Oleh : Irena Velycia Lumbangaol – Mahasiswi Digital Business Binus@Medan
Ketika mendengar Danau Toba, kebanyakan orang biasanya akan langsung menghubungkannya dengan Pulau Samosir beserta segala destinasi wisata lainnya di sekitarnya. Tetapi ada juga Pulau Sibandang yang memiliki pesona tersendiri. Salah satu atraksi yang membuat saya penasaran bukanlah pemandangan dari danau tersebut, tetapi adanya sebuah kegiatan tradisional yang masih ada hingga kini di Desa Papande yaitu kegiatan menenun.
Suara tenunan tampak lembut saat saya masuk ke dalam sebuah rumah tenun di Desa Papande, Pulau Sibandang. Dalam sebuah ruangan yang sederhana, ada beberapa gulungan benang dengan berbagai warna yang telah disusun di atas mesin tenun tradisional. Ada seorang ibu yang duduk dengan santai sambil mengejar gerakan tangan yang pelan untuk menyusun benang-benang itu menjadi ulos. Melihat langsung proses ini membuat saya paham bahwa ulos itu bukan hanya kain biasa yang dijual sebagai oleh-oleh, tapi merupakan bukti dari kesabaran dan ketelitian.
Pengalaman tersebut memberi kesan yang berbeda dari sekedar melihat hasil karya ulos saja. Saya dapat melihat sendiri bagaimana setiap benang disusun secara teliti. Tidak ada alat bantu yang bisa memudahkan dalam prosesnya, tidak ada proses yang instan. Semuanya dilakukan secara manual dan membutuhkan waktu yang lama. Disini saya paham bahwa dibalik karya ulos yang indah tersimpan sebuah kisah tentang masyarakat yang masih melestarikan budayanya.
Tradisi Yang Masih Dijaga Bersama
Desa Papande adalah salah satu desa yang ada di pulau Sibandang dan telah menjaga tradisi menenun ulos sampai hari ini. Menenun bagi masyarakat sana bukanlah pekerjaan yang dikerjakan hanya sebagai cara untuk menghasilkan uang, melainkan tradisi yang turun-temurun dari para orang tua ke anak-anak mereka.
Menariknya, pekerjaan para penenun dari desa tersebut dilakukan secara berkelompok. Pekerjaan tenun dan penjualan ulos dilakukan secara berkelompok agar proses bisa berlangsung sekaligus. Salah satu kelompok yang saya temui adalah kelompok Simarheter yang memiliki 27 anggota. Ulos yang ditenun oleh seluruh anggota kelompok dikumpulkan di galeri yang menjadi pusat penjualan ulos. Saat masuk ke galeri tersebut, terdapat berbagai macam ulos yang disusun dengan rapi dalam berbagai warna dan pola di setiap pojokan ruangan. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat penjualan produk tangan kerja tersebut, namun juga menjadi suatu wadah bagi para wisatawan untuk mempelajari lebih dalam tentang proses dan cerita dibalik tiap ulos yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Papande.

Lebih Dari Sekedar Kerajinan Tangan
Kita semua sudah tahu bahwa ulos adalah kain tradisional yang dikenakan untuk berbagai acara pada masyarakat Batak. Tapi setelah mengetahui secara langsung bagaimana proses pembuatannya, saya menyadari bahwa makna sebenarnya dari ulos jauh melampaui fungsi tersebut. Setiap motif dibuat melalui proses yang lama. Benang dikombinasikan satu persatu sampai menjadi motif yang diinginkan. Kegagalan kecil pun bisa merusak motif yang dihasilkan. Dibutuhkan keahlian yang didapatkan setelah berpengalaman bertahun-tahun dan kesabaran yang tidak dimiliki semua orang. Seketika industri teksil berkembang dengan kapasitas memproduksi ribuan helai kain dalam durasi waktu yang singkat, penduduk Desa Papande tetap menetapkan pendekatan tradisional mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai ulos tidak saja terdapat pada hasil akhir, namun juga pada proses produksinya. Itulah mengapa tenunan Papande memiliki khas yang tak bisa ditiru mesin.

Potensi Yang Belum Dimanfaatkan Sepenuhnya
Selain menjadi warisan budaya, tenun Papande sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai produk kreatif sekaligus daya tarik wisata budaya di Pulau Sibandang. Hasil dari diskusi yang dilakukan tim dari Binus University bersama dengan pengelola galeri, diketahui bahwa kelompok penenun ternyata telah mempunyai Nomor Induk Berusaha (NIB). Ini merupakan indikasi bahwa mereka sudah mulai mengembangkan penenunan sebagai salah satu usaha. Hanya saja, sampai sekarang mereka belum mempunyai merek dagang bagi produk tenun Papande. Namun demikian, potensi untuk pengembangan produk pun cukup tinggi. Hasil dari tenunan yang dibuat dapat digunakan untuk membuat tas, pakaian, dompet, serta berbagai produk fashion lainnya. Namun, banyak dari anggota kelompok tersebut yang puas hanya sekedar menjual ulos dalam bentuk kain atau selendang. Karena itu, pengembangan produk pun belum bisa optimal. Ironisnya, banyak pembeli malah membawa ulos dari Papande keluar dari kawasan itu dan dimanfaatkan lagi untuk membuat suatu produk dengan nilai jual lebih tinggi. Ini menandakan bahwa hasil tenunan Papande sebenarnya sudah cukup berkualitas. Bagian yang harus ditingkatkan adalah cara agar masyarakat bisa mendapatkan keuntungan dari hasil produksi mereka sendiri.
Tantangan Yang Dihadapi Di Era Digital
Ternyata perkembangan teknologi ini justru membuka peluang baru bagi mereka-mereka yang bergerak di UMKM untuk mempromosikan produk mereka di pasar yang lebih luas. Hal ini juga sudah dilihat oleh kelompok penenun dari Desa Papande. Kelompok penenun ini memiliki niatan untuk menggunakan media sosial dalam bentuk promosi mereka, hingga mencoba live streaming melalui TikTok. Tetapi harapan itu belum dapat terwujud dengan maksimal karena keterbatasan jaringan internet di desa. Ini jadi tantangan tersendiri bagi mereka dalam mengikuti perkembangan marketing online yang semakin berkembang saat ini. Namun pada sisi lain, adanya galeri tenun itu sendiri sudah merupakan upaya pertama yang sangat baik. Bukan hanya berbelanja ulos saja, tapi wisatawan pun bisa melihat langsung proses pembuatan dan berkomunikasi langsung dengan para penenun. Hal seperti ini memberikan sebuah nilai lebih dari produk biasa yang dibeli melalui toko atau marketplace.
Menjaga Tradisi, Membangun Masa Depan
Menurut pendapat saya, yang menjadi keunggulan paling besar tentang Desa Papande tidak hanya berupa keindahan ulos yang dihasilkan oleh desa tersebut. Namun, yang lebih unggul adalah karena meskipun sudah berubahnya zaman, masyarakat mereka tetap bertahan dengan menenun ulos. Mereka membuktikan bahwa budaya tidak perlu mati dan menjadi sejarah.
Namun, tetap melestarikan budaya saja tidaklah cukup. Untuk membuat tenun Papande menjadi berkembang lebih jauh, dibutuhkan kerja keras dalam mengembangkan ide tanpa mengurangi nilai budaya yang telah warisan. Pengembangan produk, pembuatan brand identitas, peningkatan pemasaran, dan juga dukungan infrastruktur adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempopulerkan tenun di desa Papande. Pada akhirnya, mengunjungi Desa Papande membuat saya memperoleh pemahaman bahwa satul embar ulos tidak hanya mengandung unsur kecantikan pola, namun juga berisi kisah tentang usaha, ketekunan, dan identitas sebuah masyarakat yang tetap ada sampai sekarang. Dengan tradisi yang tetap dipertahankan dan diturunkan kepada generasi selanjutnya, ulos Papande pasti akan tetap menjadi kebanggan Pulau Sibandang.

