{"id":1052,"date":"2026-03-04T04:42:08","date_gmt":"2026-03-04T04:42:08","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/?p=1052"},"modified":"2026-03-30T10:40:03","modified_gmt":"2026-03-30T10:40:03","slug":"bahasa-indonesia-dan-alasan-kenapa-kita-perlu-menjaganya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/2026\/03\/04\/bahasa-indonesia-dan-alasan-kenapa-kita-perlu-menjaganya\/","title":{"rendered":"Bahasa Indonesia dan Alasan Kenapa Kita Perlu Menjaganya"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1053\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Bahasa-Indonesia-dan-Alasan-Kenapa-Kita-Perlu-Menjaganya.jpg\" alt=\"Bahasa Indonesia dan Alasan Kenapa Kita Perlu Menjaganya\" width=\"1360\" height=\"907\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Bahasa-Indonesia-dan-Alasan-Kenapa-Kita-Perlu-Menjaganya.jpg 1360w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Bahasa-Indonesia-dan-Alasan-Kenapa-Kita-Perlu-Menjaganya-300x200.jpg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Bahasa-Indonesia-dan-Alasan-Kenapa-Kita-Perlu-Menjaganya-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Bahasa-Indonesia-dan-Alasan-Kenapa-Kita-Perlu-Menjaganya-768x512.jpg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/Bahasa-Indonesia-dan-Alasan-Kenapa-Kita-Perlu-Menjaganya-480x320.jpg 480w\" sizes=\"auto, (max-width: 1360px) 100vw, 1360px\" \/><\/p>\n<p>Bahasa Indonesia sering kita pakai setiap hari, baik itu di kelas, di chat, di media sosial, bahkan di forum akademik. Namun, sudahkah kita benar-benar menyadari betapa unik dan strategisnya bahasa ini?<\/p>\n<p>Sejak diikrarkan sebagai bahasa persatuan dalam momen bersejarah Sumpah Pemuda dan kemudian ditegaskan sebagai bahasa resmi negara dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah identitas nasional, perekat keberagaman, sekaligus kekuatan kultural yang menyatukan bangsa.<\/p>\n<p>Mari kita telaah lebih jauh mengapa bahasa ini begitu istimewa dan powerful.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Bahasa Pemersatu 700+ Bahasa Daerah<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Indonesia punya lebih dari 700 bahasa daerah. Bayangkan kalau tidak ada satu bahasa pemersatu. Bahasa Indonesia menjadi \u201cjembatan\u201d dari Sabang sampai Merauke. Uniknya, bahasa ini bukan bahasa mayoritas suku terbesar, melainkan berkembang dari bahasa Melayu yang kemudian disepakati sebagai bahasa nasional.<\/p>\n<p>Artinya? Bahasa Indonesia lahir dari konsensus, bukan dominasi. Sejak awal, ia telah membawa nilai demokratis : menyatukan tanpa memaksa, merangkul tanpa meniadakan.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Strukturnya Simpel, Tapi Fleksibel<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kesederhanaan adalah salah satu kekuatan Bahasa Indonesia. Bahasa ini tidak mengenal perubahan kata kerja berdasarkan waktu seperti bahasa Inggris, dan tidak mengalami perubahan bentuk kata berdasarkan subjek seperti dalam bahasa Arab atau Prancis.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li>Saya makan kemarin.<\/li>\n<li>Saya makan sekarang.<\/li>\n<li>Saya makan besok.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kata \u201cmakan\u201d-nya tetap sama.<\/p>\n<p>Karena fleksibilitas inilah, Bahasa Indonesia relatif mudah dipelajari oleh penutur asing. Tak heran jika bahasa ini kini diajarkan di berbagai negara melalui program BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing).<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Kaya Serapan, Tapi Tetap Berkarakter<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Bahasa Indonesia menyerap banyak kosakata dari berbagai bahasa:<\/p>\n<ul>\n<li>Sanskerta<\/li>\n<li>Arab<\/li>\n<li>Belanda<\/li>\n<li>Portugis<\/li>\n<li>Inggris<\/li>\n<\/ul>\n<p>Namun, serapan ini tidak menghilangkan identitasnya. Justru memperkaya.<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<ul>\n<li>\u201cKualitas\u201d (Belanda)<\/li>\n<li>\u201cKabar\u201d (Arab)<\/li>\n<li>\u201cMeja\u201d (Portugis)<\/li>\n<li>\u201cAktivitas\u201d (Inggris)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Bahasa Indonesia adaptif, terbuka terhadap pengaruh luar, tetapi tetap memiliki ciri khas yang kuat. Ia tumbuh bersama zaman tanpa kehilangan jati dirinya.<\/p>\n<p>Fakta tentang Bahasa Indonesia yang wajib kita ketahui:<\/p>\n<p><strong>\u201c<em>Pada tanggal 20 November 2023, Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai salah satu bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO.<\/em><\/strong><em> Ini bukan sekadar simbolik; ini pengakuan global atas eksistensi dan peran strategis Bahasa Indonesia di kancah internasional<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Namun, di balik kebanggaan itu, ada tantangan besar yang menanti. Di era digital, bahasa Indonesia menghadapi beberapa tantangan:<\/p>\n<ul>\n<li>Campur aduk berlebihan dengan bahasa asing hingga makna aslinya kabur.<\/li>\n<li>Menurunnya minat membaca karya sastra yang sejatinya memperkaya rasa dan diksi.<\/li>\n<li>Kurangnya kebanggaan terhadap bahasa sendiri.<\/li>\n<li>Bahasa digital yang makin ringkas, tetapi sering kali makin miskin makna dan kedalaman.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Bahasa adalah cermin cara berpikir. Jika bahasanya dangkal, perlahan cara berpikir pun bisa ikut menyempit. Karena itu, pertanyaannya: Kalau bukan generasi muda yang menjaga, merawat, dan membanggakan Bahasa Indonesia, siapa lagi?<\/p>\n<p>Pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan semangat, tetapi dengan sikap dan langkah yang konkret. Menjaga bahasa bukan hanya soal niat, melainkan tentang kebiasaan yang kita bangun setiap hari. Agar lebih mudah diingat dan dipraktikkan, berikut satu rumus sederhana yang bisa menjadi pegangan bersama, yaitu rumus : <strong>B.A.H.A.S.A.<\/strong><\/p>\n<p><strong>B :<\/strong> Bangga menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.<\/p>\n<p><strong>A :<\/strong> Aktif membaca dan menulis. Karena kemampuan berbahasa yang kuat lahir dari kebiasaan literasi yang konsisten.<\/p>\n<p><strong>H :<\/strong> Hormati bahasa daerah sebagai akar budaya. Bahasa Indonesia mempersatukan, tetapi bahasa daerah adalah fondasi identitas lokal kita.<\/p>\n<p><strong>A : <\/strong>Adaptif terhadap perkembangan zaman. Ikuti perubahan, manfaatkan teknologi, tetapi tetap jaga makna dan etika.<\/p>\n<p><strong>S :<\/strong> Santun dalam komunikasi digital.<\/p>\n<p><strong>A :<\/strong> Angkat Bahasa Indonesia ke level global. Gunakan dengan percaya diri di forum internasional, karya ilmiah, hingga konten kreatif yang mendunia.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah cara kita berpikir, bersikap, dan membangun masa depan. Bahasa Indonesia bukan bahasa \u201cbiasa\u201d. Ia lahir dari perjuangan, tumbuh dari keberagaman, dan terus hidup dalam kreativitas generasi muda.<\/p>\n<p>Menjaganya bukan hanya soal tata bahasa.<\/p>\n<p>Menjaganya berarti menjaga jati diri bangsa.<\/p>\n<h1>References<\/h1>\n<p>Humas. (2023, November). <em>Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Resmi Konferensi Umum UNESCO<\/em>. Sekertariat Kabinet Republik Indonesia: https:\/\/setkab.go.id\/bahasa-indonesia-jadi-bahasa-resmi-konferensi-umum-unesco\/<\/p>\n<p>Lestari, M. P. (2023). <em>Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Studi di Perguruan Tinggi .<\/em> Malang: LITNUS.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Indonesia sering kita pakai setiap hari, baik itu di kelas, di chat, di media sosial, bahkan di forum akademik. Namun, sudahkah kita benar-benar menyadari betapa unik dan strategisnya bahasa ini? Sejak diikrarkan sebagai bahasa persatuan dalam momen bersejarah Sumpah Pemuda dan kemudian ditegaskan sebagai bahasa resmi negara dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Bahasa Indonesia bukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":1053,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,20,3],"tags":[],"class_list":["post-1052","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-character-building","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1052","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1052"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1052\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1054,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1052\/revisions\/1054"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1053"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1052"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1052"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1052"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}