Oleh: Guntur Aldiemas Hasian
Mahasiswa Information Systems Binus Medan, Peserta Community Development BINUS University di Pulau Sibandang
Perjalanan menuju Bukit Nattisuk menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama saya mengikuti kegiatan Community Development BINUS University di Pulau Sibandang, Kabupaten Tapanuli Utara. Sebelum mengikuti kegiatan ini, saya hanya mengetahui bahwa Bukit Nattisuk merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di pulau tersebut. Namun, setelah mengunjunginya secara langsung, saya menyadari bahwa tempat ini bukan hanya menawarkan panorama alam yang memukau, tetapi juga menyimpan cerita tentang budaya, kebersamaan, dan semangat masyarakat dalam mengembangkan potensi daerahnya.
Sebelum memulai pendakian, masyarakat Desa Sibandang menyambut rombongan BINUS University dengan prosesi pemberian kain ulos. Bagi masyarakat Batak, ulos bukan sekadar kain tradisional, melainkan simbol penghormatan, persaudaraan, dan doa. Sambutan tersebut memberikan kesan mendalam bagi saya. Sejak awal kegiatan, saya merasakan kehangatan masyarakat yang menerima kami dengan tangan terbuka, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai mitra yang hadir untuk belajar dan berkolaborasi.
Setelah prosesi penyambutan selesai, kami memulai perjalanan menuju puncak Bukit Nattisuk. Jalur pendakian yang harus ditempuh memiliki panjang sekitar delapan kilometer dengan medan yang didominasi tanjakan. Meskipun cukup menguras tenaga, jalur tersebut masih dapat dilalui dengan berjalan kaki. Beberapa kali saya berhenti sejenak untuk mengatur napas, tetapi rasa lelah tersebut selalu terbayar oleh pemandangan yang tersaji di sepanjang perjalanan.
Sepanjang pendakian, saya melihat berbagai komoditas yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pulau Sibandang. Hamparan tanaman kopi, kebun teh, pohon mangga, dan beragam jenis bunga tumbuh subur di lereng bukit. Pemandangan tersebut memperlihatkan bahwa Pulau Sibandang tidak hanya memiliki potensi wisata alam, tetapi juga kekayaan sumber daya pertanian yang menjadi penopang kehidupan masyarakat setempat.
Semakin tinggi kami mendaki, bentang alam yang terlihat semakin luas. Dari sela-sela pepohonan, Danau Toba perlahan mulai tampak dengan hamparan airnya yang tenang, dikelilingi oleh perbukitan hijau. Pada beberapa titik, saya memilih berhenti sejenak bukan semata-mata karena kelelahan, melainkan karena ingin menikmati pemandangan yang menurut saya sangat sulit dijelaskan melalui kata-kata. Keindahan alam yang tersaji memberikan rasa kagum sekaligus mengingatkan saya akan besarnya anugerah yang dimiliki Indonesia.
Sesampainya di puncak Bukit Nattisuk, saya sejenak terdiam menyaksikan panorama yang terbentang di hadapan saya. Dari titik tersebut, Pulau Sibandang terlihat utuh di tengah Danau Toba dengan latar perbukitan yang mengelilinginya. Lanskap tersebut tampak seperti sebuah lukisan alam yang tersusun dengan begitu sempurna. Saya mencoba mengabadikan pemandangan itu melalui kamera telepon genggam, tetapi hasilnya tidak mampu menggambarkan keindahan yang saya saksikan secara langsung.
Selain menikmati panorama alam, kami juga melaksanakan berbagai kegiatan bersama masyarakat setempat dan perwakilan Kementerian Pariwisata. Kami mendokumentasikan keindahan Bukit Nattisuk melalui foto dan video sebagai bagian dari upaya memperkenalkan potensi wisata Pulau Sibandang kepada masyarakat yang lebih luas.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi saya adalah ketika seluruh peserta membentuk sebuah lingkaran dan bernyanyi bersama. Mahasiswa BINUS University, masyarakat Desa Sibandang, serta para tamu membawakan lagu Bagimu Negeri dan beberapa lagu lainnya dengan penuh semangat. Pada saat itu saya merasakan bahwa tidak ada lagi batas antara mahasiswa, masyarakat, maupun pemerintah. Seluruh peserta hadir dengan tujuan yang sama, yaitu memperkenalkan sekaligus menjaga potensi wisata dan budaya yang dimiliki Pulau Sibandang.
Kebersamaan tersebut kemudian dilanjutkan dengan mencicipi mangga udang, salah satu buah khas Pulau Sibandang. Saya merasa tertarik ketika mengetahui bahwa buah tersebut dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu dikupas. Rasanya yang manis dan segar menjadi pengalaman baru yang semakin melengkapi perjalanan saya di pulau ini.
Sebelum meninggalkan puncak Bukit Nattisuk, saya menyempatkan diri menikmati pemandangan untuk terakhir kalinya. Pada saat itu saya menyadari bahwa perjalanan ini memberikan lebih dari sekadar pengalaman mendaki. Saya belajar bahwa keindahan suatu daerah tidak hanya terletak pada bentang alamnya, tetapi juga pada masyarakat yang menjaga, merawat, dan terus berupaya memperkenalkan daerah tersebut kepada dunia.
Melalui kegiatan Community Development, BINUS University tidak hanya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar di luar ruang kelas, tetapi juga membangun kolaborasi nyata bersama masyarakat. Bagi saya, Bukit Nattisuk menjadi bukti bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam, melainkan juga pada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan institusi pendidikan.
Saya berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal Bukit Nattisuk sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di kawasan Danau Toba. Lebih dari itu, saya berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam upaya mempromosikan potensi daerah Indonesia. Sebab, setiap langkah yang kami tempuh menuju puncak Bukit Nattisuk tidak hanya membawa kami pada sebuah panorama yang indah, tetapi juga pada pemahaman bahwa kolaborasi merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

