{"id":73641,"date":"2026-07-29T10:32:30","date_gmt":"2026-07-29T10:32:30","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/?p=73641"},"modified":"2026-08-04T08:32:38","modified_gmt":"2026-08-04T08:32:38","slug":"menenun-masa-depan-digitalisasi-ulos-papande-warisan-budaya-yang-menembus-batas-ruang-dan-waktu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/2026\/07\/29\/menenun-masa-depan-digitalisasi-ulos-papande-warisan-budaya-yang-menembus-batas-ruang-dan-waktu\/","title":{"rendered":"Menenun Masa Depan: Digitalisasi Ulos Papande, Warisan Budaya yang Menembus Batas Ruang dan Waktu"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Jhose Simbolon<br \/>\nMahasiswa Information Systems Binus Medan, Peserta Community Development BINUS University di Pulau Sibandang<\/p>\n<h1>Pendahuluan<\/h1>\n<p>Pulau Sibandang di tengah Danau Toba menyimpan banyak keindahan dan cerita. Namun, di balik hamparan alamnya yang memukau, ada denyut nadi budaya yang selama bertahun-tahun dijaga dengan penuh ketekunan oleh para pengrajin ulos. Salah satunya adalah di Desa Papande, sebuah desa yang dikenal sebagai sentra kerajinan ulos. Desa ini menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa, yang diwariskan secara turun-temurun.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-73645\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.17.41-300x300.jpeg\" alt=\"Foto Bersama di Gerbang Desa Wisata Ulos Papande\" width=\"1005\" height=\"1005\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.17.41-300x300.jpeg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.17.41-1024x1024.jpeg 1024w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.17.41-150x150.jpeg 150w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.17.41-768x768.jpeg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.17.41.jpeg 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 1005px) 100vw, 1005px\" \/><\/p>\n<p>Ketika saya dan tim Community Development BINUS University berkunjung ke Desa Papande, kami disambut oleh sosok inspiratif, Ibu Boru Siregar. Beliau adalah ketua kelompok penenun di desa tersebut. Lebih dari sekadar pemimpin, beliau adalah benteng terakhir yang menjaga agar tradisi menenun tidak punah ditelan zaman. Karya-karya tangannya, serta para penenun lainnya, adalah mahakarya yang sarat akan filosofi dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Batak.<\/p>\n<p>Namun, ada satu pertanyaan besar yang mengemuka di benak kami: Bagaimana agar keindahan dan nilai luhur ulos Papande ini tidak hanya dikenal di Pulau Sibandang, tetapi juga oleh dunia?<\/p>\n<p>Di sinilah peran digitalisasi menjadi sangat krusial. Saya mendapat kepercayaan untuk mengemban tugas pengembangan digitalisasi untuk hasil karya tenun ulos Ibu Boru Siregar dan para penenun lainnya, yang rencananya akan dipajang di sebuah Museum Galeri Ulos yang tidak jauh dari kediaman beliau.<\/p>\n<h1>Tantangan di Balik Keindahan Ulos<\/h1>\n<p>Selama perbincangan dengan Ibu Boru Siregar, kami mendengar langsung cerita di balik setiap helai benang yang menjadi selembar kain ulos. Proses pembuatan ulos bukanlah pekerjaan mudah; dibutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, untuk menyelesaikan sehelai ulos dengan kualitas terbaik. Motif-motifnya yang rumit bukan sekadar hiasan, melainkan simbol status sosial, doa, dan ikatan batin dalam adat Batak.<\/p>\n<p>Sayangnya, keindahan dan nilai ini terkendala oleh satu hal besar: pemasaran. Seperti yang diutarakan Ibu Boru Siregar, selama ini penjualan ulos masih mengandalkan wisatawan yang datang langsung ke Pulau Sibandang. &#8220;Kami hanya bisa berjualan jika ada tamu yang datang. Jika sepi pengunjung, ulos-ulos ini hanya akan diam di rak,&#8221; ujarnya dengan mata yang menunjukkan harapan agar ada jalan keluar.<\/p>\n<p>Keterbatasan akses internet dan pemahaman teknologi menjadi dinding pembatas antara karya luar biasa ini dengan pasar yang lebih luas. Di sinilah tantangan utama kami sebagai generasi muda yang bergerak di bidang teknologi.<\/p>\n<h1>Menjembatani Tradisi dan Teknologi: Visi Digitalisasi<\/h1>\n<p>Tugas saya bukan hanya membuat katalog digital biasa. Visi utamanya adalah menciptakan ekosistem digital yang berkelanjutan untuk para pengrajin ulos di Desa Papande. Ketika Museum Galeri Ulos nanti berdiri dan memajang karya-karya Ibu Boru Siregar, pengunjung tidak hanya akan melihat fisik kainnya, tetapi juga dapat mengakses &#8220;cerita di balik kain&#8221; melalui berbagai platform digital.<\/p>\n<p>Berikut adalah beberapa inisiatif digitalisasi yang kami rancang:<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>1. Katalog Digital Interaktif dengan Teknologi QR Code<\/h2>\n<p>Setiap ulos yang dipajang di museum akan dilengkapi dengan sebuah QR Code. Ketika pengunjung memindai kode tersebut menggunakan ponsel mereka, mereka akan diarahkan ke sebuah laman web yang berisi:<\/p>\n<p>Cerita dan Filosofi: Penjelasan mendetail tentang motif ulos, warna yang digunakan, serta makna budayanya. Misalnya, ulos jenis apa yang digunakan untuk upacara pernikahan, kelahiran, atau duka cita.<\/p>\n<p>Profil Penenun: Sebuah ruang khusus untuk mengenal Ibu Boru Siregar dan para pengrajin lainnya. Ini adalah bentuk apresiasi dan &#8220;personal branding&#8221; yang akan membuat pembeli merasa lebih terhubung dengan si pembuat.<\/p>\n<p>Galeri Foto dan Video 360 Derajat: Menampilkan keindahan ulos dari berbagai sudut, sehingga detail benang dan tenunan terlihat jelas. Video singkat proses menenun juga akan ditambahkan untuk memberikan pengalaman imersif kepada pengunjung.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>2. Platform Pemasaran Digital (Marketplace dan Media Sosial)<\/h2>\n<p>Katalog digital ini akan terintegrasi dengan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta marketplace seperti Shopee atau Tokopedia. Tujuannya adalah agar pengunjung museum yang terpikat oleh keindahan ulos dapat langsung memesannya secara online, bahkan jika mereka sudah berada di rumah. Kami akan membantu membuat konten visual yang menarik, seperti video behind the scene proses pembuatan ulos, untuk menarik perhatian generasi muda.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h2>3. Pelatihan Literasi Digital untuk Pengrajin<\/h2>\n<p>Digitalisasi bukan hanya tentang membuat sistem, tetapi juga tentang memberdayakan manusianya. Kami berencana untuk mengadakan pelatihan kecil bagi Ibu Boru Siregar dan kelompok penenun lainnya. Pelatihan ini mencakup cara mengoperasikan ponsel untuk mengambil foto produk yang baik, mengunggah foto ke media sosial, dan berkomunikasi sederhana dengan calon pembeli online. Tujuannya agar mereka tidak sepenuhnya bergantung pada pihak lain, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjalankan usaha mereka sendiri di dunia digital.<\/p>\n<p>Harapan: Melestarikan Budaya, Mensejahterakan Masyarakat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Program digitalisasi ini kami rancang bukan untuk mengubah esensi ulos. Justru sebaliknya, digitalisasi adalah perisai untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya ini dari kepunahan. Dengan menjangkau pasar yang lebih luas, nilai ekonomi ulos akan meningkat, yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan bagi para pengrajinnya, terutama Ibu Boru Siregar dan kelompok penenun di Desa Papande.<\/p>\n<p>Kami berharap, museum galeri ulos yang akan datang bukan hanya menjadi tempat penyimpanan barang antik, tetapi menjadi pusat kebudayaan dan ekonomi kreatif berbasis digital. Di sana, masa lalu dan masa depan bertemu, tradisi dan teknologi berpadu, menciptakan harmoni yang indah\u2014sama indahnya dengan tenunan ulos Papande itu sendiri.<\/p>\n<h1>Epilog<\/h1>\n<p>Pulang dari Pulau Sibandang, saya tidak hanya membawa foto dan kenangan. Saya membawa sebuah keyakinan baru: bahwa teknologi adalah alat yang paling ampuh untuk menjaga agar cerita-cerita leluhur tidak hilang ditelan zaman. Dengan digitalisasi, suara Ibu Boru Siregar dan para penenun lainnya dapat menggema lebih luas, menembus batas geografis, dan mengajak kita semua untuk ikut menjaga dan menghargai kekayaan budaya Indonesia.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-73644\" src=\"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.18.25-300x225.jpeg\" alt=\"Foto Bersama Pengrajin Ulos\" width=\"788\" height=\"592\" srcset=\"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.18.25-300x225.jpeg 300w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.18.25-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.18.25-768x576.jpeg 768w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.18.25-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-07-29-at-17.18.25-2048x1536.jpeg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 788px) 100vw, 788px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Jhose Simbolon Mahasiswa Information Systems Binus Medan, Peserta Community Development BINUS University di Pulau Sibandang Pendahuluan Pulau Sibandang di tengah Danau Toba menyimpan banyak keindahan dan cerita. Namun, di balik hamparan alamnya yang memukau, ada denyut nadi budaya yang selama bertahun-tahun dijaga dengan penuh ketekunan oleh para pengrajin ulos. Salah satunya adalah di Desa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":73643,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,7],"tags":[18,39,37,36,19,38],"class_list":["post-73641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-student-experience","tag-binusmedan","tag-community-development","tag-community-empowerment","tag-community-service","tag-informationsystems","tag-pkm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=73641"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73641\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73648,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/73641\/revisions\/73648"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media\/73643"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=73641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=73641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/medan\/information-systems\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=73641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}