5 Desember 2025, telah dilaksanakan seminar bertajuk “Peran Bahasa Indonesia dalam Membangun Kesadaran Nasionalisme di Era Digital” yang menghadirkan narasumber Rachmad Fadillah Maha, S.S., M.Si. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan nilai kebangsaan di tengah derasnya arus komunikasi digital dan media sosial.

Dalam pemaparannya, Narasumber menegaskan bahwa Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas dan perekat bangsa. Sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda tahun 1928, Bahasa Indonesia telah berperan penting dalam menyatukan masyarakat Indonesia yang memiliki ratusan bahasa daerah.

“Bahasa Indonesia adalah wajah bangsa. Ia tidak hanya hidup di ruang formal, tetapi juga harus dijaga martabatnya di ruang digital,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti posisi strategis Bahasa Indonesia yang kini semakin diakui secara global, termasuk digunakan di berbagai forum internasional dan dipelajari di puluhan negara. Hal ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia memiliki nilai kebanggaan sekaligus tanggung jawab untuk terus dijaga penggunaannya.

Namun demikian, perkembangan media sosial membawa tantangan tersendiri dalam penggunaan bahasa. Fenomena seperti campur kode antara Bahasa Indonesia dan bahasa asing, penggunaan bahasa gaul berlebihan, serta penyingkatan kata secara ekstrem menjadi tren yang semakin umum di kalangan generasi muda.

“Penggunaan bahasa yang tidak tepat di ruang digital dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berbahasa formal, terutama di kalangan mahasiswa,” jelasnya.

Berdasarkan temuan riset yang disampaikan, intensitas penggunaan bahasa gaul di media sosial terbukti memengaruhi kemampuan mahasiswa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, khususnya dalam aspek ejaan dan struktur kalimat.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena komunikasi digital yang cenderung mengabaikan kesantunan, seperti munculnya ujaran kebencian, komentar negatif, hingga perundungan siber yang berawal dari penggunaan bahasa yang tidak bijak.

Dalam seminar tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami pentingnya literasi kebahasaan di era digital, yang mencakup kemampuan menggunakan bahasa secara tepat sesuai konteks, baik formal maupun informal.

Sebagai langkah strategis, narasumber menyampaikan beberapa prinsip utama dalam menjaga kualitas berbahasa di era digital, antara lain:

  • Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam konteks akademik dan formal
  • Mengutamakan padanan kata dalam Bahasa Indonesia
  • Menggunakan bahasa asing secara proporsional
  • Menjaga etika dan kesantunan dalam berkomunikasi digital
  • Menyaring informasi sebelum menyebarkannya

Seminar juga menghadirkan studi kasus terkait interaksi di media sosial yang berujung pada konflik akibat penggunaan bahasa yang tidak tepat. Hal ini menjadi refleksi penting bagi mahasiswa untuk lebih bijak dalam berkomunikasi di ruang digital.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi yang melibatkan mahasiswa dalam menganalisis fenomena kebahasaan di media sosial serta merumuskan solusi untuk menjaga kualitas komunikasi digital yang sehat dan beradab.

Sebagai penutup, narasumber menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga eksistensi Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional.

“Di era digital, nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi juga melalui cara kita berbahasa setiap hari,” tutupnya.

Melalui kegiatan ini, Character Building Developmen Center BINUS @Medan berkomitmen untuk terus mendorong penguatan literasi bahasa dan nilai nasionalisme di kalangan mahasiswa sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa di era transformasi digital.