukkan waktu tunda pengiriman data, <em>packet loss<\/em> menggambarkan hilangnya paket data selama transmisi, sedangkan <em>bottleneck<\/em> merupakan titik jaringan dengan kapasitas terbatas yang menghambat aliran data secara keseluruhan. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain dalam jaringan internet dan menjadi penyebab utama menurunnya kualitas layanan internet, terutama saat trafik jaringan meningkat.<\/p>\n<p><strong>Relevansi dengan Kehidupan Digital Saat Ini<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam kehidupan digital saat ini, kebutuhan akan koneksi internet yang responsif semakin meningkat. Aplikasi seperti <em>video conference<\/em>, pembelajaran <em>online<\/em>, <em>game online<\/em>, dan layanan streaming menuntut jaringan dengan tingkat keterlambatan yang rendah dan pengiriman data yang stabil. Sedikit saja peningkatan <em>delay<\/em> atau <em>packet loss<\/em> dapat berdampak langsung pada pengalaman pengguna, seperti suara terputus, gambar tertunda, atau koneksi terputus secara tiba-tiba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kondisi ini sangat relevan dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat perkotaan, di mana banyak pengguna terhubung dalam satu jaringan secara bersamaan. Pada jam-jam sibuk, seperti saat perkuliahan daring atau penggunaan internet pada malam hari, sering terjadi antrian paket data yang panjang di perangkat jaringan. Akibatnya, <em>bottleneck<\/em> tidak dapat dihindari dan kinerja internet pun menurun meskipun <em>bandwidth<\/em> yang disediakan terlihat besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Oleh karena itu, pemahaman mengenai konsep <em>delay<\/em>, <em>loss<\/em>, dan <em>bottleneck<\/em> menjadi penting, tidak hanya bagi mahasiswa bidang teknologi, tetapi juga bagi masyarakat umum. Dengan memahami bagaimana jaringan internet bekerja, pengguna dapat lebih bijak dalam memanfaatkan internet, sementara pengelola jaringan dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam mengoptimalkan kualitas layanan di era digital yang semakin bergantung pada konektivitas.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-534 aligncenter\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture12.jpg\" alt=\"\" width=\"438\" height=\"285\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture12.jpg 438w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture12-300x195.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 438px) 100vw, 438px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>gambar 1.1 gambar dari feepik<\/em> <a href=\"https:\/\/tinyurl.com\/2vrmja5t\">https:\/\/tinyurl.com\/2vrmja5t<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-535 aligncenter\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture13.png\" alt=\"\" width=\"436\" height=\"289\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture13.png 436w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture13-300x199.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 436px) 100vw, 436px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>gambar 1.2 gambar ilustrasi dari chatgpt<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><strong>Konsep Delay, Packet Loss, dan Bottleneck dalam Jaringan Internet<\/strong><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify\">Internet bekerja sebagai sebuah jaringan besar yang menghubungkan banyak jaringan kecil di berbagai lokasi. Dalam proses pengiriman data, informasi tidak dikirim secara utuh, melainkan dipecah menjadi paket-paket data yang dikirimkan melalui berbagai perangkat jaringan seperti router. Selama perjalanan tersebut, paket data dapat mengalami keterlambatan (<em>delay<\/em>), kehilangan (<em>packet loss<\/em>), maupun hambatan akibat keterbatasan kapasitas jaringan (<em>bottleneck<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Delay<\/em> merupakan waktu yang dibutuhkan paket data untuk berpindah dari pengirim ke penerima. <em>Delay<\/em> dalam jaringan terdiri dari beberapa jenis, yaitu <em>transmission delay<\/em>, <em>propagation delay<\/em>, dan <em>queueing delay<\/em>. <em>Transmission delay<\/em> berkaitan dengan waktu yang diperlukan untuk mengirim data ke media transmisi, <em>propagation delay<\/em> dipengaruhi oleh jarak tempuh sinyal, sedangkan <em>queueing delay<\/em> terjadi ketika paket data harus menunggu giliran di antrian <em>router<\/em> akibat lalu lintas jaringan yang padat. Dari ketiga jenis tersebut, <em>queueing delay<\/em> sering menjadi penyebab utama internet terasa lambat karena sifatnya yang tidak stabil dan sangat bergantung pada kondisi trafik jaringan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain <em>delay<\/em>, masalah lain yang sering terjadi adalah <em>packet loss<\/em>, yaitu kondisi ketika paket data gagal mencapai tujuan karena dibuang oleh jaringan. Hal ini biasanya terjadi saat antrian di <em>router<\/em> sudah penuh dan tidak mampu menampung paket tambahan. Kehilangan paket data menyebabkan sistem harus mengirim ulang data yang sama, sehingga menambah beban jaringan dan memperpanjang waktu komunikasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara itu, <em>bottleneck<\/em> merupakan titik dalam jaringan yang memiliki kapasitas paling kecil dibandingkan bagian jaringan lainnya. Ketika aliran data melewati titik <em>bottleneck<\/em>, kecepatan jaringan secara keseluruhan akan menurun, meskipun bagian jaringan lain sebenarnya masih memiliki kapasitas yang cukup besar. <em>Bottleneck<\/em> sering terjadi pada <em>access point<\/em>, <em>router<\/em>, atau jalur koneksi yang digunakan oleh banyak pengguna secara bersamaan.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><strong>Ilustrasi dan Contoh Kasus Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari<\/strong><\/h3>\n<h3 style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-533 aligncenter\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture11.png\" alt=\"\" width=\"388\" height=\"222\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture11.png 388w, https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/6\/2026\/03\/Picture11-300x172.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 388px) 100vw, 388px\" \/><\/h3>\n<p style=\"text-align: center\"><em>gambar 2.2 gambar Guru SD di Magelang, Hendricus Suroto mendatangi siswanya yang kesulitan sinyal untuk belajar online, Senin (20\/7\/2020). (Foto: Eko Susanto\/detikcom)<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam praktik pembelajaran daring di masa pandemi, kendala jaringan internet tidak hanya menjadi masalah teknis semata, tetapi juga berdampak nyata pada proses belajar siswa. Sebagai contoh, seorang guru Sekolah Dasar di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Hendricus Suroto, terpaksa mendatangi langsung rumah siswanya yang tinggal di wilayah perbukitan Menoreh karena sinyal internet yang sangat minim dan perangkat yang kurang mendukung untuk belajar online .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Wilayah tempat tinggal siswa tersebut berada di daerah berbukit dengan kualitas sinyal yang buruk, sehingga proses pembelajaran secara daring melalui aplikasi atau pesan teks sering mengalami gangguan. Akibatnya, siswa kesulitan mengikuti kegiatan kelas online, sehingga pemahaman terhadap materi pembelajaran menjadi kurang optimal. Menghadapi situasi ini, Suroto mengambil inisiatif untuk menemui siswa secara langsung secara berkala dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, sehingga pembelajaran tetap berlangsung meskipun tidak dilakukan secara online penuh .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ibu dari salah satu siswa bahkan menyatakan bahwa masalah sinyal menjadi hambatan utama dalam belajar dari rumah, dan kehadiran guru secara langsung sangat membantu siswa untuk memahami materi pelajaran yang sebelumnya sulit diakses secara online karena jaringan yang terputus-putus .<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kasus ini menggambarkan bagaimana kualitas jaringan internet yang buruk terutama yang berkaitan dengan propagasi sinyal dan keterbatasan akses dapat menghambat proses pembelajaran daring di lapangan, khususnya di daerah pedesaan dengan geografi sulit. Fenomena seperti ini memberikan konteks nyata mengapa persoalan <em>delay<\/em>, <em>loss<\/em>, dan <em>bottleneck<\/em> dalam jaringan tidak hanya berdampak pada kecepatan teknis, tetapi juga pada pengalaman belajar dan akses pendidikan secara luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Penutup <\/strong><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><strong>Ringkasan Poin Penting<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Internet yang lambat merupakan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan digital saat ini, khususnya dalam aktivitas pembelajaran daring. Melalui pembahasan pada artikel ini, dapat dipahami bahwa lambatnya koneksi internet tidak hanya disebabkan oleh lemahnya sinyal atau perangkat pengguna, tetapi juga oleh mekanisme kerja jaringan itu sendiri. Faktor-faktor seperti <em>delay<\/em>, <em>packet loss<\/em>, dan <em>bottleneck<\/em> memiliki peran penting dalam menentukan kualitas layanan internet.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Delay<\/em> terjadi akibat waktu tunda pengiriman data, <em>packet loss<\/em> muncul ketika data gagal mencapai tujuan, sementara <em>bottleneck<\/em> merupakan titik jaringan dengan kapasitas terbatas yang menghambat aliran data secara keseluruhan. Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dan sering muncul ketika jaringan digunakan secara bersamaan oleh banyak pengguna, terutama pada jam sibuk.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li><strong>Insight atau Pesan Akhir<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">Kasus nyata pembelajaran daring di daerah dengan keterbatasan jaringan menunjukkan bahwa permasalahan jaringan bukan sekadar isu teknis, tetapi juga berdampak langsung pada akses pendidikan dan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, pemahaman dasar mengenai cara kerja jaringan internet menjadi penting, tidak hanya bagi mahasiswa di bidang teknologi, tetapi juga bagi masyarakat umum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dengan memahami konsep <em>delay<\/em>, <em>loss<\/em>, dan <em>bottleneck<\/em>, pengguna diharapkan dapat lebih bijak dalam memanfaatkan internet, sementara pengelola jaringan dan penyedia layanan dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam meningkatkan kualitas layanan. Pada akhirnya, literasi jaringan menjadi salah satu kunci untuk mendukung keberhasilan transformasi <em>digital<\/em> yang inklusif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">==_==<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Penulis<\/strong>:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Isach Nugroho &#8211; 2902604431<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Michelle Iskandar &#8211; 2902593163<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ryuichi Nakata Setiawan &#8211; 2902590464<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Yedija Amaris Utama &#8211; 2902590836<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Uploader &amp; Lecturer<\/strong>: Nico Yonatan Wicaksana, S.Kom., M.Kom.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li>Kurose, J. F., &amp; Ross, K. W. (2021). <em>Computer Networking: A Top-Down Approach<\/em> (8th ed.). Pearson Education.<\/li>\n<li>Istiqlalia, I. I., Fahriani, N., &amp; Tantri, A. H. (2023). Analisis kualitas layanan internet WLAN pada salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ISP dengan menghitung delay, throughput, dan packet loss untuk mengidentifikasi penyebab hambatan internet berdasarkan QoS. <em>Prosiding Seminar Nasional Teknologi Informasi &amp; Ilmu Komputer (SEMASTER)<\/em>, 2(1), 191\u2013199.<\/li>\n<li>Suhada, J., dkk. (2019). Analisis kinerja jaringan internet menggunakan parameter Quality of Service (QoS). <em>Jurnal Teknologi Informasi<\/em>, 11(2), 155\u2013163.<\/li>\n<li>Mandala, S., Iskandar, M. N., &amp; Nugroho, M. A. (2017). Active Queue Management (AQM) performance analysis based on Controlled Delay (CoDel) algorithm on User Datagram Protocol (UDP). <em>Indonesian Journal on Computing<\/em>, 2(1), 119\u2013130.<\/li>\n<li>com. (2020). <em>Kisah guru datangi siswa di perbukitan yang susah sinyal belajar online<\/em>. Diakses dari <a href=\"https:\/\/news.detik.com\/berita-jawa-tengah\/d-5100989\/kisah-guru-datangi-siswa-di-perbukitan-yang-susah-sinyal-belajar-online?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/news.detik.com\/berita-jawa-tengah\/d-5100989\/kisah-guru-datangi-siswa-di-perbukitan-yang-susah-sinyal-belajar-online<\/a><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perkembangan teknologi informasi telah menjadikan internet sebagai infrastruktur utama dalam berbagai aktivitas manusia. Proses pembelajaran, komunikasi, hiburan, hingga layanan publik saat ini sangat bergantung pada ketersediaan jaringan internet yang cepat dan stabil. Meskipun demikian, permasalahan internet yang lambat masih sering terjadi dan dirasakan oleh banyak pengguna internet di berbagai lingkungan masyarakat. Secara umum, masyarakat cenderung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":11,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-532","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=532"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/532\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":538,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/532\/revisions\/538"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/semarang\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}